Rindrianie's Blog

Mata yang Tak Bisa Ditukar

Denting lonceng kecil di atas pintu membuatku segera terjaga dari kantuk yang sempat singgah.

“Selamat malam, Sir,” sapaku ramah. Pelanggan itu adalah seorang pria gempal dengan perban besar di mata kiri yang hanya mengangguk masam mendengar salamku. Ini adalah hari pertamaku bekerja di toko antik milik Tuan Lumus, dan pria besar di depanku ini bisa saja menjadi petaka.

“Aku ingin mengembalikan ini.” Pria itu mencari sesuatu di saku kanan jaket coklatnya, butiran halus salju bertebaran di sana sini seperti ketombe.

“A-apa itu?” tanyaku gagap, bercampur gugup. Di depanku, Si Pria Besar meletakkan sebuah kotak bening berisi sebutir bola mata!

“Ck.” Pria itu menatapku kesal, meski wajahnya hanya dihiasi mata kanan belaka, tatapan itu tetap saja mengintimidasi. “Mana Lumus?” tanyanya garang, membuatku terpaksa menelan ludah dengan susah payah. Keterkejutanku akan sebutir bola mata belumlah tuntas, sekarang harus pula aku meredam kemarahan Si Pria Besar.

“Tuan Lumus pulang untuk makan malam bersama istrinya,” jawabku terbata. “Dan Tuan Lumus memberitahuku setiap benda yang sudah dibeli tidak dapat ditukar.”

Si Pria Besar mengerang. Dan sekali lagi menatapku, hanya dengan mata kanannya tentu saja, dengan pandangan yang tak bersahabat.

“Aku ingin sebuah bola mata yang istimewa, bukan terlampau ajaib semacam ini,” tunjuknya pada kotak bening berisi bola mata.

“Oh?” Aku masih berusaha mencerna permasalahan yang kuhadapi. Aku pikir toko antik ini hanya menjual barang-barang tua yang antik, seperti seharusnya. Maka sebutir bola mata yang ingin dikembalikan oleh pembelinya menurutku tidaklah sepatutnya terjadi.

“Aku hanya ingin kembali melihat seperti dulu,” katanya seraya menunjuk perban di mata kirinya. Bisa kubayangkan tak ada bola mata di sana. “Tapi si bola mata terkutuk ini membuatku melihat hal-hal yang…”

“Yang… apa?” tanyaku penasaran.

“Yang tidak ingin aku lihat!” Bentakan Si Pria Besar sekali lagi menciutkan nyaliku yang sudah mengkeriut sejak tadi. Semoga Tuan Lumus segera kembali ke toko, bisikku dalam hati.

“Maaf…”

“Aku tidak ingin melihat sesuatu di balik tembok, melihat apa yang dipikirkan orang lain, apalagi melihat mimpi manusia-manusia di dekatku. Aku ingin mata yang biasa-biasa saja.”

“A-apakah mata itu juga bisa melihat masa depan?” Aku tak bisa menahan diri untuk bertanya. Alangkah menakjubkannya bisa melihat sesuatu yang akan terjadi, bukan? Aku bingung kenapa Si Pria Besar malah ingin menukarnya. Aku menatap bola mata dalam kotak bening dengan ketakjuban yang berbeda.

“Ya.”

“Wow!” jeritku. “Tapi maaf, Sir, aku tidak bisa menerimanya.”

“Tidak perlu mengembalikan uangku, aku hanya menginginkan bola mata yang lain.”

“Aku tidak tahu dimana Tuan Lumus menyimpan bola mata yang lain, Sir,” jawabku cepat. “Dan bukankah menyenangkan memiliki mata yang ajaib seperti itu?”

“Kau mau menukarnya dengan matamu?” Hah? Menukarnya dengan mataku? Si Pria Besar ini gila rupanya.

Tapi anehnya, aku mengangguk. Lantas mengeluarkan bola mata kiriku, menyerahkannya pada Si Pria Besar yang sumringah tersenyum lebar.

“Terima kasih, anak muda,” katanya seraya melangkah keluar, meninggalkan denting bel di atas pintu bergema. Berikutnya aku membuka si kotak bening, mengeluarkan bola mata -yang menurut Si Pria Besar ajaib- lantas memasangnya dengan hati-hati. Saat itulah aku melihat Si Pria Besar yang tertidur di dalam peti mati, tanpa mata kiri.

***

Note: 499 kata. Maafkanlah keabsurdannya ya hihihi. Untuk Monday Flash Fiction Prompt #69: Melukis Mata

0 Comments

  1. chocoVanilla

    Lho, trus mata kirinya yg baru ke mana ya?

    Kukira tadinya si aku yang melihat dirinya sendiri terbaring di peti mati :mrgreen:

    Reply
    1. Orin (Post author)

      wah iya ya buCho, kok malah ga kepikiran tadi pas nulis hahahaha

      Reply
  2. rinasusantiesaputra

    ada aja orin idenya , tp iya mata kiri baru si pria besarnya ke mana

    Reply
  3. Arman

    waaa nyesel dah…

    Reply
  4. jampang

    enak kayanya bisa gonta-ganti mata

    Reply
  5. Okti D.

    mencekam…

    Reply
  6. JEI~Jurnal Evi Indrawanto

    Beda mata (sudut pandang) beda pula yang dilihat. Sungguh indah mata kita 🙂

    Reply
  7. sulunglahitani

    surealis yg nanggung Mbak Orin. Terburu2 di ending. Lalu dia lihat pria besar di peti itu di mana?

    Reply
    1. Orin (Post author)

      iya Lung, endingnya emang buru2 bgt, coz keasyikan nulis ga nyadar udh hampir 500 kata, jadi lgsg dicut hahahaha. Kepengen aku convert jadi cerpen sih somehow

      Reply
  8. Bibi Titi Teliti

    Oriiiin…
    saranku adalah…
    mendingan buruan nonton Kdrama I Hear Your Voice yang diperankan sama Lee jong Suk, soalnya disitu dia punya kekuatan…hanya dengan tatapan mata yang menghujam langsung bisa membaca pikiran lawan bicaranya…keren banget lah itu!
    Bisa banget untuk dijadikan bahan refenrensi kalo mau bikin fiksi kayak gini Riin…beneraaaan!!!
    *misi ngeracun jalan teruuuus…hihihi…*

    Reply
    1. Orin (Post author)

      eyampun, ci Bibi ngga kapok ya ngeracunin hahahaha 😛

      Reply
  9. Anindita Hendra

    Wow! Mbak Orin ini idenya adaaaa aja! *efek baca sambil terkagum-kagum*

    Reply
  10. danirachmat

    Keren Rin. Terlalu biasa dan tragis kalo yang dia lihat dirinya sendiri. Bagus. Bisa dikembangjan lebih lanjut.

    Reply
  11. procomil spray

    istimewa mbak, salut dengan mbak

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: