Rindrianie's Blog

Kenapa Resign?

jawabannya adalah : kenapa tidak?

*kemudian dilempar sendal jepit hihihihihi

Seperti yang pernah saya ungkap di postingan ini atau ini, saya akan segera resign dari kantor sekarang. Dan baru saja, saya mengirimkan (semacam) farewell letter ke seluruh surel yang ada di contact email kantor, memberitahukan bahwa hari terakhir saya bekerja addalah tanggal 28 Maret nanti. Akhirnyaaaa, setelah Agustus tahun lalu saya menyerahkan surat pengunduran diri, saya resmi juga bisa keluar hihihihi.

Tapi tentu saja, pengumuman kecil ini mengundang banyak tanya ‘kenapa’. Apalagi saya memang terbiasa menjadikan mereka-mereka (kebanyakan supplier, karena saya di bagian Purchasing) yang berhubungan dengan pekerjaan sebagai teman saya. Kami tidak sungkan lagi berbincang lewat wasap dan tidak melulu soal pekerjaan yang dibahas. Maka pasca pengiriman si farewell letter itu, banjirlah wasap saya dari mereka bertanya “kenapa resign?” :D.

Padahal, alasan seorang karyawan berhenti kerja toh bisa dideteksi ya, kalau dibuat daftarnya paling juga ada berapa sih? Bahkan bisa dikategorikan menjadi 2 alasan saja seperti berikut:

‘Terpaksa’ Berhenti

Dipecat-diPHK-dirumahkan, intinya mah sama ajalah ya, diberhentikan oleh pihak perusahaan, padahal si karyawan (meski mungkin babak belur, mengeluh sepanjang jalan kenangan dan sebagainya dan seterusnya) masih ingin bekerja. Jadi ini judulnya ‘terpaksa’ berhenti bekerja he he. Berbeda jika memang sejak awal sudah sepakat bekerja sebagai karyawan kontrak, yaaa mau tidak mau harus berhenti saat si kontrak habis kan ya.

Saya belum pernah mengalami langsung sih, dua kali bekerja di perusahaan tidak pernah berstatus sebagai karyawan kontrak. Tapi saat pak suami termasuk yang dirumahkan dari perusahaannya tahun lalu, saya mengertilah bagaimana getirnya.

baca : Oktober Tahun Ini

Bukan, saya berhenti bekerja bukan karena alasan yang satu ini.

‘Harus’ Berhenti

Sudah jadi sifat dasar manusia untuk selalu menginginkan yang lebih baik, termasuk di urusan pekerjaan. Yamasa toko sebelah menawarkan gaji 2x lipat dengan term pekerjaan yang sama terus ditolak, ya kaaan? hihihihi. Tidak melulu pekerjaan sih sebetulnya, beralih profesi jadi pengusaha juga bisa aja kan, atau bagi perempuan perkasa yang memutuskan menjadi stay at home mom sebagai pekerjaan baru misalnya. Atau seperti saya bertahun lalu yang sok gaya kepengen jadi penulis hahahaha.

Apalagi jika kondisi di tempat bekerja sudah tidak nyaman ya, entah karena bos yang ngeselin, teman-teman yang nyebelin, atau pekerjaan yang ngebetein, atau apa pun lah ya. Daripada terus menerus mengeluh yang akan berujung pada semakin berkurangnya rasa syukur, menurut saya sih mungkin salah satu solusinya ya berhenti dulu saja bekerja.

Nah, alasan saya berhenti kali ini ada di kategori ini. Saya merasa ‘waktu’ saya di kantor ini sudah sampai pada batas akhirnya. Semua sabar dan semangat yang (rasanya) saya punya sudah terkuras habis, nyaris defisit malah *halah. Jadi saya memilih keputusan untuk mengundurkan diri, demi untuk menjaga kewarasan saya tetap berada di tempat seharusnya ha ha.

Lebay juga sih ya itu kalimat terakhir, tapi demikianlah adanya. Mengerti sih, di antara sekian banyak pencari kerja di luar sana yang masih berharap-harap cemas, lah kok saya yang sudah punya pekerjaan tetap dengan income lumayan kok malah keluar. Mana sebentar lagi THR pula kan ya? hahahaha.

But, enough is enough. 

Tapi saya sudah submit  si surat resign itu sejak Agustus tahun lalu, diulur-ditunda-ditahan-disandera beberapa lama berbulan-bulan dengan berbagai macam alasan, hingga akemudian tanggal terakhir saya bekerja disetujui juga. *lap keringet. Alhamdulillah.

Setelah tanggal 28 Maret nanti, status saya kembali menjadi pengangguran, horeeeey!! hahahaha. Masih belum ada rencana pasti tentang apa dan bagaimana saya akan menjalani hari-hari tersebut. Sejak mengajukan pengunduran diri memang rajin mengirimkan CV, ada undangan interview yang saya datangi ada yang tidak, mungkin karena saya juga belum terlalu yakin apakah saya ingin kembali bekerja kantoran atau tidak.

Menjadi penulis full time seperti obsesi (atau mimpi?) saya pun masih belum tahu. Alasan klasik saya jarang menulis beberapa waktu terakhir karena memang saya terlampau sibuk di kantor dan tak punya tenaga lagi untuk melakukannya. Tapi saat saya tidak bekerja lagi, apakah si kesibukan (dan habisnya energi) itu tidak bertransformasi dengan kemalasan yang lebih menyeramkan?

Entahlah ya, dijalani dan dinikmati saja hihihihi.

Jadi, kenapa saya resign? Karena saya harus resign. Sekian :).

4 Comments

  1. claudeckenni

    Gpp Mbak, ikuti kata hatimu. Sometimes things fall apart so that better things can fall together.

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Aamiin, thanks Ken 🙂

      Reply
  2. Annisa Nurami

    sama mbak, sekarang kondisinya juga lagi galau mau resign tapi masih banyak pertimbangan. jadi sekarang mantepin hati dulu mau pilih stay atau resign

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Semoga segera mantap hatinya ya mbak, apa pun pilihannya, insyaalloh yang terbaik untuk mbak 🙂

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: