Rindrianie's Blog

Ketidakadilan

Semalam, saat saya kembali mencoba menulis, saya menemukan artikel berikut, yang rupanya saya tulis kurang lebih 3 tahun lalu. Bagi saya, tulisan ini tidak terlalu bagus, tapi tetap saja saya ingin menampilkannya disini. Kenapa? Karena saya menyadari ternyata ‘gaya’ menulis saya sedang berproses, telah berubah, dan mungkin akan berbeda dimasa mendatang 🙂 Jadi tanpa saya edit lagi langsung saya copas kesini.


Betapa terkadang aku merasa bahwa hidup itu sungguh tidak adil. Ketika pekerjaanku bertumpuk sehingga kebingungan meliputi diri, pekerjaan mana yang harus kuprioritaskan, dan disaat yang sama teman di sebelahku dengan santainya membaca koran dengan earphone di telinga. Ehm…yah tentu saja pekerjaan kita memang berbeda dan dia sama sekali tidak berkewajiban untuk mengerjakan apapun tugas yang sudah menjadi tanggung jawabku. Tapi tetap saja, aku merasa bahwa hidup begitu tidak adil. Kenapa dia bisa bersantai dan aku tidak?

Di hari lain, ketika aku bergelantungan berdesakan di busway –dalam keadaan sangat lapar dan lelah serta kekhawatiran terlambat untuk mengikuti les, aku melihat seorang gadis yang kurang lebih seumurku, menyetir Honda jazz birunya, menikmati sekotak jus dan menyetir dengan nyaman, melesat cepat dengan santai dan bermanuver gesit untuk meninggalkan busway yang kutumpangi saat lampu berganti hijau. Ah…kenapa aku tidak seperti dia?

Kembali kuteringat masa SMA dulu, saat aku menjadi tim basket sekolah dan harus punya sepasang sepatu basket yang sangat mahal –setidaknya bagiku saat itu. Betapa aku harus menghabiskan hampir seluruh tabunganku untuk membeli sepatu berdiscount 70% -yang berarti sangat out of date- karena tak mungkin ayahku membelikan sepatu dengan harga sekian, dan disaat yang sama teman-teman satu teamku punya 2-3 pasang sepatu yang mereka pakai bergantian saat latihan atau pertandingan. Kenapa aku terlihat begitu berbeda dengan mereka?

Seringkali, ketika pertanyaan ‘kenapa’ku tak terjawab, aku berandai-andai. Seandainya saja aku ini orang kaya, tentunya tak perlu lagi aku bekerja. Seandainya aku ini banyak uang, pasti aku bisa mendapatkan semua yang aku inginkan dengan mudah. Seandainya begini, tentu aku bisa begitu.

Dan ternyata bukan aku satu-satunya ‘korban’ ketidakadilan ini.

Ada issue, bahwa sebuah perusahaan Jepang menerima dua orang karyawan wanita –katakanlah Mba A dan Mba B- karena si bos jepang suka pada (maaf) ukuran payudara mereka yang bisa dibilang ‘big size’.

Astagfirullahal’adzim… aku hanya mampu beristigfar dalam hati. Betapa aku kaget mendengar ‘fakta’ ini, terlepas dari benar atau tidaknya fakta tersebut. Aku cuma berpikir bahwa ada banyak orang yang (mungkin) punya capability yang lebih bagus daripada Mba A dan Mba B, tapi harus tersingkir karena (sekali lagi maaf) mereka berpayudara biasa-biasa saja.

Kenapa manusia harus dibedakan dari bentuk fisiknya? Kenapa si putih lebih disukai daripada si hitam? Kenapa si mancung lebih dikagumi daripada si pesek? Kenapa tidak kita lihat kecerdasan mereka? Atau perilaku mereka? Atau iman mereka? Kenapa??

Cerita lain….

Seorang teman ‘curhat’ padaku mengenai ketidaksetujuan orang tuanya terhadap lelaki pilihannya, yang dianggap ‘kurang sesuai’ dengan sang teman. Sebutlah temanku ini namanya Dewi dan sang lelaki Budi. Keluarga Dewi tidak bisa menerima keadaan Budi yang bukan seorang sarjana. Padahal Dewi sendiri sedang menjalani S2nya.

Budi lebih memilih bekerja dan berhenti kuliah karena berprinsip “toh, kuliah itu untuk cari kerja. Aku udah dapet kerja, so…ngapain kuliah?” Pemikiran yang kurang tepat mungkin, bahkan Budi sendiri menyesalinya di kemudian hari, tapi Budi berhak memilih dan memutuskan hidupnya sendiri bukan? Pun ketika dia ingin menikahi Dewi, karena merasa yakin bisa membahagiakannya, walaupun tanpa titel sarjana.

Tapi tentu saja Dewi memilih untuk tidak menjadi anak durhaka, dan menganggap bahwa mungkin dia belum berjodoh dengan Budi. Walau dengan airmata, walau sempat berduka.

Satu cerita lagi….

“Dia itu orang Padang, anak cowok satu-satunya lagi. Jadi ngga mungkin banget dia bisa nikah sama aku yang bukan orang Padang”

“Ayahnya ga setuju dia nikah sama aku, karena aku kan orang Jakarta. Biasanya orang Jakarta itu matre, hedonis, high maintenance, de es be.”

“Wah, orang Jawa ga bisa beristrikan orang Sunda, pasti rumah tangganya ngga langgeng, jadi aku pengen nyari istri orang Jawa lagi”

Ya ampuuuuunnnnnn…. Kenapa sih harus ‘rassist’ seperti itu? Bukankah kita tidak bisa memilih ingin dilahirkan dimana dan sebagai suku apa? Bukan salah kita dong tidak terlahir sebagai suku anu atau menjadi ras itu?

Aku jadi sadar, bahwa ternyata banyak ketidakadilan di dunia ini. Tapi tergantung dari cara kita melihat dengan kacamata apa dan memandang dari arah mana perbedaan-perbedaan itu. Allah Maha Adil, siapa kita yang berani menghakimi Dia seolah telah berlaku tidak adil terhadap kita?

Seharusnya kita selalu mensyukuri nikmat yang diberikan, apapun itu. Yang sudah kita terima, atau yang belum kita dapat. Semoga aku bisa dan akan selalu bersyukur kepada-NYA.

12 Juli 2007,

Ternyata, bersyukur itu indah…


Hmm… setelah saya analisa (halah… :P), ternyata dulu saya kurang bisa marah dengan santun ya? Ekspresi menulis saya cenderung ‘meledak-ledak’, bahkan vulgar. Ketidaksetujuan saya begitu to the point alias tanpa tedeng aling-aling menuju sasaran. Pilihan kata ‘aku’ itu begitu kuat dan terkesan egois, seolah memaksa pembaca untuk setuju dengan si ‘aku’ ini. Duh… tidak sopan sekali ya 😀

Jadi teringat zaman kuliah dulu saat saya menjadi editor (eits…meni gaya pisan :P) majalah dinding di kampus.  Dalam rangka hari Kartini dan hari bumi yang sama-sama jatuh di bulan April, saat itu saya menulis artikel tentang wanita perokok, yang saya buat endingnya dengan mengatakan -kurang lebih- “tentunya saat itu ibu Kartini tidak berharap wanita-wanita penerusnya di masa mendatang, akan mengotori bumi dengan asap rokok yang terkepul dari bibir mereka”. Dan untuk beberapa lama teman-teman wanita perokok saya memusuhi saya karena tulisan itu hehehe.

Anyway, saya tahu saya masih harus banyak banyak banyak belajar lagi. Bahwa saya -dan setiap kita- butuh berproses. Bahwa sudah seharusnya saya berupaya untuk menjadi lebih baik. Mudah-mudahan bisa yaa… Amin…

  • Photo Note :

Sumur ditengah sawah, tak jauh di depan rumah sahabat saya Ikhie Roshi Yulyawati, di Cililin-Bandung.

0 Comments

  1. Irranida Hussi

    Kalau kita melihat diri sebagai korban, tentu tidak akan pernah habis ketidakadilan di mata kita.

    Tetapi kalau kita bisa lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang dan berusaha lebih baik lagi, tentunya tidak menjadi korban dan memilih bereaksi dengan anggun, segala sesuatunya akan lebih baik. 🙂

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Iya Mba, sekarang udah ‘tobat’ kok hihihi… Semangaaaad.
      Tengkyu udah mampir yaa… 😉

      Reply
  2. nechan

    wah hebat em. Berbakat jadi seorang penulis rupanya..
    Berusaha teruzzzz ya..

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Heuheu… lg belajar Ceu Neni. Nuhun ah tos mampir..

      Reply
  3. asep maulana

    Nangis,tertawa,merenung?
    Setelah sept baca karya teteh,emm ternyata setelah sekian lama sept punya pertanyaan yg ga bisa di utarakan,akhirnya ada jwbannya jg.
    Sept prnah menyimpan pertanyaan gini teh,knp org2 membedakan/mmbanding2kan harkat,martabat maupun derajat ssorg pdhlkan di mata allah itu semua sama?
    Trus,dimana letak keadilan itu berada?
    Apa kita nunggu trus d sakiti,di cela,di hina,maupun d djalimi?
    Tp,itu hanya prtanyaan bodoh yg seharus’a ga d pertanyakan?
    Makasih y tetehku yg smart ini,,tlah memberikan pelajaran yg sangat6x berharga,,,ttp berkarya N’ semangat.

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: