Rindrianie's Blog

Ngelapak : defisit Rp. 2000

Pernah mendengar sebuah hadits yang (kurang lebih) berbunyi “sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan”? Kalimat itu tentunya menjadi motivasi abadi para pedagang, terlebih nabi Muhammad pun adalah seorang peniaga yang baik.  Tetapi saya hampir selalu merasa yakin, bahwa rezeki saya harus dijemput melalui pintu ke-sepuluh, yaitu cara apapun selain berjualan 😀

Walaupun demikian, dalam beberapa kesempatan saya tetap nekat berjualan. Entah coba-coba ikutan MLM, atau sekedar menjadi reseller, terkadang ‘patungan’ dengan beberapa teman untuk membuka toko. Dari berbagai pengalaman berjualan itu, yang sungguh membuat saya mengerti kenapa perniagaan itu ‘dilewatkan’ melalui sembilan pintu rezeki, adalah pengalaman ngelapak saya beberapa hari yang lalu. Bahwa berjualan merupakan sesuatu yang teramat kompleks, tidak sesederhana memiliki sejumlah modal, produk berkualitas dan strategi penjualan, ataupun selling skill yang mumpuni.  Diatas itu semua, berjualan (baca : ngelapak) -bagi saya- seperti sebuah ‘jihad’ yang sungguh berat.

Perang itu berawal dari janji bertemu dengan seorang sahabat, hari minggu pagi di TMII, saat beliau sedang berikhtiar dengan lapak-nya. Yang dijual hanyalah sebuah produk pembalut wanita herbal, diapit lapak temannya yang berjualan pakaian anak import dan bir pletok, sahabat saya ini dengan semangat juang ’45 membagi-bagikan brosur, dan menawarkan produknya ke setiap orang yang melewati lapaknya. Kami sempat hunting sarapan bersama dan ngobrol ngalor ngidul, hampir 2 jam saya disana menemani beliau. Hingga sesaat saya pamit pulang, beliau menawarkan pada saya untuk ikut me-lapak bersama dirinya minggu berikutnya, dan saat itu juga langsung saya iya-kan ajakan itu. Sebuah keputusan ‘gegabah’ tanpa perhitungan.

Dalam perjalanan pulang kembali ke rumah, baru-lah saya tersadar bahwa, saya tidak punya ‘sesuatu’ untuk dijual. Detik berikutnya saya menyesali keputusan saya untuk ikut melapak, tapi juga idak bisa dipungkiri kegiatan itu betul-betul menarik perhatian saya. Dan saya tertantang untuk merealisasikannya. Lantas saya pun teringat seorang teman yang membuat sendal jepang dari anyaman kain perca, dan beberapa teman lain yang sudah biasa jualan untuk bisa saya ‘pinjam’ produknya demi ngelapak perdana saya.

Singkat cerita, hari minggu tanggal 28 Februari itu, saya pun ngelapak!

Sahabat saya berkata sebaiknya kami berangkat jam 4, dan sholat shubuh di AT-Tin, untuk itulah saya terbangun jam 3 pagi, tetapi  kembali tertidur setelah mematikan alarm -karena biasanya hari minggu adalah ‘hari bermalas-malasan’ saya-, dan juga karena badan saya memang lelah setelah dua hari sebelumnya beraktivitas kesana kemari mengisi long weekend. Walaupun demikian satu jam berikutnya saya betul-betul bangun karena harus sholat shubuh, dan memantapkan hati untuk menunaikan janji saya ngelapak.

Jam 6 saya tiba di lokasi. Sahabat saya sudah stand by, bahkan sudah menggelar tikar -yang sama sekali tidak terpikir oleh saya- untuk barang lapakan saya. Saya hanya membawa 8 pasang sendal dalam ransel saya, dan 25 buah kaos muslimah dalam kantong plastik besar, tidak terlalu merepotkan membawanya dari Rawamangun-TMII dengan motor mungil saya. Segera saja saya ‘beraksi’, menyusun ‘produk pinjaman’ itu di lapak saya. Sahabat saya pun menambah barang jualannya dengan pernak pernik anak kecil, -meja lipat untuk menggambar, buku diary Mickey mouse, tong sampah Barbie, dan sebagainya- selain pembalut wanita herbal andalannya.

Bismillah… kami mulai ngelapak. Sahabat saya segera beraksi, membagikan brosur, dan mengundang orang-orang yang lewat di depan kami dengan kalimat “Silahkan mampir, Pak” atau “Silahkan lihat-lihat dulu, Bu” atau “Belanja, Mba”. Sementara saya hanya bisa tersenyum. Yup, saya merasa sangat malu, tidak pede, dan (rasanya) memang tidak berbakat untuk berjualan.

Kurang lebih satu jam berlalu, saya harus sarapan. Lantas saya pun membeli cireng isi di lapak yang berlokasi tepat di seberang kami. Saat saya sedang jajan itu-lah, seorang pembeli mendekati lapak saya, tertarik pada sendal jepang saya, dan -entah karena provokasi dari sahabat saya ‘tante’ Riana, atau memang keinginannya sendiri- membeli sendal itu ! Wow….unbelievable. Sahabat saya berhasil menjualnya, saya senang sekali tentu saja, walaupun bukan saya sendiri yang melakukan ‘transaksi’ ijab kabul sendal itu.

Jam demi jam berlalu, lapak tempat kami dengan cepat tersinari sorot matahari yang semakin memanas, mengharuskan kami sesekali berteduh ke warung di belakang kami, dan banyak minum supaya tidak dehidrasi. Pukul 10 menjelang, transaksi ijab kabul yang saya tunggu-tunggu itu tak juga terulang sejak jam 7 tadi. Padahal banyak yang tertarik untuk mencoba sendal saya dan melihat-lihat kaos yang saya bawa, tetapi ‘jatah’ saya hari itu memang cuma 1 pasang sendal 🙂

Sahabat saya -kak Riana- berhasil menjual 3 meja lipat yang dibawanya, beberapa kotak pembalut, dan benda-benda lainnya. Lebih beruntung daripada saya, karena dengan demikian setidaknya beban yang beliau bawa pulang sedikit berkurang. Tidak seperti ransel saya yang tidak signifikan perbedaan beratnya, dan kantong plastik besar saya yang memang tetap utuh.

Selain jumlah pengunjung yang telah berkurang karena sudah siang, panas yang semakin terik membuat kami memutuskan untuk mengakhiri acara ngelapak tersebut. Banyak teman-teman lapak yang masih ingin bertahan. Tetapi saya sudah kelelahan, begitupun sahabat saya, kami memutuskan pulang. Dan saya terkapar kelelahan setiba di rumah..

Tetapi perang ngelapak itu telah berhasil membuat saya belajar banyak hal. Bahwa ilmu sabar dan ikhlas betul-betul harus diaplikasikan dengan baik. Bagaimana tetap tersenyum saat (calon) pembeli hanya mengacak-acak dagangan saya dan pergi tanpa membeli apapun, atau bagaimana harus ikhlas saat rezeki saya (sepertinya) tidak sebanyak teman yang lain. Bahkan untuk menjadi seorang pedagang yang baik harus berbadan sehat sehingga tidak kelelahan walaupun berjualan panas-panasan seperti itu.

Dan kenapa saya memberi judul seperti di atas? Karena ‘keuntungan’ saya dari menjual sepasang sendal, tidak sebanding dengan pembelian cireng, batagor, susu kacang, es teh, dan air mineral saya saat ngelapak (hehehe….).

Tetapi walaupun demikian, saya tidak kapok ngelapak. It was a great day for me. Dan saya akan melakukannya lagi. Chayooooo… 😀

  • Photo Note :

Foto ini diambil tepat di depan lobi kantor kami (upss…). Bahkan saya (tepatnya kaki saya) dijadikan model -dengan berpose dengan berbagai posisi- untuk sendal lucu ini. Tapi foto-foto tersebut tidak lagi untuk dipublikasikan he he.

0 Comments

  1. Agus Janto

    Teh Orin, mungkin ini sebagai hiburan saja 🙂
    Belajar berdagang.
    Semoga sukses.

    Reply
    1. Orin (Post author)

      hehe..iya Pak Agus, belajar yang menyenangkan 🙂 Aminnn… makasih yaa..

      Reply
      1. Apple

        Teh Orin, tgl 16 Maret ngelapak lagi kah…saya ikut boleh ? 😉 Kalau boleh mau mikir barang apa yang fast moving mulai sekarang, hehehe

        Reply
      2. Apple

        Saya juga mau ikut ? 😀 ( Ongkos PP tiket pesawat sdh berapa,bisa untung malah buntung ) ;))

        Reply
  2. Mang Yana

    Selamat mba…
    Mba Orin sudah menembus batas… membuka 9 pintu rejeki
    Jangan berenti ya….

    Reply
    1. Rinrin (Post author)

      Siap laksanakan Kang Komando 😀 Terima kasiiiihhh….

      Reply
  3. warti

    salam kenal Jeng Orin,
    pengalamannya sungguh luar biasa.
    suatu hari saya pengen ngelapak bareng jeng orin,mbak riana juga akh…

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Hai mba Warti… hayu atuh, ditunggu yaa…
      makasih udah mampir 🙂

      Reply
  4. riana chaidir

    my dearest orin
    semoga ini pembuka jalan menuju seorang young enterpreneur.amin

    tetep semangat ngelapak bareng Kompak ya

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Siap kak 😉
      Amin ya robbal ‘alamiiinnn….

      Reply
  5. sahabatsenja

    ada yang bs dibawa dr Bandung untuk ngelapak minggu2 berikutnya??? hiihiih.. keknya asik tuh satu lapak penjualnya gaul2 semua kekekekekeke….

    pasar kaget hari minggu gini biasanya kl di Bandung di lapangan Gasibu dan kalao di Cimahi di lapangan Brigif… semua tumplek plek jadi satu 🙂

    Reply
  6. nadazahira

    Jadi pengen ngikut.. tapi jauh, hiks 🙁
    Iya mba Orin, Siti suka kagum liat orang yg berdagang, ga capek ke sana kemari untuk menjemput rejeki yg mungkin bagi orang lain hasil yg diperoleh tidak seberapa. Tapi melihat kegigihan mereka, siti jadi kagum. Betapa gigihnya mereka, pantang menyerah dalam berjualan. Dan saat berdagang juga kita bener2 bisa merasakan betapa rejeki itu memang datang dari Allah 😀 (berdasarkan pengamatan aja sih :P)

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Betul Siti, jadi pedagang itu subhanalloh deh, perjuangan banged.. Ayo Siti ikutan nyoba 😉

      Reply
  7. Jiran

    Wah Orin ketularan Virus ngelapak juga yaa ? hebat euy..
    Jualan CIreng Bandung isi aja Bu ?:D
    Kalo nggak laku,kan bisa dimakan sendiri ,mengurangi uang jajan.:D (kidding) ..Semangat yaa ..
    @Bu Riana : Next target :Pak Agus & Ibu Wati..Hehe2x

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Muhun Pak Jiran, hayu atuh kita ngelapak berjamaah he he

      Reply
  8. sisca

    ikuuuutttt…
    ups…tp ngelapak ap ya?

    Reply
  9. andriansah

    seru membaca ceritanya
    saya ingin mencoba ngelapak nih. Rawamagngunnya di mana mbak?

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Kostan saya di daerah pulo asem utara situ mas. Yuks, hari minggu besok rencananya saya perdana ngelapak di pulomas 😀

      Reply
  10. sari

    Pegalaman yang sangat berharga. Salam kenal ya..sukses selalu.

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Salam kenal juga mba Sari… Semoga bisnis online-nya juga sukses yaa… 🙂

      Reply
  11. silumanbebek

    wah, sangat menarik.
    sekarang ini msh ngelapak nggak mbak? tertarik nih..

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Hehehe…sekarang belum mulai lagi, masih cari2 tempat lapak baru 😀

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: