Rindrianie's Blog

Pada Suatu Pagi

“Di kehidupanku yang sebelumnya, aku adalah seekor burung gereja.”

Hah?! Aku mengernyit seraya menoleh cepat ke arahnya. Entah sejak kapan lelaki tua gila itu duduk di sebelahku. Siapa dia yang berani-beraninya mengganggu ketenangan pagiku?

“Aku tidak peduli.”

“Itulah kenapa, aku selalu menyukai burung-burung kecil yang terlihat selalu ceria itu,” ujarnya lagi, seraya menunjuk tiga (atau empat?) burung gereja yang tengah bercericit ramai mencari sarapan di hamparan rumput di depan kami.

“Aku bilang, aku tidak peduli!” kataku lebih keras, khawatir telinga tuanya memang sudah tidak bisa mendengar normal.

“Dulu, kausuka sekali menemaniku memandang mereka berjam-jam, Maria.”

Apa katanya barusan? Aku? Menemaninya? Kapan?

“Memangnya siapa kamu?” tanyaku galak, sekaligus penasaran. Kali ini kuperhatikan rambut berubannya yang menipis. Mata tembaganya tengah menatapku, aku merasa mengenalinya, tatapan itu -entah bagaimana- membuatku merasa damai. Bibirnya tersenyum sejak tadi, tidak tersinggung dengan pertanyaanku yang super judes. Lelaki tua gila yang rupawan.

“Kauingat tidak, Maria? Aku pernah berkata padamu, di kehidupanku yang berikutnya, aku bersedia menjadi apa pun, selama Tuhan mengizinkan kau yang mendampingi hidupku.”

Aku geming. Kemarahanku atas gangguan tak diminta dari seorang lelaki tua gila yang terus menerus nyerocos ini, telah berubah menjadi sebuah kebingungan. Mungkinkah aku mengenalnya?

“Tidakkah kau ingat sesuatu tentangku, Maria?”

Aku masih saja diam. Bukannya apa-apa, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Siapa dia? Bagaimana dia mengenalku? Kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya, sekaligus merasa begitu mengenalinya? Ah, lelaki tua gila itu sudah membuatku pusing sepagi ini!

“Maria, duduklah kembali,” kata Si Lelaki Tua Gila mengiba. Tapi aku tetap beranjak, perlahan mendekati bangku kayu bercat putih lain, beberapa langkah darinya. Aku merasa takut.

Aku masih bisa menatap dia dari bangku baruku, dan mata tembaga itu kembali menatapku. Bibir itu sekali lagi tersenyum. Tapi tetap saja, aku tidak bisa mengingat apa pun tentangnya.

Saat aku hendak beranjak menuju kamarku, seorang perempuan muda berseragam putih menghampiri lelaki itu. “Sabar ya, Pak Tejo, sepertinya demensia Ibu Maria semakin memburuk.”

***

“Flashfiction ini diikutsertakan dalam Tantangan Menulis FlashFiction – Tentang Kita Blog Tour”

Tentang-Kita-Blog-Tour

***

Note : 318 kata

0 Comments

  1. wingedwind

    hahaha kukira lelaki tua itu hasil reinkarnasi…

    Reply
  2. rinasusanti

    endingnya gak nyangka euy 🙂

    Reply
  3. eviindrawanto

    Kasihan ibu Maria. Dan kasihan juga Pak Tejo. Cakep banget, Teh 🙂

    Reply
  4. bukanbocahbiasa

    Selalu, selalu dan selalu. FF Mak Orin selalu icikiwiiirr

    Reply
  5. Pamela Fitrah

    jd yg sbnernya gila itu si tokoh utama yaaa
    semangat semoga berhasil 🙂

    Reply
  6. Devy Indriyani

    wah ternyata si dia masih ada keturunan darah burung gereja.

    Reply
  7. Meliala #2

    Endingnyaaaa >.<

    Reply
  8. Arman

    jadi inget film notebook 🙂

    Reply
    1. Orin (Post author)

      aku emang inget Noah sm Ally pas nulis ini maaas hehehehe

      Reply
  9. Attar Arya

    hmm, rasanya kalau niat pak Tejo hendak mengembalikan kesadaran Maria, kalimat-kalimat puitis Tejo nggak tepat sasaran. Ibaratnya, mau nyebrang parit kecil tapi memutar dulu ke gang lain. 🙂

    Reply
  10. Lidya

    hampir gila aku bacanya rin hehehe sampe ngulang baca

    Reply
  11. junioranger

    Gangguan ingatan ya?

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Iya betul Jun, semacam pikun begitulah 😀

      Reply
  12. Beby

    Kasian dua-duanya, Mbak.. 🙁

    Reply
  13. Ryan

    Ah twistnya keren Mbak.

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: