Rindrianie's Blog

Melepas Ibu

Gambar milik Nurul Noe

Genggaman tangan ibu dalam genggamanku semakin kuat, aku membelainya lembut dengan tangan kananku. Menatap tangan keriput yang ringkih itu perlahan-lahan. Tangan yang sama pernah begitu kuat memelukku di pangkuannya, pernah menggenggam tangan kecilku saat aku masih berjalan tertatih, pernah membelai kepalaku hingga kutertidur.

“Ikhlaskanlah Ibu, Mas.” seperti berbisik, suara Arini adikku menyapa telinga. Aku bergeming. Tetap mengelus tangan keriput ibu di tanganku, menolak mengerti apa maksud ucapan adikku itu. Aku pernah menjadi bagian dari perempuan ini, sembilan bulan lamanya aku berada dalam dirinya, perempuan inilah jalanku menemui alam semesta, perempuan ini adalah segalanya.

Detik berikutnya nostalgiku berkunjung ke masa lalu. Masa di mana Ibu, untuk entah ke berapa kalinya, menjadi pahlawan bagiku.

“Kamu harus berani, Nak.” ucapnya saat itu tegas, “Di ujung jembatan ini, ada sekolah yang bisa membuatmu pintar, guru-gurumu di sana akan membantumu menjadi orang berguna kelak.” Tapi aku malah menangis meraung. Aku bukan takut menyeberangi jembatan bambu yang terayun-ayun di atas sungai berair deras. Aku hanya tidak suka meninggalkan kenyamanan rumah dan kehangatan Ibu, tidak demi sekolah, tidak demi apapun.

“Ibu antar ke sana ya, Nak.” tangan itu, tangan yang sama yang kini ada dalam genggamanku, meremas jemari kecilku penuh kasih, memintaku berani. Β “Kuatlah, Nak. Karena kamu lelaki, karena kamu anak Ibu.” tambahnya lagi seraya membersihkan pipiku yang sebelumnya gerimis. Membuatku tak punya pilihan lain, aku tak mau mengecewakannya, tidak untuk alasan apapun. Dan hari pertamaku sekolah berjalan dengan sempurna seperti seharusnya, karena aku tahu Ibu ada di sana, menemaniku.

Aku menatap wajah perempuan terkasihku itu sendu, wajah tirusnya membuatku pilu. Kepergian Ayah saat aku dan Arini masih kecil membuat Ibu adalah segalanya bagi kami, bagi aku. Dan aku tak pernah siap kehilangan Ibu.

“Mas…” lagi, adikku menyapa, suaranya parau karena terlalu lama menangis. Genggaman tangan Ibu pun semakin melemah. Apakah ini memang sudah waktunya? Aku ikut menangis, kali ini tanpa air mata. “Ibu bertahan karena menunggu Mas pulang. Sekarang Mas sudah ada di sini, ikhlaskan Ibu, Mas. Lapangkan jalannya.”

“Bu…” susah payah, aku mencoba berkomunikasi dengan Ibu. Tapi aku yakin Ibu sudah tahu apa yang ingin aku katakan padanya, karena samar, aku melihat bibirnya tersenyum, seiring tangannya yang terkulai terlepas dari genggamanku.

Sampai jumpa di surga ya, Bu. Bisikku perlahan.

***

Note : 365 kata, ditulis khusus untuk Monday Flash Fiction

0 Comments

  1. LJ

    sampai bertemu kembali, bu.

    cerita yang menyentuh dari Orin.. bagus!
    ___
    tengkyu Maaak *ketjup*

    Reply
  2. liannyhendrawati

    Ibu adalah sosok yg tak akan pernah terlupakan oleh sang anak ya. Smoga damai di surga, Ibu ..
    ___
    Semoga ya. Makasih mbak^^

    Reply
  3. titi esti

    Pipiku ikut gerimis
    ___
    *sodorin tissue*

    Reply
  4. noichil

    Sedih Mbak :”(
    ___
    *pukpuk Noichil*

    Reply
  5. abi_gilang

    Selalu terbawa suasana kalo akang baca tulisan Orin, cerita haru yaa ikut terharu…cerita ngocop yaaa ikut ngakak πŸ™‚ lanjuuuut Orin.
    ___
    heuheu…hatur nuhun kang^^

    Reply
  6. Carra

    πŸ˜₯
    ___
    *pukpuk mbakyu*

    Reply
  7. monda

    “perempuan inilah jalanku menemui alam semesta,
    suka pilihan kata2 yg ini Orin,..,jempol
    ___
    Makasih Bun^^

    Reply
  8. dey

    jadi inget alm Mbah putrinya Fauzan .. hiks
    ___
    Punten ya Bu πŸ™

    Reply
  9. Wong Cilik

    aku terhanyut dalam ceritanya …
    jempol …
    ___
    Tengkyu Wong^^

    Reply
  10. Indi

    aww :’)
    ___
    πŸ™‚

    Reply
  11. saidah

    Aaaaaaahh *mewek* πŸ™
    ___
    pukpuk Idang*

    Reply
  12. Esti Sulistyawan

    Huaaa…hari ini mbaca FF sedih mulu πŸ™

    Reply
  13. ~Amela~

    teteh jahat, udah bikin aku mewek :'(

    Reply
  14. Lyliana Thia

    duh pengen nangis deh Orin..

    aku skrg sedang dalam posisi itu Rin.. merasa bahwa aku adalah segalanya buat Vania.. tangguh seperti seorang bapak, juga pengertian sebagai ibu, dan itu tantangan yang luar biasa…

    btw, Oriiiiiiinnnn.. maafkan akuuu ketinggalan kuisnya kemarin… huaaa.. maaap.. x_x

    Reply
  15. η©Ίγ‚­γ‚»γƒŽ

    Udah menduga sih endingnya bakal gitu, tapi tetep aja sedih bacanya. Huhuhu… :'(

    Reply
  16. widauwid

    terharu, sedih ngaduk-ngaduk perasaanku mbak, jadi ingat waktu kecil jadi ngebayangin ibuku dan jadi ngebayangin diriku sendiri di masa depan hiks

    Reply
  17. della

    Sedih, Rin.. :'(

    Reply
  18. Latree

    menyentuh..

    tapi ndak ada twistnya 😐

    Reply
  19. Zizy Damanik

    Ceritanya menyentuh sekali Rin….

    Reply
  20. Lidya

    Semoga ibu tenang disana

    Reply
  21. noe

    Hiks.. sedih.
    Mba boleh mitna tolong credit fotonya di link ke blogku? makasih πŸ™‚
    ___
    sudah aku edit ya mba πŸ˜‰

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: