Rindrianie's Blog

Oktober Tahun Ini

Oktober tahun ini saya 36 tahun! Eyampun, kaget juga lho, ternyata udah selama itu ya umur saya di dunia ini. Tapi, mungkin karena keseharian saya yang memang lagi lumayan sibuk terus belakangan ini, belum sempat mikir yang ‘aneh-aneh’ seperti biasanya saat saya berulang tahun. Meskipun tentu saja ada beberapa hal yang ingin saya tulis di sini sebagai pengingat saya sendiri.

Belajar Lagi yang Gagal

Iya, ini mengenai postingan Belajar Lagi yang saya tulis sebelumnya. Saya tidak lulus sodara-sodara! hahahaha. Sedih sih nggak ya, karena saya memang tahu diri, menulis cerita anak bukanlah sesuatu yang bisa saya lakukan dengan baik. Tapi ya memang kecewa, karena kalau udah jago, ngapain saya perlu belajar segala kan? #eh hihihihi.

Tapi saya sadar, pasca kembali ngantor, waktu yang saya alokasikan untuk menulis fiksi terlampau sedikit bahkan nyaris tidak ada sama sekali. Ibarat pisau yang jangankan diasah, dipakai pun tidak, ya karatanlah ya.

Kembali pada prolog postingan kali ini, soal tulis menulis ini membuat saya berpikir, bahwa saya (mungkin) tidak segitu cintanya dengan dunia tulis menulis fiksi, toh buktinya ya demikian itu, ‘cuma’ karena dalih sibuk bla bla bla na na nu nu, saya skip menulis. Tapi di sisi lain, jiwa saya sesungguhnya (ternyata) merindukan duduk asyik di depan laptop membiarkan jari jemari saya menari di atas keyboard menerjemahkan dunia imaji di kepala saya. Ish, kalimatnya terlalu lebay deh kayaknya ya hihihihi. Intinya begitulah manteman, saya teramat sangat rindu sekali menuli!

Episode Hidup yang Menyedihkan

Well, ini istilahnya sedikit lebay lagi nih kayaknya :P. Jadi ceritanya begini, kawan.

Pertengahan Juli kemarin itu, pak suami di-PHK di perusahaannya tempat bekerja. Sejak 1-2 tahun terakhir si perusahaan ini memang agak-agak collaps lah ya, seolah mati segan hidup tak sanggup *halah. Karyawan kontrak tidak diperpanjang kontraknya, karyawan yang kurang perform di-cut dengan segera, dan kemudian karyawan-karyawan yang ‘baik-baik saja’ pun ditawari pesangon sekian rupiah untuk dirumahkan. Dan kali ini AM pun kebagian diberi pilihan tersebut.

Demikianlah, sejak tawaran tersebut diterima, pak suami resmi jobless. Dan sekitar satu bulan berikutnya, saya pun -dengan kesadaran penuh dan telah melalui pertimbangan yang alot- mengajukan resignation letter karena alasan yang tidak mungkin saya jelaskan di sini (karena terlalu kompleks saja sih, mungkin kapan-kapan bisa juga saya ceritakan :D). Keputusan yang mungkin saja berkategori gila, setidaknya beberapa teman dekat yang saya beritahu mengatakan demikian hihihihi.

Kejadian inilah yang pernah saya sebut sebagai ‘hidup saya sedang lucu-lucunya’ di berbagai kesempatan. Bagaimanalah kehidupan kami jika kami berdua tidak berpenghasilan? Iya, memang ada uang pesangon, ada tabungan ini itu lalalala, tapi jika terus dikeluarkan tanpa ada pemasukan, lama-lama pun habislah pasti kan. Meskipun surat pengunduran diri saya tidak langsung disetujui, dengan alasan yang (lagi-lagi) belum bisa saya ceritakan sekarang. Entah kapan saya bisa benar-benar berhenti bekerja, katanya sih paling cepat Februari 2018! ha ha tertawa miris.

Saya percaya, selalu ada dua kemudahan di saat kesulitan datang. Meskipun episode tersebut memang cukup menyedihkan bagi kami berdua, but we are survive! Dan Alhamdulillah, AM sudah kembali bekerja, dan bahkan kini lokasi kantornya cukup dekat dengan kantor saya, jadi kami bisa pergi pulang kantor bareng. Maka nikmat Tuhan yang mana yang saya dustakan, iya kan? :).

Terdampar di Bandara Macau

Nah, ini adalah cerita ngebolang saya seminggu lalu. Biasalah ya, sebagai anggota pemburu tiket promo garis keras halah, pak suami tidak bisa tinggal diam saat tahu info tiket Jakarta-Macau-Jakarta seharga 450rb saja, Tiba-tiba saja dia sudah booking, berangkat tanggal 13 Oktober pulang tanggal 15 Oktober, saya hanya perlu cuti sehari saja karena tanggal 13 itu flightnya jam 1 pagi. Meskipun Macau (dan Hong Kong, karena langsung pergi ke Hong Kong) bukanlah destinasi impian saya, tapi ya kenapa tidak? Itung-itung kado wedding anniversary yang terlambat sebulan atau bisa dianggap birthday gift saya. Bungkus!

Jumat pagi, dari bandara Macau langsung menyeberang ke Hong Kong. Sabtu malam, sudah kembali di Macau karena penerbangan ke Jakarta jam 8 pagi waktu setempat. Jadi jam 4 pagi, kami sudah bangun dan siap-siap berangkat ke bandara saat AM membaca SMS dari AirAsia bahwa penerbangan kami dicancel karena ada typhoon Khanun! Appaaaah?!?!?!

Setelah bingung mau bagaimana (kalau saya lebih ke masih ngantuk dan pengen lanjut tidur sih :P), pukul 5 pagi kami tetap  menunggu taksi ke bandar di bawah guyuran hujan berangin Macau. Sampai di sana, sekitar 85% penerbangan dibatalkan. Tadinya kami keukeuh ingin pulang hari itu juga dengan menggunakan rute lain (ke Singapore dulu, atau KL, atau Bangkok, atau apalah ya) agar Senin masih tetap bisa ngantor. Tapi jadwalnya nyaris tidak ada karena dibatalkan juga dengan alasan yang sama. Kalau pun ada (pesawat Boeing yang mungkin tidak akan terpengaruh si angin topan) harganya mahal banget, cyin! Jadilah kami (dengan terpaksa) menerima re-schedule penerbangan hari Senin-nya dengan jadwal yang sama.

Asyik dong, bisa extend dan explore Macau? Kenyataannya tidak demikian, soadara-sodara!

Bandara Internasional Macau rupanya berlokasi di semaca pulau buatan (duh nggak kebayang sih saya itu laut diuruk-nya kayak gimana awalnya hihihi *abaikan), jadi untuk kembali ke kota-nya, harus melewati jembatan, yang tentu saja akan berbahaya karena siapa yang bisa tahu pasti kapan si taifun akan melintas? Jadi tidak ada bus atau taksi atau apa pun yang bersedia mengantar kami keluar dari bandara, terlalu berbahaya. Apalagi kabarnya, angin topan sebelumnya sempat memakan 9 nyawa. Dan kabarnyala lagi, alaupun bisa menyebrang pulau, bisa saja tidak bisa kembali menyebrang ke bandara.

Beberapa teman backpacker beruntung masih bisa keluar karena mereka langsung menerima jadwal reschedule dan pagi-pagi masih si public transportation masih banyak. Kami terlambat memutuskan (karena masih wara wiri mencoba alternatif pulang lain), baru sekitar jam 2-an kami mencoba keluar. Antrian taksi sudah panjang sementara taksi yang datang mungkin cuma 1 dalam 1 jam. Belum lagi anginnya yang ampun-ampunan, nggak kuatlah saya menunggu cuma dengan cardigan tipis biasa, terbang sih nggak, masuk angin iya :P.

Jadi begitulah, saya berasa jadi Tom Hank di film The Terminal. Bolak balik dari satu sisi ke sisi lain bandara, menggantungkan hidup pada 7-11 dan McDonnald’s dengan menu terbatas yang bisa kami makan, rebutan ‘kamar tidur’ dengan sesama penumpang yang pesawatnya dibatalkan, hingga mendirikan sholat dengan di kerumunan dengan tatapan aneh :D.

Meskipun menginap di bandara bukanlah pengalaman pertama saya, tapi yang kali ini memang sedikit berbeda. Bagaimana saya bisa terlelap saat saya belum terlalu yakin bisa pulang atau tidak dari negeri yang jauhnya 5 jam perjalanan udara semacam demikian? Alhamdulillah (lagi), meski perjalanan pulang sedikit mirip menaiki bajaj di jalanan penuh berbatu, kami berhasil pulang dengan baik-baik saja.

Wew, panjang juga ternyata curcol kali ini ya hehehe. Sudah dulu kalau begitu ya. Jangan lupa bahagia, kawan ;).

SAMSUNG CAMERA PICTURES

SAMSUNG CAMERA PICTURES

2 Comments

  1. zakky

    good experience

    Reply
  2. lovelyristin

    Aku memang jadi brasa nonton film nya Tom Hank ala Orin hahaha… Pengalaman luar biasa… Alhamdulillah ya akhirnya semua baik2 aja dan bs kembali pulang dengan selamat..

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: