Rindrianie's Blog

Jaket

Saya pecinta jaket dan semua varian-nya -seperti sweater atau cardigan- dari berbagai bahan, beragam model, bermacam warna, dan berjenis ketebalan. Alasannya adalah saya memang tidak kuat terhadap hawa dingin, bahkan saat orang-orang lain kepanasan, saya bisa saja merasa kedinginan, mungkin memang suhu tubuh saya lebih rendah, atau apalah, saya tidak pernah menyelidikinya secara khusus. Yang jelas, karena kondisi saya yang seringkali kedinginan itu lah, sejak kecil saya punya banyak jaket.

ZamanΒ  SD dulu, saat musim hujan saya sering memakai sweater berbahan rajutan ke sekolah, yang akan dikomentari macam-macam oleh teman-teman saya yang memang orang kampung (bukan kampungan lho ya, atau mungkin sama? he he), entah itu pertanyaan apakah saya sedang sakit, atau komentar pedas seperti “pamer deh!” πŸ˜€Β  Intinya -bagi mereka- saya adalah anak yang cukup aneh karena memakai jaket ke sekolah. Ya..ya.. pemikiran yang aneh memang hahah.

Begitulah seterusnya, banyak sekali jaket yang saya miliki dari tiap fase kehidupan saya hingga sekarang, mungkin bisa dibilang saya kolektor jaket. Bahkan misua tercinta itu terkadang geleng-geleng kepala saat saya mengatakan sangat perlu beli jaket baru dengan warna yang matching dengan si kupi motor saya, dan mengatakan kami bisa membuat butik jaket sendiri. Berlebihan lah tentunya ya, karena jumlahnya tidak sebanyak itu, mmm…jaket saya mungkin baru sekitar 12 buah saja. Apa? sudah banyak yah? hihihihi..

Nah, karena memiliki banyak jaket dengan beragam jenis ini lah, banyak sekali teman-teman saya yang meminjam jaket-jaket tertentu untuk kebutuhan tertentu atau acara tertentu. Zaman SMA dulu, seorang teman sekamar saya di asrama meminjam sweater saya untuk acara study tour-nya ke Bali, karena dinilai sweater itu lah yang paling cocok dipakai olehnya. Pergilah si sweater bersama teman saya mengarungi Bali. Sekian jam perjalanan dengan bis dari Cirebon ke berbagai tempat di Bali, ikut naik kapal feri menyebrang selat Bali, berjumpa dengan banyak bule (mungkin?), berwisata ke Kuta-Tanah lot-Jimbaran dan entah kemana lagi.

Hal ini selanjutnya menjadi bahan ejekan teman -teman lain terhadap saya, karena yang punya jaket ‘keduluan’ sama jaketnya sendiri pergi ke Bali hehehe. Mungkin lebay ya, tapi saya merasa ‘iri’ terhadap sweater saya itu, dan bercita-cita akan mengalahkan dia, untuk juga bisa pergi ke Bali. Walaupun pada saat saya betul-betul berkesempatan pergi ke Bali bertahun kemudian setelahnya, saya tidak memakai sweater itu. Tetapi setiap saya memakai sweater tersebut sekarang ini, selalu mengingatkan saya pada kenangan sang teman yang meminjam sweater, Bali, dan impian saya yang telah mewujud.

Kejadian itu terulang kembali baru-baru ini. Seorang sahabat meminjam jaket yang saya pakai dalam foto di samping ini, untuk liburan akhir tahunnya ke Tokyo, karena disana sedang musim dingin yang teramat. Maka terbanglah sang jaket ke Jepang tanpa pemiliknya, merasakan berjalan-jalan di Harajuku, melihat-lihat Disneyland & Tokyo tower, berkunjung ke kuil Sensouji dan mencoba omikuji, pun bertatapan langsung dengan patung Hachiko, anjing setia yang terkenal itu.

Yup, saya kembali memiliki rasa ‘iri’ yang sama atas keberuntungan jaket saya itu. Lagi, saya dikalahkan. Tetapi, itu membuat impian saya untuk pergi ke Jepang semakin meletup, dan kali ini saya tidak akan lupa membawa sang jaket ikut serta, jika mimpi itu mewujud suatu saat nanti. Amiiiiinnn…

Doakan yaa… πŸ™‚

 

 

0 Comments

  1. ilmaffectional

    oriiiinnn… hahahaha…

    nuhun pisannn yaaa jaketnyaaa, hehehe… amin amiiiin, didoakeun pisan bisa ikut melanglangbuana beserta jaket kesayangan, mudah2an besok2 gak keduluan sama jaketnya yaaa πŸ˜€

    amiiiiin πŸ˜€

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: