Rindrianie's Blog

Ketika Harus ke Rumah Sakit

Siapa sih yang mau sakit? Manusia waras mana pun rasanya ingin selalu sehat sentausa nyaman bahagia selamanya, betul? Terutama di tengah pandemi covid-19 saat ini, saat anugerah sehat sungguh luar biasa dan harus selalu disyukuri. Abaikan saja manusia-manusia egois yang hanya mementingkan keinginan sementara untuk ngemall atau bepergian tanpa memikirkan risikonya. Biarkan sajalah jika pada akhirnya akan terjadi herd imunity yang sepertinya berupa genosida karena vaksinnya belum ada.

Ah sudahlah, yang bisa kita kendalikan memang sebatas hanya diri kita sendiri dan keluarga terdekat sepertinya ya. Mamah saya di kampung halaman bisa mengerti kok saat Lebaran tahun ini anak-anaknya yang merantau tidak bisa pulang saat Lebaran dan hanya bersilaturahim virtual lewat Video Call-nya WhatsApp group. Tetap saling menjaga agar sama-sama sehat tentunya jauh lebih penting daripada memaksakan diri untuk berjumpa tapi ada risiko sakit yang mungkin akan terjadi kan ya?

Tapi sebagai manusia biasa ada kalanya memang nikmat sakit itu menghampiri, padahal sudah berupaya keras menjaga kesehatan, makan makanan bergizi, minum vitamin, rutin berolahrga, dan sebagainya dan seterusnya. Tetap saja saat waktunya harus sakit, kun fayakun, tetap sakit.

Kejadian ini memang terjadi pertengahan Maret lalu, masih belum ada PSBB dan sebagainya, walaupun di Indonesia berturut-turut pasien yang positif covid-19 semakin bertambah dari hari ke hari. Ndilalah, saya sakit. Awalnya batuk pilek biasa karena terlampau lama naik motor di hari itu, kena debu dan angin sepertinya ya. Tidak mempan dengan obat warungan, akhirnya saya pergi ke rumah sakit terdekat saat si batuk tak kunjung sembuh, rupanya saya terkena ISPA.

Tapi sampai obat dari dokter habis, batuk saya masih juga tak kunjung sembuh. Akhirnya saya pergi ke rumah sakit lain dengan dokter internist lain, diberi obat batuk untuk alergi, karena hasil rontgen paru-paru saya baik-baik saja. Lagi-lagi, sampai obat habis batuk saya tidak benar-benar sembuh, padahal sudah berhenti minum atau makan dingin, sangat mengurangi gorengan atau makanan berminyak, menjaga diri agar tidak sampai kena debu atau angin malam.

Dari dokter Internist dirujuk untuk periksa di spesialis THT, sebuah selang kecil dimasukkan ke dalam tenggorokan saya untuk menyedot dahak dan semua lendir-lendir, sedikit agak enakan nih, tapi sudah hampir satu bulan si batuk belum sembuh juga meskipun intensitasnya semakin menurun.

Seiring dengan itu, pandemi semakin mengerikan. Kurva semakin meningkat, pasien yang konon terjangkiti virus covid-19 semakin banyak. Memang prosentasenya lebih banyak yang kembali sembuh daripada yang tidak terselamatkan, tapi kecemasan tetap ada. Apalagi saya memang bekerja di laboratorium klinik (walaupun bukan sebagai tenaga medis, hanya sebagai marketing yang tidak berhubungan langsung dengan pasien atau spesimen sampel), tetap saja potensi terpapar pasti ada.

Akhir April kondisi sudah lockdown di mana-mana, membuat saya juga enggan untuk ke dokter atau rumah sakit. Tapi kecemasan saya menjadi OTG (Orang Tanpa Gejala) karena si batuk berkepanjangan ini cukup mengganggu. Akhirnya saya pun menggunakan aplikasi Halodoc, karena walaupun sakit saya mungkin belum berkategori urgent untuk segera diperiksa, tapi riwayat sakit yang sudah lebih dari sebulan sepertinya sangat mengkhawatirkan. Apalagi dari hasil laboratorium, nilai LED saya cukup tinggi yang menandakan adanya infeksi dalam tubuh, membuat saya merasa harus mencari rumah sakit terdekat yang bisa saya kunjungi saat pandemi seperti ini di Halodoc.

Alhamdulillah, saya diarahkan ke salah satu dokter spesialis paru di rumah sakit yang cukup dekat dari rumah. Hasil Rontgen dan hasil laboratorium sebelumnya saya tunjukkan, tapi pak dokter yakin bahwa saya tidak terkena covid-19 atau pun suspect TB paru atau penyakit mengerikan lainnya. Batuk saya yang tak kunjung sembuh mungkin karena saya tidak bisa sepenuhnya menghindari alergennya, atau imun tubuh yang sedang menurun.

Duh, semoga pengalaman ini cukup sekali ini saja. Dan kita semua selalu dijaga Sang Penggenggam Kehidupan untuk tetap sehat ya, temans.

 

 

1 Comment

  1. Dey

    Harus banyak doping ini mah. Banyak makan salah satunya. Sehat2, Rin.

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: