Rindrianie's Blog

Kepekaan

Pagi tadi sisa-sisa hujan dini hari masih terlihat, genangan air dimana-mana, langit masih menggelap, dan udara pagi masih terasa dingin. Tapi tetap saja, saya tidak memakai rain coat saat berangkat dari rumah, karena (rasanya) hari akan berangsur cerah.

Tuhan Yang Maha Segala ternyata sudah menyiapkan skenario lain, hanya beberapa menit lagi saja Si Kupi bisa mengantarkan saya ke kantor, hujan turun dengan derasnya. Posisi saya yang sedang berada di tengah-tengah kemacetan (dan semakin macet saat hujan turun) tidak memungkinkan saya menepi untuk memakai jas hujan. Maka terjadilah, titik-titik air hujan itu dengan bebas menyapa helm, sarung tangan, sweater, celana jeans, dan sneaker saya. Semuanya basah sah sah sah (halah :P) dalam waktu singkat.

Yang menjadi keprihatinan saya adalah, banyak sekali para biker yang tidak memiliki kepekaan terhadap sesama biker lainnya. Saat saya berhasil membelokkan Si Kupi menyusuri kiri jalan agar memungkinkan untuk maju walaupun perlahan, banyak sekali motor-motor yang terparkir sembarangan ditinggalkan pemiliknya untuk berteduh, mengharuskan saya -dan biker lainnya- tertahan dan atau terpaksa memutar atau naik ke trotoar, motor-motor itu juga telah membuat kemacetan bertambah parah. Ya ampuuuunnn, kenapa motor-motor itu tidak ‘diangkut’ saja untuk diparkir di trotoar misalnya? atau dimana pun lah yang tidak menyebabkan jalanan bertambah macet, dan mengasihani biker yang terpaksa nekat berhujan-hujanan -seperti saya- masih bisa berkendaraan di bawah terpaan hujan itu?

Hujan sesaat tapi deras itu telah membuat jalanan menjadi 3 kali lipat tingkat kemacetannya, dan di antara rasa dingin karena baju basah, saya -dan para biker nekat lainnya- harus tetap berbesar hati terhadap ‘teman-teman’ kami yang tidak memiliki kepekaan terhadap sesama biker. Entah bagaimana caranya, mungkin dengan edukasi mengenai safety riding dan tata tertib berkendara, mungkin dengan diperketatnya ujian saat pembuatan SIM, atau mungkin dengan training mengenai ‘kepekaan’ terhadap sesama pengguna jalan?? Apapun lah ya. Semoga suatu saat jalanan Jakarta lebih -mengutip istilah seorang teman- ‘civilize’ dan lebih nyaman bagi para penggunanya.

 

0 Comments

  1. Irranida Hussi

    Dimulai dengan simpati baru bisa ditingkatkan menjadi empati. Untuk tingkat simpati saja sulit, apalagi empati. 🙁

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: