Rindrianie's Blog

Mute

Hai temans, apa kabar? 😉

Pernahkah teman menonton film Click-nya Adam Sandler itu? Iya, film komedi yang cukup serius, tentang memiliki sebuah remote ajaib multifungsi yang bisa mem-fast forward, bahkan mem-slow motion-kan adegan di sekelilingmu. Intinya, film ini -secara tidak langsung- mengingatkan sang penonton untuk menikmati hidup di hari ini, di jam ini, di detik ini. Mensyukuri yang sedang -dan atau tidak- terjadi, karena memang waktu tidak bisa dihentikan apalagi diputar ulang.

Tapi Minggu sore, tidak bisa tidak saya ingin sekali memiliki si remote ajaib itu. Saya berandai berkhayal untuk bisa sekali saja menekan tombol “mute” di sana untuk menghilangkan suara-suara menyebalkan di depan rumah. Kenapa? Begini ceritanya temans.

Oh iya, sebelumnya saya mohon maaf, saya tidak bermaksud untuk bersikap SARA atau semacamnya di sini ya. Postingan ini murni tulisan semi curcol saya atas sebuah adegan yang ingin sekali saya mute sekejap minggu sore itu.

Suami saya sedang sakit. Dari Sabtu sore demam, panasnya turun naik turun. Tapi teuteup bandel tidak mau ke dokter, asumsinya hanya flu biasa karena lelah. Ya sudahlah saya minta istirahat saja setelah minum obat warung. Dan seharian itu, saya melakukan ini itu dengan sebisa mungkin menghilangkan semua bunyi dan suara. Radio disetel sayup-sayup, saat menonton TV pun suaranya bisik-bisik, singkat kata, saya berusaha untuk tidak mengganggu waktu istirahat suami.

Nah, setelah lelah menyeterika dan sholat Ashar, saya pun ikut-ikutan merebahkan badan di kasur, syukur-syukur bisa tertidur sebentar. Tapi kemudian terdengar ‘keributan’ di rumah depan yang teramat sangat mengganggu.

Rupanya calon penghuni rumah depan datang berkunjung. Ayah, ibu dan 2 orang anak. Setelah saya intip, yang sulung anak lelaki sekitar kelas 1 SD, adiknya perempuan mungkin 2 tahun lebih muda. Dan ya ampuuuun, berisik! Mereka membawa ‘bekal’ sebuah bola yang (sepertinya) dimain-mainkan ke sana ke mari di rumah yang masih kosong itu. Berlarianlah mereka dengan berteriak menjerit. Si adik merengek minta abangnya membiarkan dia main, si abang juga balas teriak tidak mau, menangislah si adik dengan kencangnya. Kemudian, sang ibu -juga dengan teriakan nyaring- memarahi mereka berdua. Hening sesaat, dan kemudian berulang kembali berulang kembali berulang kembali.

Cerita belum berakhir hingga di situ teman.

Tak berapa lama terdengar suara motor lain mendekat. Kali ini rupanya pak mandor, tukang, atau mungkin kontraktor semacamnya lah yang datang. Si Bapak mengobrol dengan mas-mas yang baru datang ini. Dari percakapan mereka yang terdengar jelas karena suaranya begitu lantang walaupun tanpa toa, keluarga itu rupanya orang Medan, dan si mas-mas ini orang Madura. (sekali lagi, maafkan ya, tidak bermaksud SARA lho). Bercakap-cakaplah bapak, ibu dan mas-mas itu dengan volume maksimal, ditemani teriakan jeritan kedua bocah. Merusak suasana sore yang seharusnya bisa kami pakai beristirahat dengan aman damai sentausa.

Lebay? Iya sih memang 😛 Tapi tetap saja, saya berimajinasi betapa bahagianya jika saya bisa me-mute suara-suara tak diinginkan yang terjadi saat itu heuheu.

Walaupun, selalu ada hikmah yang bisa diambil dari setiap peristiwa. Setidaknya, saya sudah (dipaksa keadaan) mengikuti anjuran Nabi untuk tidak tidur siang setelah Ashar. Setidaknya suami saya akhirnya mau diajak ke dokter karena keributan itu membuat kepalanya pusing bin pening selain panas yang tetap naik turun. Setidaknya kami bisa menyiapkan diri (dan hati), untuk kemudian membiasakan diri jika calon tetangga betul-betul pindah di rumah itu nanti.

Dan yang paling penting, bersyukur atas kedua telinga yang masih diberi kenikmatan mendengar dengan baik ini. Alhamdulillah… 🙂

Have a great Tuesday, Pals 😉

PS : Oh iya, sampai hari ini matahari saya itu masih beristirahat di rumah. Panasnya di Minggu sore itu cuma 37 derajat, tapi karena naik turun tetap dikhawatirkan typus. Doakan besok sudah bisa ngantor dan beraktifitas seperti biasa ya temans 😉

0 Comments

  1. ~Amela~

    semoga cepet sembuh ya mataharinya teh 😀
    hahaha, tapi emang iya teh, orang madura itu kalau ngomong jadi lantang2..
    kalau udah pulang ke rumah, mel yang lemah lembut ini #plaak, ngomongnya jadi kenceng sampe urat leher bertojolan. hahaha

    Orin : Aamiin…tengkyu ya Mel *peyuuuuk*.

    Iyaa…kebayang deh itu si urat yg bertonjolan saat teriak2 *takjub*. Jadi ternyata yg lemah lembut pun suaranya kenceng kalo di sana ya heuheu

    Reply
  2. Diandra

    aq suka banget dengan filmnya
    andai qta bisa memiiki remote ituuu….
    *langsung menerawang*

    tapi memang kalau qta sedang cape jgnkan suara berisik,suara TV aja kadang gak mau qta denger….hehehe

    btw bwt mataharinya cepet sembuh ya…
    mudah2an tidak ada apa-apa

    Orin : film itu emang seru ya mam 🙂
    Aamiin…sepertinya udh mulai pulih, makannya udh lumayan bnyak he he he

    Reply
  3. Ni CampereniQue

    hehehe … sikonnya gak pas ya Rin 🙂
    besok2 kalo kalian sehat, pasti senanglah sama anak2 itu.
    jangan2 malah nanti mainnya pun ke rumah Orin terus
    *pengalaman pribadi*

    semoga mataharinya lekas bugar lagi yaa 😀

    Orin : heuheu…yg kecil itu lucu sih emang Kak, rambutnya kriwil2 gituh, mudah2an aja msh bs berteman baik nanti ya 😀

    Aamiin…tengkyu doanya Kak 😉

    Reply
  4. maminx

    hehe yang sabar ya teh..kehidupan bertetangga sama pentingnya dengan kehidupan berumah tangga ya. serba serbi memang tetangga kan ada yang datang darimana saja 😀

    udah kenalan kan teh dengan tetangga depan yang baru itu?oh sekarang tuh tinggal didaerah mana ya teh? perumahannya perumnas gitu tipe nya?

    Orin : masih di daerah harapan indah Minx, perkampungan biasa 😀

    Reply
    1. maminx

      ohh harapan indah aja disebut perkampungan..apalagi tempat saya atuh teh perumnas 2, mereun di sebat pelosok nya? hehe..sae atuh teh harp indah mah..

      sip2

      Reply
  5. Ngai

    Ateu, pokoknya akang matahari kudu istirahat yang bener biar sembuh.. makannya juga bubur aja dulu.

    Ateu yang sabar ya.. itu masih untung gak ditambahin cemprengnya suara Ngai. 😛

    *peluk Ateu.

    Orin : Lah, semalam doi malah minta dibeliin sate kambing Ngai >_<

    Reply
  6. rina

    yah begitulah mbak hidup bertetangga… saya pun di rumah sering ngelus dada, sama tetangga yg suka nyetel radio ke volume max, sampai jantung rasanya kejut kejut…

    Orin : di kanan kiri banyak jg sih anak kecil mba Rin, tapi volumenya masih biasa aja ga kyk mereka ini 🙁

    Reply
  7. Sofyan

    Hehe, biasa itu Kak, saja juga gitu pas pertama kali masuk lingkungan perumahan dinas, orang²nya menakutkan omongannya kasar, awalnya sih risih tapi setelah beberapa tahun eh jadi biasa, saya setel no reken alias saya tanggapi dengan gurauan aja Kak,

    Orin : Oh iya Sof, kmrn itu aku jadinya nyetel TV keras2 juga hihihihi

    Reply
  8. ysalma

    karena situasinya aja yang lagi gak tepat sepertinya ya Rin,
    mudahan mataharinya cepat sehat, dan teriakan dua bocah calon tetangganya nanti jadi instrumen lain di telinganya, semoga yaa 🙂

    Orin : Iya Mak, lg sensi kita heuheu.
    Aamiin, makasih doanya ya Mak 😉

    Reply
  9. Goiq

    semoga suaminya cepet sembuh yah mbak…

    Orin : Aamiin…terima kasih mas 🙂

    Reply
  10. nh18

    Semoga Cepat Sembuh untuk Imamnya Orin …

    Mengenai tetangga ?
    Orin percaya sama saya …
    someday … kamu akan merindukan suara-suara itu …
    itu namanya suara sosialisasi …

    Dulu (sebelum pindah ke rumah saya yang sekarang …) kami tinggal di sebuah gang … dan kebetulan … rumah saya itu punya halaman yang lumayan luas. Lumayan asik untuk dibuat main bola … maka jadilah pekarangan rumah kami itu lapangan bola kecil … Anak-anak main tiap sore … (plus … teriakan tentu …). Dulu BT juga saya … mau istirahat hari Sabtu atau Minggu tidak bisa … belum lagi Bola yang kadang tak sengaja ketendang dan mengenai pintu / kaca jendela … walaupun tidak pecah … tapi pasti membuat terkaget-kaget …

    Sekarang saya sudah pindah dari situ … menempati rumah sendiri … dan disini saya tidak menemukan hal tersebut … Terasa sepii …

    I miss suara anak-anak singkong maen bola didepan rumah … (plus suara bola yang kena pintu / kaca itu …)

    salam saya

    Reply
    1. nh18

      beuh panjang amat …

      (but … ini trigger untuk jadi satu postingan sendiri nih …)

      Thank you Orin

      Reply
  11. elsayellowlife

    ya aku pernah nonton click
    serasa enak banget ya jika semua bisa dikendalikan pake remote control
    tapi ternyata…hasilnya malah kacau!
    hehehee

    Reply
  12. elsayellow

    Tante Orin, Dija kok jadi susah ya komen di wordpress???

    Reply
  13. Imelda

    hmmm mustinya datangi saja, dan kasih tau, minta maaf dulu— supaya volume suaranya dikurangi. Seharusnya mereka juga akan bisa mengerti dan setidaknya mengurangi volume suara mereka. Mereka berbicara keras begitu kan karena tidak tahu ada yang sakit.

    Memang sih hidup bermasyarakat itu sulit ya… sering makan hatinya 😀

    Get well soon

    Reply
  14. Jurnal Transformasi

    Oh terbayang gimana rasa tetangganya kalau mereka sdh pindah nanti. Tapi kalau sudah pindah mungkin bisa menyesuaikan suara dengan keheningan lingkungan kali ya Mb Orin. Mudah2an 🙂

    Reply
  15. lozz akbar

    Semoga mas Rakhman lekas sembuh ya teh 🙂

    Reply
  16. Asop

    …tetangga sebelah atau depan yang berisik… yeah, memang menjengkelkan…. 😐

    Reply
  17. Fauzan Mars

    knjungan perdana nih 🙂

    wah, gw juga maunya begtu tp apadaya cma bsa menghayal aja 🙂

    Reply
  18. mechtadeera

    semoga si Aa nya segera fit lagi ya Rin..dan semoga kalian semakin bisa membiasakan diri dengan suara2 ‘merdu’ yang kadang2 akan ngangeni itu…*kecuali di saat tak tepat seperti kemaren, hehe…*

    Reply
  19. rizalean

    yeah, emang serba salah bertetangga spt itu. minta baik2 utk tenang dan hening pun bisa berujung salah paham, bisa lebih berabe. no wonder mute, bahkan pause, jadi khayalan terbaik di saat spt itu.

    get well soon ya mas-nya. syafahullah.

    Reply
  20. adhi

    andai remot seperti itu ada dijual, aku pengen beli dan pengen kembali ke masa laluku yang penuh kesalahan, agar bisa diperbaharui….hiks…

    Reply
  21. Bibi Titi Teliti

    Oriiiiiin…
    itulah suka duka hidup bertetangga Rin 🙂
    Harus banyak toleransi…

    Aku pun terima nasib ajah tinggal di komplek yang kalo sore sore berisiknya minta ampun….
    mulai dari anak anak yang main bola, loncat karet, sepedahan…
    Pokoknya mah gandeng edan lah…hihihi…

    Untunglah Orin masih bisa melihat sisi positifnya yah 🙂
    Mudah2an cepet sembuh si Akang nya ya:)

    Reply
  22. Cut Ratu

    Hehe..jadi ingat waktu kami dulu baru pindah ke komplek baru, semoga tetangga gak merasa keganggu ya. Tp mmg gak ribut2 banget juga sih kita waktu itu hehe…. Mungkin krn rumah tetangganya Orin msh kosong jadi bergema ya…hadeuuh…kebayang deh keki pasti ya xixi.. Cepat sembuh buat suaminya ya …amiin..

    Reply
  23. Lidya

    semoga cepet sembuh ya Rin suaminya. biasa tuh laki2 suka gak mau diajak ke dokter 🙂

    Reply
  24. Falzart Plain

    Hmmm… kenapa gak cari headset?

    Reply
  25. Cahya

    Semoga lekas sembuh suaminya ya Mbak :).

    Dan punya tetangga memang risikonya begitu, apalagi saya kalau di kampung, sudah lah, biasa dengar orang teriak-teriak. Karena yang dipanggilnya memang sering berjauhan, dan pas bicara dekat pun kadang kebiasaan ini dibawa.

    Reply
  26. Arman

    bagus rin, masih bisa ambil sisi positifnya ya.. 🙂

    moga2 suami lu cepet sembuh yaaa

    Reply
  27. monda

    mudahan pindahnya masih agak lama nunggu anak2 gedean dikit
    Tp bisa jadi suara mereka jadi berisik karena rumahnya masih kosong, beda lho suaranya dibanding dalam rumah yg ada perabotannya

    Reply
  28. Yunda Hamasah

    Hari ini dach sehat kan Rin 🙂
    Hmmm, itung2 latihan ntar kalu dah punya anak ya Rin 🙂

    Reply
  29. Budi Arnaya

    Cepat sembuh untuk suaminya mbak…sabar memberikan hal yang luar biasa, dan mereka juga ngak ngerti kalau di rumah kita ada orang sakit, syukur mbak bisa menjalani godaan itu dengan sukses…

    Reply
  30. @zizydmk

    Suara-suara keras itu memang bisa bikin tambah sakit kalau terus-terusan menghajar telinga.
    Apalagi kalau yang bicara keras itu seperti tidak punya pengertian bahwa mungkin saja ada orang yang terganggu….

    Reply
  31. bunda lily

    semoga Allah swt segera menyembuhkan mataharimu ya Rin ….

    dan, hebatnya dirimu Rin,
    mengambil hikmah yg ada dibalik ke bete an krn mendengar ”suara2 indah” itu ….
    salam

    Reply
  32. Myra Anastasia

    semoga cpt sembuh hubby ya.. Tp alhamdulillah kalo ada hikmah dr semua ribut2 itu.. Ya walopun pastinya tetep ada keinginan utk “mute” ya.. 😀

    Reply
  33. isnuansa

    Semoga suami cepet sembuh, Mbak. Sama, suami saya juga sudah dua hari nggak ngantor. *curhat*

    Hehehe, iya, resiko bertetangga ya begitu itu ya, suara berisik dari mereka kadang memang suka sangat mengganggu. Paling senang kalo lingkungan kita tenang. 😀

    Reply
  34. Sobat Bercahaya

    orang medan ama orang madura kayanya panggilannya kurang tepat tuh. Medan lae, bang atau apa. Sementara orang madura cak, jarang sekali manggil dengan sebutan mas. 🙂

    Reply
  35. Adini

    Mb yg suka ketinggalan..ketinggalan kontes, ketinggalan posting dan film ini juga.
    Intinya sih emang mb kurang suka sama film2 ginian paling FTV…kelihatan ya emak2 heheheh

    Reply
  36. Anna Fardiana

    semoga suaminya cepet sembuh ya…
    begitu juga dengan saya Orin… depan rumah saya juga sering buat anak2 maen bola.. tapi emang sih, nggak seramai yang ditulis Orin.. kebayang deh betapa ramenya itu… tapi yang sabar yaaa…

    ohya, OOT nih..
    berhubung saya gak bisa komen (karena gak punya akun WP) makanya saya pake akun facebook saya…

    http://annafardiana.com

    Reply
  37. smzahra

    “Dan yang paling penting, bersyukur atas kedua telinga yang masih diberi kenikmatan mendengar dengan baik ini. Alhamdulillah… :)”

    Suka deh sama kata2 ini.. ^_^

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: