Rindrianie's Blog

Hari Pertama Qy

Qy terengah. Entah apa yang sudah dilakukannya sebelum ini, tapi Qy merasa lelah luar biasa. Hanya setelah dua langkah, dia ambruk ke tanah. Ralat, di bawahnya bukan tanah coklat seperti seharusnya, tapi butiran-butiran pasir berwarna abu. Bertumpu pada lututnya yang nyaris tak bertenaga, Qy mencoba duduk, tangannya menyentuh pasir abu yang terasa hangat. Menatap ke sekelilingnya yang begitu asing, Qy gentar, lantas memeluk lutut sedikit takut. Dimana aku? Qy bertanya entah pada siapa.

Sejauh mata memandang, yang dilihatnya hanyalah hamparan pasir belaka. Melihat ke arah manapun, pasir berwarna keabuan itulah yang dilihatnya, yang seperti menyatu dengan langit bersemu keunguan di atasnya. Qy mencari-cari jejak kakinya beberapa saat lalu, sudah hilang sempurna. Kini, bahkan dia tidak tahu, dari mana tadi dia datang, dan hendak ke mana lagi kakinya akan diajak melangkah.

Kenyataan ini membuat Qy mulai menduga, bahwa dia sedang berada di sebuah tempat yang dulu sekali bernama samudera. Tapi Qy tidak bisa membayangkan seperti apa rupa samudera jika dia belum pernah melihatnya sama sekali, maka dia menepis dugaannya sendiri. Lagipula, menurut legenda samudera berisi banyak ikan dan binatang-binatang laut lainnya, dan di tempatnya duduk sekarang, tak ada sesuatu yang menyerupai hal semacam itu. Bahkan….

“Lihat, Kak! Sepertinya manusia baru itu bingung.” Sebuah suara memotong lamunan Qy, sayup, suara itu begitu jauh, seperti berasal dari masa lalu. Lantas detik berikutnya derai tawa menggema. Terdengar begitu mengintimidasi Qy, suara itu membuatnya jeri.

Qy berupaya mengingat, apa yang sedang dilakukannya sebelum berada di hamparan pasir berwarna abu ini, tapi nihil, ingatannya seperti kosong, tak ada memori apapun di sana yang bisa Qy temukan.

“Kita adu dengan yang mana? Yang botak ini? Atau yang keriting?” Suara lain terdengar di atas sana, berseru gembira saat tawa-tawa itu mereda. Qy menengadah, berpikir dari mana suara-suara itu berasal.

“Yang botak saja,” jawab Si Suara Pertama. Tak lama langit keunguan di atas Qy bergerak, membawa selarik cahaya yang membuat Qy menunduuk melindungi matanya. Lantas seorang lelaki berkepala botak meluncur jatuh.

Tubuhnya menimbulkan debum kecil saat mendarat di pasir tak jauh dari Qy. Lelaki itu mendengus, seperti kesal, dan langsung berdiri menepis butiran pasir dari bajunya yang berbercak merah kecoklatan. Tangan dan kakinya bertabur luka, bahkan mata kirinya lebam, biru kehijau-hijauan.

“Kau terluka?” tanya Qy pada si lelaki botak. Bercak di bajunya terlihat seperti noda darah yang sudah lama mengering di mata Qy.

“Siapa namamu?” Pertanyaan Qy malah dijawab Si Lelaki Botak dengan pertanyaan lain. Matanya menatap Qy lurus.

“Qy,” jawab Qy pendek. Mengamati lelaki botak penuh luka di depannya. Menduga-duga bagaimana lelaki botak itu muncul seperti jatuh begitu saja dari langit, setelah suara yang tak terlihat itu mengatakan ‘yang botak saja’?

“Aku Xa,” jelas lelaki itu. “Dan sepertinya kau baru saja menetas, Qy.” Lantas Xa menyalami Qy, bahkan tak lama kemudian memeluk Qy erat, ujung matanya berembun, sesungging senyum terbit di bibirnya yang kering.

“Selalu menyenangkan bertemu manusia yang baru menetas,” ujar Xa lagi. Membuat dahi Qy mengernyit. Tidak bisa percaya apa yang baru didengarnya dari Xa barusan. Menetas? Bagaimana mungkin! Xa malah terbahak melihat tampang Qy yang pasti menurutnya sungguh lucu.

“Ma-maksudmu, aku berasal dari…sebutir telur?” tanya Qy sangsi, semuanya masih serba membingungkan, dan Qy akan marah jika Xa hanya sedang menggodanya.

“Begitulah.” Jawaban santai Xa tidak membuat Qy tenang. Qy tahu dia adalah manusia, seperti juga Xa Si Lelaki Botak yang penuh luka di depannya. Tapi sejak kapan manusia bertelur?

“Kita dimana?” Menyerah atas perkara manusia yang berasal dari telur, Qy beralih ke pertanyaan lain.

“Di dalam kotak mainan dua pohon beringin itu,” jawab Xa, dagunya menunjuk ke atas, ke arah langit ungu tempat tadi dia terjatuh. Kotak mainan?! Teka teki ini semakin membingungkan Qy.

“Jadi? Suara-suara yang kudengar tadi…”

“Suara dua batang pohon beringin yang memelihara telur kita hingga menetas.” Xa menyelesaikan kalimat Qy. Seharusnya penjelasan itu membuat Qy paham, tapi nyatanya, Qy semakin tidak mengerti.

Xa menghela napas, tahu bahwa Qy yang baru menetas belum bisa mengerti apa-apa. “Bumi tempat nenek moyang kita dulu hidup sudah musnah, Qy.”

“Hah? Kapan?”

“Entahlah, mungkin ribuan tahun lalu, aku tidak tahu persisnya. Aku pun hanya mendapat cerita-cerita dari petarung-petarung senior sebelum aku.”

Qy masih mengernyitkan keningnya. Merasa aneh mendengar penjelasan Xa yang sangat tidak masuk akal. Tapi dia sendiri tidak memiliki jawaban yang lebih logis untuk pertanyaannya sendiri. Qy tidak punya ingatan apapun, sekaligus tahu bahwa apa yang dikatakan Xa tidaklah seharusnya begitu.

“Leluhur kita terlalu tamak, Qy. Mereka mengeruk bumi tempat berpijak dengan semena-mena, mengotorinya dengan limbah, merusak dan menghancurkan bumi perlahan.”

Qy masih geming, menatap kosong pada Xa yang sedang mondar mandir di depannya menjelaskan.

“Konon, semuanya berakhir saat leluhur kita membakar hutan, bahkan samudera sampai mengering, menjadikan bumi hangus seluruhnya. Hal itu membuat pohon-pohon yang tersisa akhirnya melakukan pembalasan yang mengubah segalanya, mereka pergi dari bumi yang perlahan-lahan mengeropos dan menguap.

Qy menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin bumi bisa menguap di jagat raya hanya karena manusia membakar hutan? Blah! Xa sepertinya sedang mendongeng.

“Dan di sinilah kita berada sekarang, Qy, di negeri para pepohonan, planet yang tidak mungkin kita jelajahi, karena takdir kita di sini adalah sebagai makhluk tak berdaya yang dijadikan sebagai mainan penghibur.”

Dahi Qy kembali mengernyit, cerita Xa terlalu absurd untuk bisa dipercayai.

“Manusia sudah punah, Qy. Para ilmuwan pepohonan hanya mengambil contoh DNA dari leluhur kita, menciptakan telur-telur manusia yang akan menetas setelah beberapa saat, untuk kemudian mati setelah dipaksa bertarung beberapa hari.”

Qy mendongak, “bertarung?” tanyanya terkejut.

“Ya, mereka menjatuhkanku di sini untuk bertarung denganmu, Qy.”

“Tapi aku tidak ingin bertarung denganmu, Xa.”

“Kau tak punya pilihan. Kau boleh saja menolak bertarung denganku, tapi nanti akan ada petarung lain yang datang untukmu. Melihat kita bertarung adalah hiburan yang menyenangkan buat mereka.”

“Tapi…”

“Membunuh sebelum dibunuh, sesederhana itu, Qy.”

Qy menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak setuju meski tidak tahu apa yang harus dilakukannya, selain bertarung melawan Xa yang sudah penuh luka dimana-mana.

“Kak, kenapa mereka diam saja?” Suara tak terlihat itu terdengar lagi. Qy mengenalinya sebagai Si Suara Pertama. Apakah Xa benar? Mereka -suara-suara di atas sana itu- ingin melihat mereka berdua bertarung? Qy ingin protes, kalau leluhurnya yang telah berbuat jahat pada kaum pepohonan di bumi dulu, kenapa dendam mereka diwariskan pada Qy dan Xa yang bahkan menetas dari sebutir telur? Tidak adil!

“Qy, kau pasti bisa membunuhku. Toh kau memang masih muda, tenagaku sudah banyak terpakai bertarung dan akan segera habis, sementara kekuatanmu masih sempurna,” ujar Xa seraya mengepalkan kedua tangannya, kakinya sudah memasang kuda-kuda sempurna.

Qy terpana memandang Xa yang kini telah berubah bak petarung tangguh yang berdiri tegak di depannya. Instingnya menyuruh Qy melakukan hal yang sama, bersiap diri menerima serangan Xa di depannya. Masih banyak yang belum Qy mengerti, maka dia belum bisa mati.

Sayup, kedua suara kasat mata di atas mereka, yang terdengar begitu jauh bagai berasal dari jutaan tahun cahaya, berseru berteriak gembira menonton Xa yang mulai menyerang Qy.

Ini hari pertama Qy, Xa yang akan mati.

***

Note : 1131 kata, untuk #30DaysSaveEarth

0 Comments

  1. 'Ne

    membaca ceritanya langsung inget film Hunger Games hehe.. Teteh pinter emang kalau bikin cerita.. sukses kontesnya ya Teh 😀

    Reply
  2. danirachmat

    Planet of the trees. Merinding euy mbayanginnyaaa. Bagus Rin. Sukses yaaa.

    Reply
  3. nurlailazahra

    duuhhh temanya bagus pisan, Tehhh… di luar dugaan. baguslah pokoknya….

    Reply
  4. titi esti

    Oriiiiin… aku tambah kagum, kok keidean siiih… atuh bikin novel fiksi fantasi kayak gini atuh, biar puas bacanya gitu lhoo

    Reply
  5. bukanbocahbiasa

    Kalau buat kontes, yakiiiin banget teh Orin yang JUARA!

    Reply
  6. joeyz14

    Jadi inget hunger games…
    Tapi ini idenya kok keren amat sihh!
    Thumbs up!

    Reply
  7. jampang

    balas dendam

    Reply
  8. Chrismana"bee"

    Imajinasi teh orin emang te o pe be ge te 😀
    kapan ya saya bisa 😀

    Reply
  9. dian farida

    Bagus mba =)

    Reply
  10. myra anastasia

    saya juga sempet inget hunger games pas acanya. Tapi, seetulnya beda. Mungkin karena ada cerita bertarungnya ya jadi inget hunger games 🙂

    Reply
  11. Ayu

    ijin nuyimak aja dulu deh bu, karna baru pertama berkunjung kemari, salam

    Reply
    1. Ayu

      maksudnya nyimak ^_^

      Reply
  12. Riri

    wah ibu yang satu ini benar benar keren deh kalau buat cerita

    Reply
  13. Hosting murah

    nice… is good

    Reply
  14. Pingback: Semacam Kaleidoskop Fiksi 2014 | Rindrianie's Blog

Leave a Reply

%d bloggers like this: