Rindrianie's Blog

Masalah vs Perubahan

Apakah sahabat punya masalah? Jika jawabannya ‘tidak’, rasanya justru aneh ya? hehehehe…

Seorang guru saya bahkan berkata,”hidup ini, tidak mencari masalah pun, pasti akan selalu ada masalah”, saya pikir memang begitu ya. Kalau tidak mau punya masalah, ya jangan hidup (lho? hehe :P). Masalah lah yang membuat hidup lebih ‘hidup’ (oops… bukan bermaksud iklan ya). Setidaknya (bagi saya), masalah adalah salah satu tanda bahwa Beliau Yang Maha Segala sedang memperhatikan dan menyayangi saya.

Berikut pengamatan saya terhadap sebuah’ masalah’.

Ada seorang teman yang selalu bermasalah dengan bosnya. Berbeda pendapat, lantas bertengkar. Idenya tidak diterima, lantas ribut. Segan mengerjakan perintah, lantas berantem. Begitulah kurang lebih. Sang teman selalu berdalih bahwa si bos-nya itu lah yang sentimen dengan beliau, tidak suka padanya sehingga hubungan mereka tidak pernah harmonis, dan lain sebagainya dan seterusnya.

Di kemudian hari, sang teman memutuskan untuk berpindah pekerjaan, karena sudah tidak tahan dengan si boss dan masalah-masalah diantara mereka. Berharap semuanya akan berubah di tempat yang baru. Bidang pekerjaan yang baru, tugas dan tanggung jawab baru, teman-teman baru. Dan yang paling penting =>> boss baru.

Tetapi, entah kenapa, kembali sang teman ini bermasalah dengan boss barunya. Kembali sering berbeda pendapat hingga bertengkar hebat. Kembali ribut saat ide-nya tidak diterima si boss. Kembali berantem karena merasa perintah si boss tidak sesuai dengan job desk-nya. Dan kembali sang teman mengeluh, bahwa boss baru-nya ini, sama saja dengan bossnya yang itu, ternyata boss barunya tersebut begini dan tidak begitu, dan sebagainya dan seterusnya.

Hmm…

Dari kisah sang teman ini, saya sampai pada kesimpulan bahwa, (mungkin) berapa kali pun sang teman berpindah kantor, berganti teman kerja dan berubah atasan, jika beliau tidak bersedia ‘mengubah’ dirinya sendiri, masalah yang -kurang lebih- sama akan selalu datang. Betul tidak ya?

Saya percaya, saat sebuah masalah ‘diizinkan’ terjadi dalam kehidupan saya, itu karena Beliau Yang Maha Penyayang bermaksud menyuruh saya untuk belajar, untuk bercermin diri, untuk tetap bersyukur, untuk selalu menghamba. Tujuan lebih lanjutnya lagi adalah, (mungkin) dengan masalah itu saya diharapkan bisa ‘lulus’ ujian, dan kemudian naik ke kelas berikutnya.

Nah, jika ternyata saya masih saja diberi masalah yang -kurang lebih- sama, atau bermasalah dengan orang yang sama, atau saya mencoba mengatasinya dengan cara yang -kurang lebih- sama, bukankah bisa diartikan saya masih saja berada di ‘kelas’ yang sama? Artinya saya tidak mampu belajar. Artinya saya tidak pantas naik kelas. Artinya saya tidak berubah menjadi lebih baik.

Dan karena Tuhan Maha Penyayang, maka Beliau akan kembali berikan ‘masalah’ itu pada saya, agar supaya saya berpikir dan belajar darinya, sampai saya mengerti dan betul-betul paham, sehingga saya pantas diluluskan dan kemudian dimasukkanNya saya ke dalam kelas-kelas berikutnya.

Saya sama sekali tidak menganggap teman saya ini tidak belajar atau tidak lulus ujian atau tidak naik kelas lho ya. Saya hanya sedang mencoba menganalisa dan mempelajari sesuatu, bahwa ternyata ‘masalah’ mau tidak mau harus dilawan dengan ‘perubahan’.  Sekecil apapun perubahan itu saya lakukan -entah perubahan sikap, sudut pandang, atau cara penyelesaian-, yang penting perubahan ke arah yang lebih baik. Sehingga ‘masalah’ yang saya terima akan lebih meningkat. Sehingga kelas saya akan lebih menaik.

Well, selamat datang ‘masalah’ 🙂

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: