Rindrianie's Blog

Hijrah

Selamat tahun baru Islam 1432 Hijriah, semoga kita lebih beriman di tahun yang baru… demikian (kurang lebih) sms-sms yang saya terima kemarin dari beberapa teman. Tidak terasa ya, ‘jatah’ kita hidup telah semakin mendekati garis akhirnya.

Saya tidak ingin ‘ikut-ikutan’ membicarakan perbedaan pendapat saudara-saudara seiman tentang amalan 1 Muharram ini. Mengenai shahih atau tidaknya hadits yang menyarankan untuk berdoa akhir dan awal tahun, atau tentang perlu atau tidaknya perayaan khusus -seperti mabit, dzikir akbar atau sebagainya- dalam rangka tahun baru islam, atau berkaitan dengan puasa 10 hari di bulan Muharram ini. Saya pikir, mereka-mereka yang memilih melakukan amalan tersebut memiliki pemikiran-pertimbangan-keyakinan tersendiri,persis sama dengan beliau-beliau yang memilih untuk tidak melaksanakan. Peace aja lah ya he he.

Dari berbagai sumber yang saya baca, hijrah dalam bahasa Arab bisa diartikan sebagai pindah atau bermigrasi, dalam hal ini berpindahnya Nabi Muhammad dan pengikut setianya dari Mekah yang sudah tidak aman bagi beliau, ke Yatsrib (sekarang lebih dikenal sebagai Madinah), sebuah kota subur berjarak 400 kilometer dari Makkah. Dan kepindahan inilah yang dianggap sebagai titik tolak perhitungan kalender Islam, dan di kota subur ini jugalah perkembangan Islam yang hebat berawal. Dan yang ingin saya coba maknai adalah, bagaimana semangat hijrah Rasululloh ini diaplikasikan ke dalam kehidupan kita sekarang ini.

Apakah ‘hijrah’ harus selalu dengan membuat daftar resolusi apa-kapan-bagaimana impian dan cita-cita di tahun yang baru? Atau ‘hijrah’ itu pasti identik dengan berpindahnya tempat tinggal (atau kantor)? Rasanya tidak harus begitu ya.

Saya pikir, resolusi sepanjang apapun tidaklah ada gunanya jika tanpa tindakan yang nyata, rencana-rencana saya itu tetaplah akan menjadi rencana belaka, tidak akan pernah berubah menjadi kesuksesan yang sesungguhnya. Atau, sejauh apapun saya berpindah tempat, bukankah logis jika harapan hidup yang saya mimpikan -di tempat baru tersebutp tidak mungkin tercapai jika saya masih saja membawa kualitas diri saya yang sama seperti di tempat lama dulu?

Mungkin, ‘hijrah’ yang bisa saya coba lakukan adalah dengan memperbaiki diri terus menerus, melakukan amalan-amalan kecil (setelah selalu menyempurnakan yang ‘besar’ tentunya) secara perlahan tapi berkelanjutan, dan menghindarkan diri dari keburukan-kesalahan-kelalaian di tahun sebelumnya. Sehingga hari-hari berikutnya saya mampu dan pantas bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik, hamba yang menjadi kecintaan Beliau Yang Maha Segala.

Amin ya Robbal’alamiiinn…

Leave a Reply

%d bloggers like this: