Rindrianie's Blog

Hari Kamis yang berasa Jum’at

Tadi pagi, seorang sahabat menuliskan “Hari Kamis yang berasa Jum’at” dalam status YM-nya.  Saya tertawa membacanya, lantas menyadari dan mengakui, bahwa banyak hari kamis-hari kamis yang telah terlewati, juga terasa bagaikan hari Jum’at bagi saya. Dengan asumsi sebentar lagi Weekend, dan kesibukan perlahan mereda.

Entah kenapa hari Jum’at seolah menjadi  ‘sakral’, hari yang sepertinya ditunggu-tunggu para pekerja sedunia (ugh…lebay deh :D)

Intinya, entah kenapa saat itu saya berpikir rasanya itu terlalu berlebihan. Kenapa harus ada istilah “I hate Monday” dan “Thanks God it’s Friday” segala ya? Bukankah setiap hari adalah berkah? Entah itu hari Senin, Jum’at dan atau hari lainnya.  Mereka memiliki 24 jam yang sama berharganya. Mereka berisi rahmat yang sama nilainya. Mereka adalah hari yang sama sekaligus berbeda, namun tetap istimewa. Dan bukankah tanpa hari kamis yang terasa bagai hari Jum’at ini, hari Jum’at yang sesungguhnya tidak mungkin datang?

Teringat nasehat Master Shifu saat berpesan pada Po, sang Kungfu Panda, bahwa “Today is present”, sehingga rasanya tidak pernah berlebihan jika saya menganggap bahwa hari ini -hari apapun itu- adalah ‘hadiah’ dari Tuhan, hadiah terbaik yang tak patut disiakan, hadiah terindah yang pantas disyukuri, hadiah terbaik untuk hidup sepenuhnya.

Cakung, 11 Februari 2010

0 Comments

  1. Indri Indraswari

    Today is Present…deal Rin coz gak ada satu haripun yang sama 🙂
    hadirkan yang terbaik dalam keharian

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Sepakaaattt… Hatur nuhun Teh.

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: