Rindrianie's Blog

Nilai Kehidupan

Hari ini berpotensi sebagai derita loe jilid berikutnya, karena kantor sudah sepi tapi saya masih anteng dengan setumpuk pekerjaan ini itu. Tapi kemudian ada sebuah SMS dari adik perempuan saya yang jadi siswa kelas 3 SMU itu. Isi SMSnya kurang lebih curhat, nilai-nilainya kecil, lantas ujung-ujungnya bertanya bagaimana cara belajar saya dulu, karena menurutnya, saya pintar. Waduh?

Jadilah saya menulis postingan ini, disambi ber-sms ria dengan adik saya, sambil tetap membalas email bertubi-tubi tentang report, dan tentu saja ditemani alunan lagu-lagu kesukaan saya. Hmmm…kadang saya juga heran dengan ke-multi tasking-an saya ini hahahaha 😛

Pertanyaan -dan pernyataan- adik saya di sms itu membuat saya bernostalgia ke masa-masa sekolah (dan kuliah). Postingan ini akan sangat panjang dan sangat tidak penting karena seperti ‘sejarah pendidikan’ saya yang bukanlah siapa-siapa. Jadi jangan buang waktu weekend Anda dengan membaca postingan ini, tapi kalau berminat baca ya monggo sih hehehe.

Waktu TK, saya memang sudah bisa membaca, saya ingat Bapak saya menyuruh saya sekolah TK setahun lagi, karena usia -dan juga badan- saya waktu itu masih imut-imut sekali. Tapi ibu guru TK saya bilang, beliau khawatir saya bosan kalau sekolah TK lagi karena saya cukup pintar, dan pasti bisa belajar di SD. Catur wulan pertama di kelas 1 saya ‘cuma’ ranking 4. Apakah itu termasuk kategori pintar?

Sepanjang 6 tahun di SD itu, beberapa kali saya pernah ranking 1, sering diikutkan lomba cerdas cermat dan sebagainya dan sebagainya, tapi NEM saya setamat SD bukanlah yang paling tinggi di sekolah saya. Masuk SMP, lagi-lagi di kelas 1 semester pertama saya ranking 4. Kelas 2 masuk ke kelas favorit yang merupakan kumpulan anak-anak beranking 1-5 (tergantung nilai) dari 10 kelas. Sudah pasti saya ‘terkalahkan’ lah ya sama manteman saya yang pinter-pinter itu, tapi rasanya sih entah keajaiban dari mana sempat juga ranking 10 besar (lupa ranking berapa tepatnya :P).

NEM SMP saya (kalau tidak salah ingat) cuma 40,80 saja. Jauh dari kategori bagus. Tapi saya keukeuh ingin sekolah di SMU yang baik, waktu itu SMU 2 Cirebon termasuk sekolah ke-2 terbaik setelah SMU 1-nya. Saya berhasil masuk ke SMU 2, NEM terendah yang diterima adalah 40,60. Maka keberadaan saya di sana memang lebih karena beruntung saja bukan? 😛

Di SMU ini, ranking ‘terbaik’ saya adalah ranking 7 di kelas 3 IPA, biasanya tidak beranking ups qiqiqiqiqi. NEM SMU saya juga hancur lebur, tahun 1999 itu ikut UMPTN dan tentu saja tidak lulus. Saya ingat pilihan jurusan saya yang sangat ‘gila’ itu, Teknik Arsitektur ITB dan Statistik UNPAD!! Well, I was a dreamer, and always be 😛

Terlalu pede -atau sebetulnya belum bisa berpikir ‘dewasa’- saya tidak ujian dimana pun selain ikut si UMPTN itu. Maka saat tidak lulus dan teman-teman mulai kuliah, saya jadi pengangguran depresi yang bahkan malu keluar rumah. Kuliah di universitas swasta sama sekali bukan pilihan, ayah saya PNS biasa dan adik-adik saya masih sekolah, cukup membuat saya tahu diri untuk hanya kuliah di universitas negeri. Akhirnya UMPTN tahun berikutnya saya nekat ikut lagi, walaupun yakin tetap tidak akan lulus halah, maka kali ini saya ikut juga ujian D3 UNPAD.

Keinginan saya yang kuat untuk kuliah, kini diiringi dengan sebuah pemahaman saya tidak bisa terlalu idealis untuk belajar di jurusan sesuai impian dan cita-cita saya. Saya anak IPA, akunting-ekonomi dan teman-temannya sejak dulu tidak saya minati, karena saya memang tidak bisa. Administrasi Niaga? Kepustakaan? Jurusan-jurusan di Fakultas FISIP dan FIKOM tidak saya mengerti sama sekali. Maka pilihan akhir adalah Bahasa. Bahasa Inggris langsung menjadi pilihan pertama, pilihan keduanya apa? Saat itu pilihannya hanya Jepang, Jerman, Perancis, dan Bahasa Indonesia. Semuanya terasa ‘asing’ bagi saya.

Saat mendaftar, saya bersama seorang sahabat semasa SMU. Teman saya ini anak IPS, tapi saat itu juga lebih memilih di Bahasa, dan sama-sama bingung pilihan bahasa lain setelah Bahasa Inggris yang sudah dipilih. Sudah bisa ditebak kan ya akhirnya kami memilih apa, bahkan saya tidak ingat apa pertimbangannya kami memilih bahasa Jepang hihihi. Saat kami menyerahkan si formulir yang sudah diisi, mba cantik yang menerima formulir itu mengatakan, bahasa Inggris dan Bahasa Jepang sama-sama kuat,  passing grade-nya sama. Intinya, kalau tidak lulus di bahasa Inggris, pasti tidak akan masuk di Bahasa Jepang, begitu pun sebaliknya. Dan kami berdua dengan keukeuhnya tetap dengan pilihan yang sama.

Hasilnya? Saya masuk di Bahasa Jepang, sang teman juga. Tapi karena dia sudah kuliah di Cirebon dan memang tidak berminat di Bahasa Jepang, teman saya ini tidak mengambilnya. Saya? Senang akhirnya bisa juga kuliah, walaupun bingung dan khawatir karena tidak terbayangkan akan seperti apa mempelajari Bahasa Jepang untuk 3 tahun ke depan??

1 kelas siswanya kurang lebih 40 orang, sekitar 30%-nya adalah anak-anak Bahasa yang memang belajar Bahasa Jepang di SMU. Duh, melihat teman-teman saya yang sudah menuliskan namanya di buku panduan dengan huruf katakana membuat saya stres. Satu huruf pun saya tidak tahu sodara-sodara. Maka awal-awal saya kuliah adalah sebuah perjuangan hidup dan mati yang sesungguhnya. Lebay? Emang 😛

Tapi serius, saya sempat muntah di kostan saya karena mual saat harus menghapal urutan-urutan menulis sebuah kanji. Begadang hingga malam sampai masuk angin, nongkrong di perpus saat tidak ada kelas, pokoknya belajar mati-matian. Walaupun berjanji dalam hati, jika IP saya semester itu jelek, saya akan pindah jurusan ke Bahasa Inggris saja.

Voila, IP saya di semester pertama itu 3,9!!! bahkan paling tinggi di kelas hahahahahaha, miracle does happens Pals 😛

Tapi kemudian saya menyadari saya sebetulnya ‘anak bahasa’, karena menikmati sekali mempelajari bahasa Jepang. Kalau tahu dari dulu, ngapain coba pusing dengan teori Keppler-rumus kimia-trigonometri dan teman-temannya ituh? sigh. Mungkin tahapan inilah yang dilihat adik saya tersayang itu. Dia tahu saat teteh-nya ini sering menerima beasiswa, dia tahu IPK teteh-nya ini waktu wisuda termasuk cumlaude sehingga masuk TV waktu prosesi wisuda. Sehingga dia berkesimpulan saya pintar terharu.

Walaupun baru kemudian saya mengerti, sekolah -dan kuliah- adalah tempat untuk belajar, tempat menuntut ilmu (dengan semua derivasinya), tempat berlatih berorganisasi, tempat menempa karakter diri, tempat mencari pengalaman untuk bekal kehidupan yang sebenarnya. Maka nilai yang bagus hanyalah BONUS semata, karena sang nilai hanyalah sebuah akibat dari yang sudah saya sebabkan. Itu yang ingin saya katakan pada adik saya tersayang.

Kenapa? Karena IPK saya yang 3,85 itu, tidak serta merta membuat saya segera bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang tinggi. Dulu saya sempat kecewa dan marah, menyalahkan -entah siapa- dan menyesal ngapain ‘buang-buang waktu’ belajar sampai mabok kalau akhirnya begini? Dan saya berharap hal yang seperti itu tidak perlu dialami adik-adik saya. Saya harap si nilai kehidupanlah yang mereka cari saat belajar di sekolah atau di kampus.

Belajar memang harus rajin, tekun, sungguh-sungguh, dan ikhlas. Tapi tujuannya jangan berharap demi nilai yang bagus, tapi ya untuk belajar. Hmmm… si Neng adik saya yang masih SMU itu sepertinya akan sulit memahami konsep ini ya hihihihi. Intinya, tidak usah sedih dan malu segala lah kalau nilainya biasa-biasa saja. Jangan nangis, tidak perlu minta maaf ke teteh kalau nilainya jelek. It’s OK! Itu mah cuma bonus, yang penting Neng sudah mendapatkan sesuatu dari prosesi belajar itu kan? Neng ngga nyontek atau curang kan? Tetap belajar dan ujian dengan jujur kan? Maka itu sudah lebih dari cukup, tidak perlu menjadi sempurna untuk membuat Teteh bangga.

Ini dia ci Neng yang lagi galau qiqiqiqi

Etapi itu mah menurut Teteh, eh saya ya heuheu. Nilai yang bagus dan selalu menjadi juara tentunya menyenangkan, tapi -menurut saya-bukan merupakan hal yang paling penting, karena bukankah masa-masa sekolah (dan kuliah) itu hanyalah latihan dari sekolah kehidupan yang sebenarnya? edisi sotoy :P.

Well, happy weekend, Pals 😉

0 Comments

  1. jiah al jafara

    masa sekolah hanya latihan dr sekolah kehidupan yg sebenarnya, like thisssss~
    ngga bisa bayangin deh, dr IPA ke Bahasa Jepang, mabok gileeee 😀
    ___
    Mabok semabok2nya qiqiqiqiqi

    Reply
    1. Irranida Hussi

      Eh dari IPA juga ya, Rin, sama dong kita, orang IPA masuk ke bahasa. 🙂
      ___
      Iya mba, mau ujian untuk jurusan IPA khawatir ga lulus lg, jd pilih bahasa hihihihi

      Reply
  2. LJ

    emak juga bangga sama Orin, apalagi adik..
    Alhamdulillah punya teteh yang bisa dijadikan teladan. 🙂
    ___
    Aaaahhh…eMaaaak *peyuk erat* 🙂

    Reply
  3. Lidya

    orin jadi teteh yang diteladani adenya ya. Rin sama atuh aku juga waktu TK diusir hehehe alias disusurh masuk SD sama kepala sekolahnya
    ___
    Mudah2an aj ngash contohnya yg bagus Teh heuheu

    Reply
  4. monda

    teteh orin mah enceer ..,dan bijak…
    dan cocok dijadiin tempat curhatnya Neng, teteh yang oke banget deh
    ___
    Duh, keknya masih belom se-oke itu sih Bun heuheu

    Reply
  5. fitrimelinda

    wuiihh..keren banget teh,3,9???wowww.. 😀
    ___
    Errrr…pas semester brp gitu sempet jg dapet A semua 24 sks Fit hihihihi

    Reply
  6. Maman Firmansyah

    Saya belum pernah ngalamin IP 3,9 euy!!!… *menjura hormat…
    ___
    Ah…tapi dirimu mah pasti ranking 1 terus kan Man 😉

    Reply
  7. danirachmat

    Araaa… nihon go ga benkyoushimashita desho ne… Soo kaaa..
    *ga ngerti bener apa ga Rin.*
    Aiiiih kereeeen deh Rin. Bener ya ternyata kadang sistem pendidikan di Indonesia ini ga bisa bikin anak-anak ngerti passionnnya apaan. Yang ada dituntut kudu bisa mengikuti standar nilai yang ga nyante itu.

    Dan baru tahu kalo ternyata dirimu orang cirebon? Huhuii.. 😛
    *trus kenapa?
    *mau minta oleh-oleh tape ketan
    *dilempar ember
    ___
    Numpang sekolah doang 3 tahun di Cirebon Dan, rumah ortu mah di Majalengka.
    Jadi mau dilempar ember nih #eh qiqiqiqi

    Reply
  8. saidah

    Kyahahaha samaan teh aku juga anak ipa tp nyasar ke fisip hihihi 😀 passionnya di komunikasi dan sosial gituh ternyata, waktu kuliah aku ambil administrasi bisnis
    Woow…gile itu ipk nya teh orin tinggi pisan *terkagum-kagum*
    ___
    Aku ga ngerti waktu liat jurusan2 di FISIP Dang, satu2nya yg ‘masuk akal’ saat itu cuma bahasa. Niatnya emang asal kuliah apapun jurusannya hahahaha

    Reply
  9. mama hilsya

    nihon go?
    kabur aaahh….

    *kipas2 pake buku, biar IP-nya naikan dikit, haha*
    kayaknya nilai eike lumayan bukan krn pinter tp krn ada yg lebih ga bisa, lol
    ___
    Ah…ci teteh mah pinter dapet beasiswa terus 😉

    Reply
  10. narno3

    nilai kehidupan tak selamanya diukur dengan nilai yang kita dapatkan ketika di sekolah ataupun ketika kuliah
    ___
    Yup, betul banget 😉

    Reply
  11. ardiansyah pango darwis

    sekolah dan kuliah juga bagus untuk membangun Link untuk peluang rezeki nantinya jika kita bangun hubungan baik, dan bisa berbisnis deh nantinya 😀
    ___
    Betul, jd bukan hanya untuk cari nilai bagus ya^^

    Reply
  12. Ely Meyer

    IPK 3.85 ? wow 🙂
    ___
    hehehe 🙂

    Reply
  13. Necky Effendy

    orin…itu juga…yg saya tekankan sama anak2 saya. Nilai merupakan hasil kerja keras mereka belajar. Udah belajar bener tapi hasilnya ga bagus bukan berarti mereka sia2 tapi mungkin metode yg kurang pas ataupun masih kurang maksimal belajarnya.
    Tapi di lain pihak tuntutan sekolah memang keterlaluan…NILAI jadi patokan keberhasilan seseorang….Jadi ga salah kalau Ajif (anakku kelas 2) waktu mengisi jawaban atas sebuah pertanyaan: SEKOLAH itu tujuannya adalah mencari………NILAI……salah siapa donk kalau gitu hahaha
    ___
    hahahaha….bener bgt tuh mas jawabannya Ajif qiqiqiqi. Iya, masyarakat kita masih terpaku pada pendapat salah kalo nilai jelek/biasa2 = bodoh/ngga pinter 🙁

    Reply
  14. Idah Ceris

    Jad tau deh dari jaman TK samapai Kuliahnya Teh Orin. 🙂
    Pantes saja sang adik minta tips kepada Teh Orin, lha wong emang pinter koq. apalagi menyandang gelar kumlot. Ngiler aku. . . 🙂

    gak nyontek, gak jorok. . .jadi inget Om NH. 😆

    Semoga adiknya diberi kemudahan dalam belajar ya, Teh. 🙂
    ___
    hehehehe…iya Idah, ngeblog jg ga boleh nyontek berarti ya 😀

    Reply
  15. ainulharits

    Rangking memang jadi tujuan ketika sekolah dulu, tapi ketika sudah tua gini, semua itu gunanya hanya untuk cerita saja…
    ___
    Memang jd cerita indah untuk dikisahkan ya 🙂

    Reply
  16. Myra Anastasia

    Orin memang pintar, seumur2 saya blm pernah ranking 1 paling 10 besar aja itupun cuma pas SD.. Hihiih…

    tp sy setuju, itu hanya latihan.. sekolah keidupan ada di luar sana yg penting terus berusaha
    ___
    Itu krn teman yg lain banyak yg lebih ga pintar mba Chi, jadi weh saya ranking 1 qiqiqiqi

    Reply
  17. lulu

    🙂 Orin hebat ih! IPK 4??? toweng toweng……ngalahin anak2 yang udah bisa sebelumnya yah!
    emang……pinter di sekolah dan raport itu belum menjamin suksesnya seseorang di masa depan.
    aku juga pengen kaya kamu Rin, (kalau aku) bisa didik anakku buat banyak belajar tanpa harus kecewa kalau ntar mungkin dia bukan siswa terbaik di kelasnya. asalkan dia belajar sungguh2 dan memaknai apa arti belajar yang sesungguhnya, sungguh nilai bagus dalam raport itu bonus. Meski ya sebagai orang tua, siapa sih yang gak bangga kalau anaknya juara kelas? tapi juga gak boleh kecewa kalau ternyata anaknya tidak.

    nice share…. 🙂
    ___
    Ish…IPK mah bukan 4, keren bgt kalo segitu ya qiqiqiqiqi.
    Pastinya ya, membanggakan kalo jd juara kelas terus, tapi ya balik lg, poin pentingnya tetap di proses belajarnya kalo menurutku 😀

    Reply
  18. rina

    isssh … ga salah lah kalau adiknya mba orin bilang pinter… meskipun IP bukan ukuran tapi dari perjalanan nilai sekolahnya mah hebriiing atuuuh
    ___
    lumayan lah ya mba Rin *menghibur diri* hihihihi

    Reply
  19. BunDit

    Mengerti teteeeeeh hehehe. IPK saya mah…. ah maluuuu 😀
    ___
    Ish…malu sagala 😛

    Reply
  20. Wong Cilik

    wow wow wow sambil koprol … 3.85 gile banget … luar biasa …
    setuju dengan endingnya. menurutku juga yang paling penting saat sekolah itu pembentukan pola pikir dan karakternya. nilai bagus itu bonus dari kerja keras 😀
    kayaknya NEM SMA tahun ’99 itu memang pada hancur2 deh … 😀
    ___
    hancur2 yg hancur mah Wong, temen2ku banyak yg oke jg masalahnya qiqiqiqi

    Reply
  21. Isnuansa

    IPK saya separonya… *nyumput*
    ___
    IPK mah ga ngaruh lg kalo udh kerja ya mba Is^^

    Reply
  22. Annie Tjia

    Kalo aku dari SMK Akuntansi ke Bahasa Inggris.
    Sebenarnya emang dari dulu mau masuk SMK Pariwisata, tapi ga dikasih kesempatan sama orang tua.
    Sekarang kuliah b.Inggris, pengetahuan tentang Akuntansi lupa semua. 😆 😥
    ___
    Gpp, yg penting sekarang serius kuliah B Inggrisnya ya 😉

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: