Rindrianie's Blog

Menunggu Pulang

sumber gambar : deviantart

Seminggu lalu

“Tidak, jangan jemput aku sekarang,” iba perempuan tua itu, menatapku dengan pandangan memohon.

Aku terkejut, bagaimana mungkin dia bisa melihatku? Kusembunyikan wajahku di balik tudung lebih dalam.

“Aku tahu, waktuku sudah menipis, aku sudah akan segera pulang, tapi jangan sekarang,” lanjutnya lagi, mulai terisak. Tapi mungkin dia hanya meracau, mengigau tak jelas karena sakit yang dideranya terlalu lama. Atau, mungkin dia bisa merasakan kehadiranku, tidak dengan inderanya, hanya insting dan praduganya sendiri.

“Aku ingin menunggu anakku pulang, anak lelakiku satu-satunya. Kau bisa menunggu, kan?” tanyanya lagi, kini air matanya berderai-derai. Membuatku semakin bungkam.

Tapi kedatanganku memang bukan untuk menjemputnya, aku hanya sedang berkunjung, nama perempuan itu sudah ada di daftarku, tapi aku tahu waktu kepulangannya bukan sekarang. Aku pergi tanpa kata, meninggalkan perempuan itu tersedu sendiri.

**

Tiga hari lalu

Aku datang lagi, perempuan tua itu semakin tirus. Ada perempuan muda yang sedang menatapnya sedih.

“Sudahlah, Ma. Anggap saja Rico sudah mati, dia sudah jadi penjahat, Ma, dikejar-kejar Polisi.”

“Tapi dia tetap anak Mama, Mia.”

“Iya, tapi Mama tak perlu menunggunya,” ujar si perempuan muda hati-hati.

“Tidak bisa, Mia, Mama ingin bertemu dengannya, sekali lagi saja.”

Hening yang senyap. Perempuan tua itu menoleh ke arahku, diikuti perempuan muda yang terlihat bingung apa yang dilihat ibunya.

“Dia sudah sering datang, Mia.”

“Dia siapa, Ma?”

“Malaikat maut.”

“Mama jangan ngomong begitu,” tukas si perempuan muda cepat, menciumi pipi keriput perempuan tua yang terbaring lemah.

“Waktu Mama sudah hampir habis, Mia. Tapi Mama sudah katakan padanya, Mama ingin menunggu Rico dulu.” Si perempuan muda hanya tersedu, lantas memeluk tubuh ringkih perempuan tua yang sudah seperti jerangkong, hanya tulang yang terbalut kulit, tubuhnya nyaris tipis.

Aku tetap diam. Tanda yang kuperlukan untuk menjemput perempuan tua itu belum ada. Maka aku pergi dalam sunyi.

**

Kemarin

“Rico masih belum pulang, Mia?” tanya perempuan tua itu lemah. Si perempuan muda hanya menggeleng, dan tak berapa lama ibu dan anak itu berangkulan, saling bertukar air mata kepedihan.

“Apa jawabku pada Tuhan kelak jika Dia bertanya tentang Rico, Mia? Aku ibu yang tidak becus mengurus anak.” Perempuan tua itu meratap, berkali-kali memanggil nama anak lelakinya yang entah berada di mana.

Aku mencari-cari tanda, dan belum juga kutemukan. Sekali lagi aku pergi.

**

Lima menit yang lalu

“Aku harus menjemputmu, Ibu,” kataku pada si perempuan tua yang sedang merapal takbir. Dia menoleh, mencari-cariku yang tak bisa dia temukan. Sementara tanda yang kuperlukan untuk menjemputnya sudah terlihat jelas, aku tahu aku harus mengajaknya pulang.

“Tapi….tapi Rico belum pulang, bolehkah aku menunggunya?” isaknya penuh permohonan. Aku tersenyum, miris. Bagaimana mungkin dia lupa aku adalah robot yang tak bisa melawan sistem, budak yang tidak mungkin menolak perintah?

Kuraih tangannya yang keriput, dan perempuan tua itu tidak melawan, dibiarkannya aku memisahkan dirinya dari tubuh jerangkongnya. Perempuan tua itu menatap tubuhnya sendiri untuk terakhir kali, matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya tersenyum.

Aku ikut tersenyum, setiap manusia memang merindukan untuk pulang. “Tenang saja, Ibu, Rico akan segera menemui Ibu nanti,” kataku tenang, membuat perempuan tua itu tersenyum semakin lebar.

Note : 495 kata, ditulis khusus untuk MFF Prompt #55: Sang Penjagal

0 Comments

  1. bukanbocahbiasa

    Hmm, jadi si Rico ini udah meninggal duluan gitu ya, teh? Atau, dia sedang dlm antrian malaikat maut?

    Reply
  2. titi esti

    Gambarnya sereemmmm…
    Ceritanya bikin sediih…

    Reply
  3. linda

    jadi inget film korea yg ada angka 49-nya hehehehe

    baguus

    Reply
  4. jampang

    mau. tak bisa dimajukan atau diundur. datangnya tepat waktu

    Reply
  5. junioranger

    aku malikat maut, keren, ternyata meski POv orang pertama tp tak harus menjelaskan siapa aku ya. aku perlu belajar banyak nih 🙂

    Reply
  6. rizki wulandari

    Hiks. Jadi inget Mak Uwe (nenek) aku..

    Reply
  7. Attar Arya

    narasinya bagus, ceritanya mengharukan. sedikit mengganjal buatku adalah kedatangan el maut yang berkali-kali itu apa maksudnya coba? 🙂

    Reply
  8. Mechta

    aiih… membaca cerita2nya Orin selalu bikin nagih…. jempoool buat si Eneng.. 🙂

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: