Rindrianie's Blog

[Berani Cerita #23] Kasih

Pekikan anak-anak kecil yang sedang saling berteriak gembira di halaman belakang terdengar hingga ke tempatku, sebuah ruang tamu kecil bergaya klasik bernuansa putih dan coklat, dengan furniture rotan dan bunga-bunga segar di hampir setiap sudut. Bisa aku lihat di benakku, anak-anak itu berlarian berkejaran, bermain petak umpet atau entah apa, seperti melupakan hidup telah berlaku tak adil pada mereka, bahwa mereka selalu tidak apa-apa dan baik-baik saja. Aku tahu dan mengerti rasa yang seperti itu, walaupun masa-masa itu telah lama berlalu.

“Maaf ya, Mbak. Lama menunggu.” Seorang wanita anggun melangkah masuk, aku berdiri dan menjabat tangannya. Rambut kelabunya yang digelung berhias bunga entah apa menarik perhatianku. Wanita ini betul-betul penyuka bunga rupanya.

“Tidak apa-apa, Bu. Saya berterima kasih Ibu sudah bersedia menerima saya di tengah kesibukan Ibu..”

“Panti Asuhan kecil kami terkadang memerlukan sedikit publikasi seperti ini, Mbak.” pipi kirinya berdekik saat dia tersenyum, cantik. Dekik itu mengingatkanku pada seseorang, entah siapa.

“Jadi panti ini Ibu namai sesuai dengan nama Ibu, begitu?” pertanyaan pertamaku,Β recorderΒ sudah menyala, bersiap mencatat. Wanita di depanku tergelak, suara tawanya renyah, membuatku segera tertular untuk ikut tertawa bersamanya, walaupun aku belum mengerti apa yang kami tertawakan.

“Itu ide almarhum suami saya, Mbak. Dia bilang gini, namamu cantik, secantik wajah dan hatimu,” ujarnya tersipu, pipinya sedikit merona, “jadi kalau nama Panti Asuhan ini ‘Kasih’, mudah-mudahan anak-anak kurang beruntung yang ada di sini kelak, juga tetap menjadi invidu secantik dirimu. Begitu katanya Mbak.” jelas wanita ini panjang lebar. Terlihat jelas dia begitu mencintai mendiang suaminya. Aku mengangguk-angguk mengerti.

Wawancara terus berlanjut, pertanyaan-pertanyaan yang aku persiapkan terjawab dengan baik. Wanita ini begitu hangat, dan dekik di pipi kirinya semakin membuatku akrab, seolah aku telah mengenal wanita paruh baya ini sejak lama. Wanita ini perempuan setia, wanita ini penyayang anak-anak, wanita ini dermawan, wanita ini jelita jiwa raga, wanita ini nyaris sempurna. Dan entah kenapa aku merasa perlu mencari dosa masa lalunya, sedikit noda saja, yang bisa membuat pembaca artikelku tentang wanita ini mengerti, bahwa dia hanyalah manusia biasa.

“Pertanyaan terakhir ya, Bu,” dia mengangguk, dekik di pipi kirinya ikut tersenyum, “apakah ada satu hal yang Ibu sesali? Sebuah kesalahan yang mungkin tak bisa ibu lupakan? Yang semacam itulah.” Wanita itu menatapku beberapa detik tanpa berkedip. Dekik di pipinya lambat laun menghilang. Pelan sekali, dia menarik nafas panjang, Β menunduk menatap lantai berwarna putih di antara kakinya.

“Saat itu saya masih muda sekali, seorang gadis yang masih naif, percaya akan bualan seorang pria, untuk kemudian hamil di luar nikah dan ditinggalkan begitu saja,” wanita ini mulai mengigiti kuku-kukunya, gelisah, “saya tidak mau menjadi pembunuh, saya biarkan janin itu tetap tumbuh, tapi kemudian saya meletakkan bayi perempuan yang masih berdarah itu di depan sebuah mesjid, untuk lari seperti pengecut.” tangisnya pecah. Aku tak bisa percaya apa yang kudengar.

“Tapi Tuhan Maha Pemaaf, Mbak. Saya mendoakan anak saya itu setiap saat, berharap dia juga sudi memaafkan saya,” lanjutnya lagi, dan dekik di pipi kirinya terlihat kembali. Detik berikutnya aku menyadari, dekik yang sama selalu aku lihat saat aku bercermin.

***

Note : 496 kata, sila klik banner-nya untuk ikutan bercerita πŸ˜‰

0 Comments

  1. 'Ne

    hiks ternyata putrinya itu ada dihadapannya..
    ___
    Begitulah ‘Ne πŸ˜‰

    Reply
  2. cumakatakata

    Hmmmmm…..
    Nama wartawannya siapa Teh ?

    Rasa ingin tahu yang membongkar sejarah πŸ™‚
    ___
    rahasia Cum *halah* hihihi

    Reply
  3. η©Ίγ‚­γ‚»γƒŽ

    Ya ampun, dia anaknya ya? :O
    ___
    kayaknya sih begitu he he

    Reply
  4. Zizy Damanik

    Cerita ini kalau dijadikan skenario film pasti bagus Mba…
    ___
    aku msh belajar nih mba Zy nulis skript, mudah2an suatu saat bisa jg nulis skenario film mba, Aamiin πŸ™‚

    Reply
  5. Masya

    duh.. ternyata
    ___
    πŸ™‚

    Reply
  6. Susi

    maafin atau nggak maafin ya….
    ___
    pikir2 dulu katanya mbak hihihi

    Reply
  7. Arman

    Jd wartawannya itu anaknya ya…
    ___
    sepertinya begitu ya mas, mesti tes DNA dulu #eh? qiqiqi

    Reply
  8. Ryan

    bertemu dengan ibu…
    ___
    akhirnya πŸ™‚

    Reply
  9. monda

    wartawati yg pintar cari sisi menarik..
    silahkan pembaca menebak lanjutannya he..he..
    ___
    tebak2 (tidak) berhadiah Bun hihihi

    Reply
  10. Mechta

    aiih… kisah yg keren, Rin… etapi, kenapa juga wartawan harus mencari noda narasumbernya utk jadi hotnews ya? *kepo…
    ___
    Iseng aja sih Auntie, biar artikelnya ‘membumi’ ga ngawang2 bgt *halah* qiqiqi

    Reply
  11. Lyliana Thia

    hiyyaaaa.. orin.. jd merinding…

    hiks…
    ___
    Eh? kok merinding mbak? he he

    Reply
  12. Lidya

    ayo ngaku aja biar ibunya gak sedih πŸ™‚
    ___
    heuheu…bisa jadi novel nih ya Teh πŸ˜€

    Reply
  13. winny widyawati

    ending yg mengejutkan πŸ™‚
    ___
    Terima kasih πŸ™‚

    Reply
  14. abi_gilang

    Orin mo nanya donk, kalo FF itu memang “harus” selalu ada unsur kejutannya yaa #maaf kepo :mrgreen:
    ___
    Ngga harus sih kang, tapi sebaiknya memang begitu, ending twist (kejutan) jadi semacam ‘ciri khas’ dalam FF, begitu kira2 kang he he

    Reply
  15. saidah

    Pengen tau endingnya Teh Orin πŸ™‚ akhirnya nyadar gk sih kalo mereka ibu dan anak
    ___
    kasih tau ngga yaa… hihihihi

    Reply
  16. yuniarinukti

    Wah si mbak reporter canggih, bisa mengenali dekik ibunya saat masih bayi…
    Dan cerita ini kereen.. endingnya bagus πŸ™‚
    ___
    eh? kurang berhasil nih aku nulis berarti ya mba Yun heuheu

    Reply
  17. nurlailazahra

    numpang senyum ya Teh πŸ™‚
    keyeeeeennnnn…….
    ___
    heuheu…tengkyu Sarah πŸ™‚

    Reply
  18. danirachmat

    merinding bacanya Rin. Twistnya dapet banget. Gak nyangka.
    ___
    heuheu…tengkyu Dan^^

    Reply
  19. nyonyasepatu

    ohhh ternyataaaaa πŸ™‚
    ___
    begitulah Non hehe

    Reply
  20. riga

    penjabarannya asyik…. tapi twistnya terlalu generik menurutku. πŸ™‚
    ___
    heuheu…terlalu biasa ya bang πŸ˜€

    Reply
  21. Bella Citra Dinasti (@BELLACITRA)

    hmmm…aku merinding…

    Reply
  22. latree

    keinginan untuk mengorek aib itu agak mengganjal. bisa dibuat jembatan lain yang lebih pas untuk sampai ke ujung cerita.
    clue bahwa Kasih adalah ibunya, juga kurang tajam. cuma ‘dekik’ kurang bisa dipakai untuk pegangan bahwa dia adalah ibunya.

    ceritanya manis, though πŸ™‚
    ___
    Tengkyu masukannya mbak La, memang harusnya jadi cerpen ya, aku pikir jg emang banyak bolongnya cerita ini πŸ˜€

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: