Rindrianie's Blog

Merindu Hutan

Rumah orang tua saya terletak di sebuah desa, Leuwikujang namanya, salah satu desa yang ada di Kecamatan Leuwimunding. Masih belum bisa menemukannya dalam peta?? Baiklah, Leuwimunding adalah satu dari sekian kecamatan di Kabupaten Majalengka. Majalengka dimana? yaoloooohhh… masih daerah Jawa Barat, kalau dari bandung kurang lebih 3-4 jam perjalanan menuju Cirebon, bersinggungan dengan Sumedang, Indramayu dan Kuningan. Tidak terbayang juga? Sungguh t.e.r.l.a.l.u sigh

Kampung saya itu cukup dekat dengan hutan. Saya ingat saat kelas 6 SD, saya dan serombongan teman-teman bersepeda masuk hutan antah berantah (maksudnya kami belum pernah ke hutan itu sebelumnya), dan membuat salah satu teman saya kesurupan karena -katanya- kemasukan entah apa dari hutan tersebut.

Masuk SMP, saya menjadi anak Pramuka yang sering sekali keluar masuk hutan untuk kemping atau sekedar mencari jejak dalam acara Jambore. Saat SMU, saya pernah berpetualang di hutan belantara saat mendaki gunung Ciremai. Kuliah di Jatinangor? kampus saya sendiri bisa dikatakan bagian dari hutan yang gersang ups. Bekerja di Jakarta lah yang membuat saya sulit dan jarang sekali bersentuhan dengan hutan. Terlalu bvanyak mall, terlalu banyak apartemen, terlalu banyak pertokoan, terlalu banyak perumahan mewah.Phew.

Sebagai seorang yang sangat akrab dengan hutan, saya tidak bisa terlalu lama terpisahkan oleh aroma hutan. Maka seringkali saya menyengajakan diri berkunjung ke ‘hutan’ ini. Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda, berlokasi di Dago Atas Bandung, sehingga sering juga disebut “Dago Pakar” yang bisa saya datangi hanya dalam (kurang lebih) 3 jam perjalanan dari Jakarta. Pernah saya sengaja bertemu teman-teman di Bandung di sana, bahkan pernah juga saya mengajak seorang teman kantor berhiking ria di sana. Hutan ini tidak pernah membuat saya bosan.

This slideshow requires JavaScript.

Ya, itu adalah hutan buatan, yang membuat saya berharap dalam diam mungkinkah hutan serupa diciptakan di Jakarta yang sudah panas dan gersang ini? Melihat pohon-pohon reklame tergantikan dengan pohon rimbun nan hijau itu? (mungkin) hanyalah sebuah mimpi belaka. Bahkan, kawasan Dago atas dan sekitarnya pun kini banyak bermunculan villa-villa dan restoran yang menjanjikan view indah di sana. Membuat pohon semakin sedikit, menjadikan hutan bertambah sempit 🙁

Wahai kawan, tengoklah pohon menjulang yang menawan itu, pandangilah daun hijau mempesona itu, dengarkanlah orkestra khas hewan-hewan hutan itu, resapilah gemericik air sungai itu, tidakkan itu memabukkan? Saya merindu hutan-hutan hijau yang demikian.

Saya ingin sekali anak cucu saya kelak masih bisa menikmati hutan dan semua perangkatnya itu. Hutan yang sama seperti hutan tempat saya bermain saat kecil dulu. Semoga…


Tulisan sederhana ini semoga bisa menjawab tantangan Mas Alamendah, dan bisa dianggap sebagai partisipasi dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup tanggal 5 Juni kemarin 🙂

0 Comments

  1. Mama Cal-Vin

    asyik ya masih bisa lihat hutan, sejuk.
    kalau disini seringnya lihat hutan beton 🙂

    Orin : Iya mba Lid, suka Orin mah main ke hutan, di sini susaaah 🙁

    Reply
  2. Mabruri Sirampog

    hutan antah berantah bun?? hihih,, seperti dalam backsound saya.. 😀

    Iya semoga saja makin banyak hutan2 yg tumbuh di kota2 besar, biar bisa merasakan kesejukan dan kesegaran….

    Orin : Iya Mab, lumayan banyak hutan antah berantah kalo di kampung saya mah 😀

    Reply
  3. lozz akbar

    Leuwi itu artinya goa ya mbak Orin? sebenarnya semua orang bisa menciptakan hutan, meski hanya menanam pohon di sekitar pekarangan rumah, setidaknya bisa menjadi habitat buat sekawanan spesies satwa. yah meskipun hanya sekumpulan burung..
    apik artikelnya mbak, ai lophe dis

    Orin : Bukan mas, Leuwi itu lebih tepat kalo diartikan sebagai “telaga” 🙂
    Yup, di belakang rumah ortu saya ada juga kebun berisi pisang, talas, kelapa, sirsak dan semacamnya, lumayan ‘ramai’ oleh satwa kebun ^^

    Reply
  4. tunsa

    ajak saya ke sana donk bu…hehehe…rame2 hiking pasti seru!
    jadi inget masa lalu, hehe

    Orin : hayuuuu…waktu itu saya udah jalan kaki mulai Simpang Dago, rajin pisan heuheu

    Reply
  5. bundamahes

    Teteeeeeeeeeh…saya diajak (baca : ditraktir) kesana doooooonk!

    Orin : Yuk kita kopdaran di sana yuuuk 😉

    Reply
  6. nia/mama ina

    kalo saya dr kecil udah tinggal di jakarta, jadi jarang lihat hutan…palingan lihat hutan kalo ke rumah saudara2 di tasikmalaya atau di jasinga

    Orin : dan hutan-hutan itu ngangenin kan mba Nia? 😉

    Reply
  7. melly

    klo rumahku jauh dr Hutan, lagian keknya sekarang hutan2 yg sering kudatangi dulu sudah berubah jadi ladang jagung semua.

    Orin : Waduh? sayang jg ya hutannya berubah jadi ladang jagung 🙁

    Reply
  8. Mechta

    Artikelnya apik & pic-nya keren2… 🙂 Selamat hari lingkungan, Orin… Semoga impian kita utk hidup bersanding dg pepohonan nan hijau…bisa kesampaian…

    Orin : Aamiin, semoga ya Auntie ^^

    Reply
  9. hilsya

    sayah kamari ka sangiang.. rada kapok ah…bdg – mazlenk muacettt!

    Orin : hah? ih…meni ga mampir *manyun mode : ON*

    Reply
  10. Arif Bayu

    Wah foto slidenya bagus banget mbak

    Orin : makasih Bay 😉

    Reply
  11. Lyliana Thia

    Sama Rin… ingin anak cucu mengenal hutan juga… akankah terwujud…? mungkin kuncinya di gaya hidup kita sekarang ya… supaya anak cucu kita nggak tersesat di hutan belantara Mall… Selamat Hari Lingkungan Hidup…

    Nice post, Rin… 😀 *jadi pengen hiking*

    Orin : Aamiin…semoga ya mba.
    Yuk…yuuuk, kita hiking yuk *semangat ’45*

    Reply
  12. joe

    mari kita jaga hutan kita, paru-paru dunia ….

    Orin : Yuk mariiii… 😉

    Reply
  13. alamendah

    Terima kasih akhirnya ikut menjawab “Tantangan untuk Para Blogger”.

    Kerap kali saat mengalami kejenuhan dengan rutinitas sayapun ‘menyepi’ ke hutan dan gunung.

    Orin : Toss dulu ah sama mas Alam kalo menyepi di hutan 😀 😀

    Reply
  14. Pingback: Artikel-artikel Tentang Lingkungan Hidup dari Para Blogger | Alamendah's Blog

  15. arman

    dipikir2.. gua rasanya gak pernah ke hutan.
    padahal kalo ngeliat2 gambarnya kayaknya bagus ya… 🙂

    Orin : hah?? serius nih mas Arman? *takjub*

    Reply
  16. Cahya

    Sepertinya kita memang mesti mulai membuat hutan sendiri, karena dengan laju kerusakan yang terjadi, akan cukup lama membuat hutan bisa pulih dengan sendirinya.

    Orin : Sepakat Bli…

    Reply
  17. harestyafamily

    Hutan di Jakarta? Ide yang bagus…tapi letaknya di mana ya?

    Salam,
    Keluarga Harestya

    Orin : Letaknya? menggantikan mall2 besar yang ada di mana-mana itu 😀

    Reply
  18. akhnayzz

    keren banget itu idenya>>>
    semoga saja bisa terlaksana…

    Orin : Tengkyu mas. Semoga ya ^^

    Reply
  19. choirul

    rumah saya juga dekat dengan hutan lho, dulu waktu SD saya juga diajak ibu saya nyari kayu di hutan… tapi kayu bakar….

    Reply
  20. sedjatee

    tolong dijaga ya hutan yg dekat kampungnya
    insyaAllah itu adalah kebaikan yang bernilai ibadah..

    sedj

    Orin : InsyaALLAH mas Sedj 😉

    Reply
  21. isnuansa

    Saya taunya Leuwigajah. *disepak*

    Itu airnya meuni bening pisan…

    Orin : Leuwipanjang juga tau kan mba Is? heuheu

    Reply
  22. dmilano

    Saleum,
    Panorama hutan memang bagus bagus ya, mudah2an saja hutan kita bisa terselamatkan demi masa depan generasi selanjutnya
    saleum dmilano

    Orin : Aamiin, mudah2an ya Bang 🙂

    Reply
  23. kangto

    Walaupun susah, tapi jika ada usaha InsyaAllah bisa juga ada hutan kecil di tengah Ibukota Jakarta.

    Orin : Semoga ya kang, akan sangat menggembirakan jika Jakarta punya hutan kota..

    Reply
  24. bintangtimur

    Hutan juga selalu bikin saya rindu, Orin!

    Mungkin itu juga yang membuat saya nyambung dengan suami, kami ini sesama pencinta alam, bukan pencinta mall… 😀

    Reply
  25. Fonega

    jaga hutan sampai mati bila perlu 🙂

    Reply
  26. dewifatma

    Desaku juga nggak kliatan di peta..hihihi… Padahal sebelahnya gunung merapi, tempat mamaku dulu nyari kayu bakar. Bah, serunya!

    Jadi home sick, ane….

    Reply
  27. dey

    sampai saat ini, setiap hari saya masih bisa melihat gunung & hutan pinusnya, juga kebun teh. Yuk sekali2 kalo ke Bandung mampir kesini …

    Reply
  28. fax from computer

    Saya sangat senag ketika bermain bersama teman di dalam hutan kecil di dekat rumah kami. Waktu itu yang menjadi favorit kami adalah berburu “honje”, sambil ngaliwet selepas pulang sekolah..

    Salam kenal teh.

    Lukman, urang cianjur

    Orin : Hai urang Cianjur, saya pernah jg nyasar ke sana heuheu…

    Reply
  29. Imelda

    mau tanya dong leuwi itu ada artinya ngga? Seperti Ci = air. Sering dengar Leuwixxxx tapi tidak bisa menarik garis merahnya.

    Hutan Dago ya? Ntar kalo mudik mau ke sana ah
    Di tempat tinggalku, meskipun Tokyo banyak sekali taman besar kecil, ada yang menyerupai hutan. Dengan bersepeda 20 menit sudah sampai di Shakujii Kouen (silakan cari di index TE kalau mau lihat fotonya)

    Well, akan ke mana Indonesia tanpa hutan ya?

    EM

    Orin : Leuwi itu artinya kurleb telaga/danau mba.
    Mgkn itu yg membedakan negara maju ya mba, mereka lebih concern soal lingkungan hidup begini 🙁

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: