Rindrianie's Blog

Modifikasi

Bukan, saya tidak sedang membicarakan modifikasi motor atau semacam itu, hanya beranalogi saja. Walaupun saya bekerja di perusahaan otomotif, maafkan saya tetap tidak mengerti mesin, maupun istilah-istilah permotoran lain layaknya yang sering ditemukan di majalah otomotif. Mohon dimaklumi jika ada ungkapan per-modifikasi-an yang kurang tepat ya.

Okay then. Mari mulai berimajinasi.

Ceritanya adalah  saat akan membeli sebuah motor. Biasanya, hal yang akan dilakukan adalah meneliti data spesifikasi dalam brosur/katalog dengan cermat, mengamati body motor secara detil, mengetes rem-gas-kopling-lampu sein dan klaksonnya, mengecek tangki bensin + oli, menimbang-nimbang warna mana yang akan dipilih dari varian yang ada, lantas baru bernegosiasi harga.

Nah, sebelum transaksi pembelian dilakukan, sudah terbayangkan di kepala, sebuah motor modifikasi dari motor yang akan segera dibeli ini. CDI-nya harus racing, knalpotnya bobokan aja, tapi headlight dibuat smoke, double seat polkadot sepertinya lucu, sementara spion-nya pake yang bulet gaya retro, cat body nanti diganti warna candy caramel (hahaha….), merubah striping jadi bertema anime, plus pemasangan side box kanan kiri. Gambaran sketsa bin skenario oke, baru lah motor tersebut dibeli.

Begitu motor tersebut sampai di rumah, mulailah proses modifikasi tersebut dilaksanakan satu per satu, bagian demi bagian dipreteli, diganti dengan yang baru bahkan dihilangkan sama sekali. Sehingga voila, terciptalah motor yang ‘sempurna’ hasil modifikasi itu, motor yang sama sekali baru, motor yang berbeda dari deskripsi spesifikasi dan foto di katalog.

Nah, pernahkah Anda (merasa) menjadi motor ‘modifikasi’ seperti itu? Well, saya pernah mengalaminya, jadi ini ceritanya pengalaman pribadi tentang sebuah ‘penerimaan’ yang bersyarat hohohoho.

Intinya adalah, sebuah proses tidak-menjadi-diri-sendiri karen ”cinta’ (bah! :P). Kenapa saya teringat dengan episode hidup yang ini? Adalah karena saya melihat gejala-gejala yang mengindikatorkan hal tersebut dalam seorang sahabat saya. ‘Gejala’ itu misalnya saja menerima pernyataan-pernyataan semacam berikut dari pasangan :

  • kayaknya kamu kurang cocok deh kalo pake baju yang itu

  • ibuku sih suka berbuat anu kalo pas aku lagi anu

  • lain kali jangan begitu ya aku ga suka

  • coba liat deh si anu, dia ga kayak kamu yang selalu beginu (begini dan begitu maksutnyah :P)

de es be, de el el

Saya mengerti setiap dari kita harus selalu terus memperbaiki diri, berubah ke arah positif, bertumbuh menjadi pribadi yang ‘lebih’. Tapi saya juga percaya, bahwa semua orang pada awalnya adalah ‘ulat’ yang perlahan tapi pasti akan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang jelita. Dan metamorfosa itu adalah proses di ‘dalam’, tidak dengan dibanding-bandingkan dengan si X oleh si Z, bukan dengan sindiran atau bujukan ‘terselubung’, yang jelas tanpa adanya paksaan maupun judgement subyektif.

Saya pikir, menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan kita, -seperti halnya kita juga berharap beliau itu melakukan hal yang sama terhadap (banyak) kekurangan dan kelebihan kita-, adalah hal yang sangat krusial dalam sebuah relationship. Tidak membuat ‘agenda’ modifikasi dengan target dan tujuan akhir mengubah si dia menjadi seperti yang kita inginkan. Atau memaksakan standar yang biasa kita pakai untuk harus  juga dipakai olehnya. Atau yang lebih menyeramkan lagi, membuat berbagai macam ‘syarat’ yang mewajibkan sang pasangan melakukan ini dan itu for the name of love.

Plus, saya pikir setiap pasangan harusnya bertumbuh bersama-sama. Saling memperbaiki, saling mengkoreksi, but yet, saling menghormati satu sama lain untuk tetap ‘menjadi diri sendiri’ yang sedang bermatamorfosa menjadi secantik sang kupu.

Begitulah. Saya berharap ‘gejala’ yang dialami sahabat saya itu tidak mengindikasi kesana. Karena bagi saya,  sulit sekali berbahagia dengan menjadi ‘orang lain’ -yang bukan diri saya-, demi seseorang yang saya cintai. Dan hal tersebut saya jadikan ‘pertanda’ untuk segera menyerah dan mencari cinta yang sesungguhnya (halah….cuih pisaaannn :P) saat itu.

Tidak, saya tidak sedang berdoa sahabat saya itu untuk mengikuti ‘jejak’ saya dengan menyerah pada kekasihnya itu. Toh setiap orang memiliki persepsi dan argumentasinya masing-masing. Yang kemudian bertanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan yang diambilnya. Tulisan ini saya buat untuk mengingatkan saya sendiri, bahwa hanya pribadi bahagia yang mampu membahagiakan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Itu saja..

PS : Yes, I am happy with you, Yang 🙂

0 Comments

  1. ilmaffectional

    huffff…. harusnya gw baca ini duluan ya sebelum melakukan berbagai kesalahan sehingga akhirnya kejadian itu terjadi.. tapi harusnya sih gak salah2 amat ya.. yg salah ya yg berjanji namun tidak menepati..

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: