Rindrianie's Blog

Jatuh Cinta

Hari ini aku telah jatuh cinta

Ah, ini lagu favoritku. Marini berseru seraya menambah volume radio di mobilnya. Perjalanan Pancoran-BSD malam ini akan sangat menyenangkan karena lagu ini. Ucap Marini riang.

Tak kan mampu aku menyangkalnya
Jatuh cinta kepadamu
Sosok yang sering menjengkelkan aku
Sering menggangguku

Aduuuuhh….kok gue banget siiih, pekik Marini tersipu sendiri. Rasanya, jika saja si dokter Tompi itu ada di depannya, dia akan mencium, memeluk, mencubit gemas, bahkan mungkin Marini akan berteriak-teriak seperti para abege labil yang berjumpa celebrity itu. Ugh, absurd. But yes, I am falling in love! Marini tak peduli lagi apapun.

Kau permainkan rasa hatiku
Namun kini aku berbalik
Jatuh cinta dan bernyanyi

La la la la…. Marini ikut bernyanyi, bernyanyi dengan sepenuh jiwa, dengan seluruh raga, dengan segala rasa, dengan semua cinta, apapun yang dia miliki. La la la.. Bahkan dia tidak malu jika saja suara nyanyiannya itu terdengar hingga ke luar mobil. “Betapa jatuh cinta itu membahagiakan”, desis Marini malu.

Aku jatuh cinta kepada dirimu
Orang yang tak pernah ku bayangkan
Tak pernah ku mimpikan
Untuk bisa menjadi pacarku

Marini memutuskan lagu itu sebagai ‘theme song’ hidupnya. Kenapa? Karena dia telah mencintai partner sekaligus rivalnya di kantor! Seorang lelaki yang sangat dibencinya hingga ke tulang sumsum, karena telah berhasil menduduki posisi yang diincarnya bertahun-tahun sebagai manager divisi.  Seorang lelaki yang tak pernah sedetik pun dia sukai sebagai sesosok manusia karena berbagai hal yang tak sanggup lagi dia rinci satu per satu. Lelaki romantis yang entah bagaimana telah menjadikannya kini bak seorang ratu yang dipuja dan dicinta. Lelaki itu.. Sebuah notifikasi sms menyapa “Drive safely, Honey. Miss you already”. Sms dari lelaki itu! Lelaki yang telah membuatnya gila, karena telah meng-gila-i dirinya dengan sangat.

Malam ini aku berniat
Untuk mengatakan rasa cintaku
Semoga tanganku berjodoh
Untuk bertepuk dengan cintamu
Jadi pacarku… jadi pacarku

“Aku pacarmu, Cinta!” Seru Marini riang dalam kesendirian.  Mengingat kembali makan malam romantis yang baru saja mereka lalui. Marini masih bisa membaui steak yang mereka pesan, pun indahnya liukan nyala lilin yang remang menyaksikan kegilaan mereka.

Marini menikmati kegilaan para pecinta seperti dirinya. Kegilaan yang membuatnya begitu menantikan mentari pagi dan pergi ke kantor, karena akan berjumpa dengannya. Kegilaan yang menjadikannya workaholic jauh melebihi sebelum-sebelumnya, untuk dan demi bersamanya. Kegilaan yang mampu mengubah dirinya menjadi seseorang yang sama sekali baru, hanya karena dirinya. Kegilaan yang memabukkan.

Untuk beberapa saat suara Tompi itu masih terdengar, hingga senyap terkalahkan pikiran Marini yang berdiskusi, berargumen, bahkan berpuisi. Hingga Marini tersenyum sendiri.

Jalanan komplek menuju rumahnya mulai tampak, begitu lengang, tetapi justru membuat otak dan hatinya ramai.

Klakson mobilnya membangunkan Pak Ming -satpam rumah mereka- yang tergopoh membuka pintu pagar, dan juga putri kecilnya -Quinn, yang lucu menggemaskan itu- yang membuka tirai mengintip keluar, lantas terpekik gembira saat Marini melambaikan tangannya. Suaminya sendiri yang membukakan pintu depan dan memeluknya hangat, yang telah menerbangkan khayalan liar Marini terhadap lelaki -yang membuatnya gila karena menggilainya- itu, yang juga mungkin telah tiba di rumahnya, disambut dengan senyuman cinta sang istri dan anak-anaknya.

“Ouch, I am a wife. I am a Mom.” Nurani Marini berbicara. Mengaburkan lelaki itu dalam bayangannya.

If it isn’t crazy, it is not love, begitu kata orang. But, Am I a crazy lover? Aaarrghh…. Marini menyenandungkan lagu Tompi itu berulang-ulang di kepalanya. Dan tetap tak mampu menamai realitas yang tengah dihadapinya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: