Rindrianie's Blog

Indah

Parasnya memang secantik namanya. Indah. Mungkin nama lengkapnya lebih indah lagi, sayang, hanya satu kata itu sajalah yang tercetak di bordiran kecil yang tersemat di atas saku kiri seragamnya.

“Ada tambahan lain, Pak?” tanyanya membuatku sedikit tergeragap. Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Panggilan ‘Pak’ itu selalu membuatku merasa terlalu tua untuk tertarik pada gadis muda sepertinya. Padahal usiaku baru 30, paling terpaut beberapa tahun darinya. Tapi aku bisa apa? Tak mungkin memintanya memanggilku ‘mas’, bukan?

“Baik, saya ulangi pesanannya ya, Pak. Satu peppermint tea dan satu brownies almond.” Matanya menatapku, meminta konfirmasi. Maka aku hanya mengangguk cepat. Dia tersenyum, manis, dan segera beranjak menyiapkan pesananku.

Café ini sering aku datangi saat merasa bosan dengan pekerjaan kantor dan atau enggan makan siang. Tapi baru sebulan ini aku mengenalnya, maksudku, dilayani oleh Indah, si gadis dengan senyuman manis yang membuatku semakin sering merasa bosan.

Sebetulnya cukup aneh karena tidak biasanya aku memerhatikan sekitarku -apalagi ‘sekadar’ pelayan- seperti ini. Maka jangan salahkan aku jika aku merasa tuan Cupid memanahkan busurnya padaku, hingga aku tiba-tiba saja tertarik pada si gadis berparas cantik yang ternyata bernama Indah.

“Silakan, Pak.” Ah, Indah sudah mengantarkan pesananku.

“Boleh saya bertanya sesuatu?” tanyaku, tak tahu malu, Indah menatapku, lantas mengangguk ragu beberapa detik setelahnya. Yang kemudian membuatku sadar, apa yang akan aku tanyakan?

“Mmm…mbak namanya Indah, ya?” Pertanyaan terbodoh se-mayapada raya! Gadis itu mengangguk, seraya tak bisa menyembunyikan senyum yang susah payah dia tahan.

“Sudah lama bekerja di sini?” Oke, pertanyaan kali ini sedikit bermutu.

“Kurang lebih satu bulan,” jawabnya cepat. Dan mulai terlihat gelisah. Ah, mungkin dia tidak diperbolehkan berbincang seperti ini dengan pelanggan.

“Boleh saya minta nomor telepon mbak Indah?” tanyaku, lancang.

“Maaf Pak, saya sudah punya pacar,” ujarnya dan segera berlalu dari hadapanku.

Hah? Sialan. Aku bahkan ditolak sebelum sempat menyatakan cinta.

***

Bersambung ke cerita yang ini.

0 Comments

  1. Elang

    keren!!!

    Reply
  2. opiphost

    sangat mengenaskan ya teh 🙂

    Reply
  3. titi esti

    Kejaaaaam… hahaha.
    Keliatan bangrt itu muka jatuh cintanya kali ya…

    Reply
  4. Pingback: Mendua | Rindrianie's Blog

  5. Gusti 'ajo' Ramli

    ahh… sungguh indah sekali penolakan si Indah.. hehe

    Reply
  6. jiah al jafara

    Hadeh, gubrak!

    Reply
  7. Indah

    *batuk-batuk* Indahnya keluar.
    Hahhaha kasian ih belum apa-apa ditolak. :)))

    Reply
  8. jampang

    langsung menukik…. menusuk

    Reply
  9. Baginda Ratu

    Kan baru pacar… belum suami… ihikkk.. 😆

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: