Rindrianie's Blog

Manja

Saat saya akhirnya memenuhi undangan interview di sebuah perusahaan beberapa hari yang lalu, selagi menunggu untuk sesi berikutnya -yaitu interview dengan HRD-, seorang pelamar lain di sebelah saya membuka obrolan. Ngalor ngidul kesana kemari, sampai pada obrolan berikut :

Dia : “Oh, jadi mba kesini diantar suami?”

Saya : “Iya… (agak-agak malu menjawabnya :P), beliau nunggu diloby tuh.”

Dia : “Saya juga ditungguin sih, tapi sama Mama. Manja banget ya Mba hehehe”

Saya : “Ooohh…..”

Sang pelamar itu memang fresh-graduate, baru saja lulus Agustus tahun ini, masih jobless, hampir tidak tahu daerah Jakarta dan sekitarnya (beliau adalah orang Bandung), dan -menurut pengakuannya- takut dan cemas saat proses interview seperti ini karena tidak adanya pengalaman. Sehingga sang Ibunda pun mengantarkan beliau interview.

Anak manja? Hmm…mungkin ya, karena rasanya tidak pernah 1 kali pun proses interview kerja saya zaman dahulu kala, ditemani oleh Ibu saya seperti beliau.

Tetapi kemudian saya memutar ulang film kehidupan saya. Saya adalah anak sulung, adik terdekat saya berjarak 4 tahun, dan kemudian datang adik-adik saya berikutnya. Walaupun Mamah (panggilan saya terhadap ibu saya) adalah ibu rumah tangga tulen, beliau selalu sibuk dengan adik-adik saya dan pekerjaan rumah, sehingga membuat saya jarang sekali bisa bermanja-manja dengan Ibu saya, dan menjadikan saya mandiri secara alami. Misalnya saja, sekitar usia 4 tahun (sesaat sebelum adik saya lahir) saya sudah bisa makan sendiri, mandi-berpakaian-berdandan sendiri, dan tidur di kamar tersendiri.

Hal ini, menyebabkan saya -seperti anak perempuan pada umumnya- menjadi ‘anak papih’. Bapak saya yang mengantar jemput ke sekolah sampai saya kelas 3 SD (berikutnya saya selalu naik sepeda sendiri ke sekolah), Bapak yang mengambil raport saya, Bapak yang ‘menonton’ pertunjukan saya saat pentas seni di sekolah, Bapak yang mengantarkan saya mendaftar di SMU di luar kota, Bapak yang menghadiri wisuda saya, dan Bapak yang terkadang menjenguk saya di Jakarta sebelum menikah. Ups… secara tidak langsung saya manja juga ya ternyata. Dan (sepertinya) hal ini juga yang menjadikan saya termasuk kategori istri yang sangat manja dengan suami hohohoho.

Saya mengerti, kosakata “manja” tentunya tidak hanya berarti harus diantar-jemput seperti itu, atau bahkan (mungkin) penggunaan kata ‘manja’ dalam tulisan ini tidak tepat menurut tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tulisan ini saya buat, hanya sebagai sebuah ‘pengakuan’, bahwa ternyata saya manja juga 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: