Rindrianie's Blog

Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Lelaki Tua itu rupanya begitu memuja gerimis di sore hari seperti ini. Seperti aku. Dia akan hadir tak berapa lama setelah gerimis pertama menyapa bumi, tak pernah sekalipun aku melihatnya saat hari benderang riang. Sungguh, aku semakin menyukai gerimis saat ada lelaki tua di tengahnya.

Seperti kemarin, dan kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi, sore ini saat gerimis datang, aku menatapnya diam-diam dari balik jendela berembun. Lelaki Tua itu sudah mulai terlihat di ujung jalan, seperti seharusnya.

Sepeda yang dituntun Si Lelaki Tua pastilah setua dirinya. Pernah, suatu kali, kulihat rantainya tidak tersambung seperti seharusnya, tapi Lelaki Tua itu mengabaikan si rantai yang terkulai, dan tetap berjalan pelan menuntun sepeda yang tampak berat dengan setumpuk jerami (atau rumput? Aku tidak tahu) di atasnya.

Caping yang dipakainya tidak terlalu lebar. Aku sempat khawatir saat gerimis mulai menderas, mungkinkah butir-butir gigilnya akan membasahi wajah keriput yang ramai berkeriut itu? Tidakkah itu akan membuatnya sakit?

Tapi entah bagaimana, aku yakin sekali Lelaki Tua itu adalah jenis lelaki yang kuat. Lihat saja kaos birunya yang terlampau tipis, atau celana pendeknya yang terlampau pendek, atau sandal jepitnya yang terlampau sederhana, atau tubuhnya yang terlampau kurus. Si Lelaki Tua memilih meneruskan perjalanan di tengah hujan, tanpa merasa perlu berhenti untuk sekadar berteduh. Tidak, dari ujung jalan sana, dia akan terus berjalan pelan menuntun sepeda tuanya, melewati rumahku, dan terus berjalan ke ujung jalan satunya, hingga aku tak mampu lagi melihat sosoknya.

Hanya beberapa langkah lagi saja, Lelaki Tua akan melintas persis di depan rumahku. Aku ingin berlari keluar dan menyapanya. Bahkan kalau memungkinkan, aku ingin sekali mengajaknya masuk lantas menawarinya segelas teh manis hangat atau secangkir kopi hitam atau apa sajalah yang diinginkan Si Lelaki Tua. Dan kalau saja boleh, aku ingin sekali bertanya pada Si Lelaki Tua, kenapa –dan sejak kapan- dia menyukai gerimis?

Aku sudah membuka pintu dan hendak melambaikan tangan pada Si Lelaki Tua yang akan segera melintas di depan rumah saat suamiku menyapa, “Sayang, mau kemana?”

“Kau ingat lelaki tua yang menuntun sepeda saat gerimis yang sering kuceritakan?”

Ragu, suamiku mengangguk.

“Lihat! Itu dia lewat di depan rumah kita,” seruku riang, menunjuk pada sosok Lelaki Tua yang saat itu betul-betul sedang melintas. “Aku ingin mengundangnya masuk untuk berteduh. Boleh kan?” ujarku lagi seraya berlari ke halaman tanpa sandal, membuka pintu pagar dan berteriak memanggil Si Lelaki Tua yang baru melintas.

Tapi sepertinya Si Lelaki Tua tidak mendengar seruanku, karena dia terus saja berjalan pelan menuntun sepeda tua dengan setumpuk jerami di atasnya. Aku kecewa, tentu saja.

“Sayang…” Suamiku sudah berdiri di sampingku, juga tanpa sandal, dan ikut hujan-hujanan sepertiku.

“Dia tidak mendengarku,” kataku sedih. Menatap punggung Si Lelaki Tua yang kian mengecil.

“Sayang… tidak ada siapa-siapa di sana, tidak ada lelaki tua menuntun sepeda dengan setumpuk jerami.”

“Tidak ada?”

“Tidak ada.”

Jeda yang lengang. Kutatap suamiku yang sedang menatapku, lantas kembali menatap punggung Si Lelaki Tua di ujung jalan yang kini semakin mengecil menjelma titik. Sungguh, aku tidak mengerti.

***

 Note : 486 kata, untuk prompt #65 Monday Flash Fiction. Padahal ini fotonya punya saya, tapi susah yaa bikin ceritanya hahahaha :P.

0 Comments

  1. ardiantoyugo

    Sering trenyuh kalau melihat yang seperti ini…

    Reply
  2. jampang

    jadi siapa yang benar?

    Reply
  3. Chrismana"bee"

    Aku belum dapet ideee,….

    Reply
  4. Martina Nofra Panai

    Kereenn.. (Y)

    Reply
  5. ysalma

    jempol deh buat Neng Orin <3

    Reply
  6. Sabina

    ceritanya asyik. selingan yang indah ditengah gemuruh pulitik.

    Reply
  7. Rizki Madfia

    Aww..apakah lelaki tua itu beneran ada Mbak Orin?

    Reply
  8. Arman

    siluman ya…

    Reply
  9. rinasusanti

    jadi…jadi….pernah ada atau cuma khayalan ya si lelaki itu heheh

    Reply
  10. danirachmat

    Merinding Rin bacanya.

    Reply
  11. Ryan

    jadi lelaki tua itu hanya ilusi? seperti hidup yang hanya ilusi?

    Reply
  12. Abi Sabila

    foto itu, Teh. Foto itu… mengingatkan aku pada ayahku….

    Reply
  13. Pingback: Lelaki Tua di Tengah Gerimis | dibuang [sayang]

  14. chocoVanilla

    Kerenn, Oriin. Indra keenamkah? Atau bawah sadar akan sesuatu di masa lalu? 😀

    Reply
  15. GloryGrant

    Jadi, siapakah yg dilihat itu? wah… keren nih ceritanya mbak. 🙂

    Reply
  16. prih

    keren khas Orin….memancing aneka interpretasi pembaca.
    Salam

    Reply
  17. 93gees

    Ternyata ini pemilik fotonya, ya ampun Mbak terima kasih sudah buat saya bisa kembali nulis, hehe, meski belum sebaik teman-teman semua. Fotonya bagus banget Mbak, ceritanya juga, mengalir, ah, saya sampai bengong terakhirnya. Jadi Lelaki Tua itu ‘siapa’? ><

    Btw, salam kenal ya, Mbak! 🙂

    Reply
  18. eksak

    pemilik gambar yg misterius! *lah

    Reply
  19. Attar Arya

    ada hantuuuu!

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: