Rindrianie's Blog

Kenapa Suka Membaca?

Jawabannya sederhana sih kalau saya: KENAPA TIDAK?

Hihihihi ditimpuk berjamaah.

Sejak Kapan Saya Mulai Suka Membaca?

Sejak kecil tentu saja. Sekecil apa? Mari saya ceritakan sejarahnya dulu, temans.

Seingat saya, saya sudah bisa membaca sejak TK, itulah kenapa saya dibolehkan melanjutkan ke SD oleh para ibu guru TK, meskipun saya masih dianggap kecil (belum genap 7 tahun). Tapi saat itu, sepertinya saya masih biasa-biasa saja dengan kegiatan membaca. Semuanya bermula ketika saya kelas 2 SD.

Pada zaman itu, ada semacam lomba menulis dan membaca bagi anak-anak kelas 2 SD se-kecamatan (atau se-kabupaten, entahlah, lupa :P). Setiap sekolah mengirimkan dua orang untuk mengikuti lomba menulis, dan dua orang untuk lomba membaca.

Saya cukup tahu diri untuk menyadari tulisan tangan saya (yang biasa pun) sangatlah tidak bagus, apalagi menulis indah, nggak ada indah-indahnya lah pokonya mah ha ha! 😛 Maka saya tidak pernah berpikir akan terpilih. Lain halnya dengan membaca. Saya yakin saya akan terpilih, hawong sudah bisa baca sejak TK kok. Dan ternyata nggak terpilih lhoooo!!

Bagaimana reaksi saya saat Ibu guru mengumumkan di depan kelas empat nama teman-teman yang akan mewakili sekolah tidak bisa saya ingat betul. Tapi yang tidak akan bisa saya lupa adalah ‘kegilaan’ saya akan membaca bermula dari situ. Saya tidak pernah tahu kenapa saya tidak terpilih (saya juga tidak pernah bertanya, tentunya), tapi kekecewaan itu membuat saya merasa harus membaca seluruh buku yang ada di muka mulai lebay hihihihi.

Apa yang Saya Baca?

Apa pun. Semuanya. Saya ingat saya senang sekali ke perpustakaan sekolah saat SD, meminjam buku, membacanya, mengembalikannya dan kemudian meminjam buku lain untuk dinikmati. Tidak hanya di perpustakaan sekolah, saya pun meminjam buku di perpustakaan kantor Bapak saya. Saya meminjam majalah Bobo langganan seorang teman (sementara saya harus berpuas diri hanya berlangganan majalah si Kuncung). Membaca buku lima sekawan dan trio detektif pinjaman.

Masuk SMP, saya mulai berkenalan juga dengan komik, serial cantiklah, candy candy, dan sebagainya dan sebagainya. Termasuk Wiro Sableng, juga roman-roman zaman dulu semacam Layar Terkembang, Salah Asuhan, Siti Nurbaya dan kawan-kawan. Juga novel picisan karangan Freddy S yang seharusnya tidak saya baca di usia itu ups.

Saat SMU, saya tinggal di asrama putri. Ibu asrama memiliki koleksi novel Shidney Sheldon, Daniel Steel, Agatha Christie, dan lain-lain (sepertinya hampir seluruh koleksi ibu Fat saya pinjam hihihihi). Teman-teman saya juga banyak yang mengoleksi serial Ghostbump dan R.L Stine yang bisa saya pinjami. Ada juga Topeng Kaca yang membuat saya sering berkhayal sebagai Maya Kitajima halah. Seingat saya, saat SMU ini saya jarang ke perpus, entah kenapa hahaha ngumpet

Kuliah? Bacaan saya tambah beragam. Saya mulai mengenal bacaan islami karangan Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa dan kawan-kawan. Berlanggan majalah Annida dengan merelakan uang jajan yang tak seberapa itu untuk ditabung agar bisa membeli majalah. Meskipun jurusan yang saya ambil bukan Bahasa Indonesia, tapi kuliah di fakultas sastra membuat saya juga mengenal Remi Sylado, Karl May, SGA, PAT, karya-karya penulis yang sebelumnya tidak saya ketahui namanya. Di periode ini juga saya membaca Harry Potter dan Supernova, yang membuat saya ketagihan terus membaca episode-episode berikutnya. Dan kembali jadi anak perpus, meminjam Dunia Sophie-nya Jostein Gardner, buku-buku Cak Nun, hingga Yasunari Kawabata.

Setelah bekerja, barulah saya bisa membeli buku-buku yang saya baca. Setelah sebelumnya menjadi fans setia perpustakaan dan peminjam yang baik, saya mulai menjadi penimbun buku. Buku-buku yang pernah saya baca bertahun lalu banyak juga yang saya beli untuk kemudian dibaca ulang.

Ketika Membaca Menjadi Sebuah Keharusan

Bukan, ‘keharusan’ di sini bukan dalam arti saya terpaksa melakukannya ya. Tapi maknanya menjadi: lebih dari sekadar hobi. Mungkin karena saya nekat ingin menjadi penulis, sehingga membaca adalah amunisi penting yang mau tidak mau harus dilakukan dalam prosesi menulis. Atau, mungkin juga karena jiwa saya sudah terlanjur mencandui aroma kertas dari buku-buku yang saya baca. Baiklah, mulai lebay lagi hahahaha.

Intinya adalah, membaca sudah menjadi sebuah keharusan untuk saya lakukan setiap harinya, semacam makanan bagi tubuh yang lapar, semacam air penghilang dahaga jiwa. Yah, semacam itulah ya hahahaha.

Kenapa Saya Menulis Postingan Ini?

Adalah karena seorang teman berkata, bahwa terakhir kalinya dia baca buku adalah sekitar Desember 2015. Tidak, saya tidak sedang menghakimi sang teman atau apa, mungkin membaca bukanlah hobi yang menyenangkan baginya, atau apa pun alasannya untuk tidak membaca, saya akan menghormati pilihan keputusannya.

Saya hanya tidak bisa membayangkan bagaimana saya bisa melalui berbulan-bulan tanpa sebuah buku pun yang saya baca. Terdengar lebay mungkin, tapi begitulah yang saya rasakan. Sempat terpikir apakah saya benar-benar seorang book freak atau semacam kelainan jiwa lainnya, yang merasa hampa jika tak bisa membaca sebuah buku. Tapi rasanya sih tidak, karena pasti banyak yang seperti saya di luar sana, iya kan? iya kan? nyari temen.

So, apakah temans suka membaca seperti saya? Kenapa? (Yah, meskipun tidak semua hal di semesta ini memerlukan alasan :D)

20 Comments

  1. dani

    Oriiiiin…. Gw bisa merasakan banget apa yang dirimu rasakan. Book is always an important part of my daily life. Hahahaha. Bahkan sukak baca lewat ebook reader jugak. Sayangnya kecepatan baca gw masih kayak siput euy…

    Reply
  2. rinasusanti

    idem rin…ga baca gak beli buku asa ada yang kurang dalam hidup *gayanya*

    btw, jadi inget pertanyaan teman di grup, gimana ngatur waktu baca buku karena setelah nikah dan punya anak gak ada waktu baca? saya malah pengen nanya balik, gimana ngatur waktu bisa nonton tv , berita dan gosip? *tapi nanya dalam hati takut tersinggung heheh*

    Reply
  3. nyonyasepatu

    karena suka 🙂 dan karena bau kertas itu enak hehe

    Reply
  4. bemzkyyeye

    *ngacung*

    Karena ada yg kurang aja klo ga baca 🙂

    Reply
  5. alrisblog

    Membaca buku (hardcopy) jelas memberikan kepuasan tersendiri. Saya gak bisa mengungkapkannya dengan kata berlebih, tapi bisa menuliskannya di dalam posting yang akan segera terbit di blog saya, 🙂
    Saya baru menargetkan minimal menamatkan satu buku satu bulan tahun ini. Tahun tahun sebelumnya kacau deh, kadang membaca, sering malah berhari-hari gak membaca buku. Tapi pernah juga menamatkan novel Andrea Hirata (264 halaman) hanya dalam waktu dua hari.
    Memang harus disiplin kalau mau membaca buku kontinu, saya kadang buatkan jam-jam baca buku.

    Reply
  6. Arman

    baca buku itu seru karena kita bisa imajinasi sendiri…

    Reply
  7. Wizam

    Well, sebenarnya saya ngga terlalu suka baca buku. Berhubung sekarang saya hobinya nulis, jadi ya harus baca buku sebagai sumber referensi.

    Reply
  8. winnaz

    karena sudah kebiasaan, tapi sekarang itu sebuah kemewahan *harus berjibaku disela kewajiban utama 😀 *

    Reply
  9. Lidya

    candy-candy juga aku baca tapi gak pernah beli hehehe

    Reply
  10. Uchi

    Dari smp udh hobi baca tapi duluuu pinjeman semua :D. Baru2 ini aja mau beli sendiri. Dan trnyata ada kepuasan sndri ngeliat koleksi buku yg tersusun. Dan baru tau knp dulu temen pada selalu wanti2 segera dibalikin selesai dbaca. Ga seru udh beli2 eh koleksinya ga nambah krn pd dipinjem dan ga dibalikin

    Reply
  11. Ideazworld5

    Membacalah sebelum dibacakan

    Reply
  12. Mukhofas Al-Fikr

    wah saya baru berkunjung untuk pertama kali di blog ini.

    saya kaget ketika ada tulisan ini. sebab saya juga mengadakan lomba menulis kontes tema ini. saya datang ke blog ini lewat blog pak dani rahmat.

    wah mungkin sebuah pengalaman berharga bisa bertandang di blog ini.

    sip mab tentang sharing pengalaman membacanya..

    sukses…

    Mukhofas

    Reply
  13. DIJA

    membaca blog
    termasuk membaca juga kan tante??

    Dija sekarang sudah bisa membaca
    tapi masih butuh latihan yang banyaaaaak supaya lancar

    Reply
  14. cumilebay.com

    Gw target sebulan 2 buku mesti kelar

    Reply
  15. rynari

    Membaca itu menyenangkan… Termasuk baca postingan Neng Orin ini.

    Reply
  16. azbotol

    mbak mau nanya, gimana ya caranya biar saya suka membaca? karena sejak dulu saya emang jarang membaca dan bahkan g suka membaca

    Reply
  17. nh18

    Membaca itu …
    bagaikan “the theater of mind”
    PIkiran kita dibawa untuk membayangkan situasi pada saat itu (jika kita baca kisah nyata)
    atau membayangkan suasana … atau membayangkan rumah yang di ceritakan oleh buku tersebut … dan lain sebagainya …
    dan ini membuat fikiran kita terus hidup berkreasi …

    Salam saya Orin

    Reply
  18. vizon

    Saya juga sudah gila baca sedari kecil. Salah satu kegilaan itu, bisa dibaca di postingan ini: http://hardivizon.com/2009/06/08/doyok/

    Alhamdulillah, saat ini anak-anak pun memiliki kegemaran yang sama. Si sulung bahkan bisa betah seharian di kamar hanya untuk menghabiskan novel setebal 400 halaman yang baru dibeli. Sungguh asyik membaca itu, apalagi sesuatu yang kita suka.. 🙂

    Reply
  19. ngopieblog

    Saya juga suka membaca apapun…yang penting menambah ilmu pengetahuan tossss mbak

    Reply
  20. Pingback: Semacam Rekomendasi Buku | Rindrianie's Blog

Leave a Reply

%d bloggers like this: