Rindrianie's Blog

Pada Suatu Senja

foto milik Mas Febriyan Lukito

 

Kautahu lelaki di meja sebelahmu tengah gelisah menunggu seseorang yang tak kunjung datang.

“Kekasihmu?” tanyamu menebak. Lelaki di sebelahmu hanya bergumam tidak jelas, kau seharusnya tahu itu semacam pertanda lelaki itu tak ingin diganggu, tapi tentu saja kau hanya tersenyum, dan tetap mengajaknya berbincang.

“Bukankah senja tetap indah meskipun kau menikmatinya sendirian?” tanyamu lagi. Kali ini lelaki di sebelahmu menghela napas panjang, seperti menyerah.

“Aku tidak suka menunggu,” jawabnya ketus.

“Maka tidak perlu kautunggu, kalau begitu.”

“Entah kenapa kekasihku itu suka sekali membuatku menunggu.”

“Oh? Begitu.” Lelaki yang malang, lanjutmu dalam hati.

“Aku hanya ingin menikmati senja indah ini bersamanya. Itu saja.”

“Ah, sebuah keinginan sederhana yang rupanya sulit diwujudkan, betul?”

“Begitulah.”

Kau tersenyum mendengar suara lelaki itu yang terdengar sedih, sekaligus putus asa dan kesal di waktu yang sama. Lelaki itu menyesap anggurnya perlahan, seperti ingin menenangkan diri.

“Apakah kau juga tengah menunggu seseorang?” tanyanya setelah jeda merayap dalam senyap.

Kau menggelengkan kepala cepat. “Tidak, aku lebih suka sendiri.”

“Oh.” Lelaki itu seperti kehabisan kalimat basa basi, mungkin dia berpikir jawabanmu secara tidak langsung menyuruhnya diam.

“Tapi aku suka sekali berbincang,” lanjutmu lagi, tidak ingin kehilangan teman bercakap.

“Jika kau punya seorang kekasih, kau bisa mengajaknya berbincang kapan pun kau mau.”

“Mungkin benar. Tapi perempuan sepertinya terlalu merepotkan, setidaknya bagiku, mohon jangan tersinggung.”

Lelaki itu tergelak, seperti sepakat dengan pendapatmu meskipun enggan mengakuinya.

“Kau menyukai senja?” tanyamu setelah tawa si lelaki itu mereda.

“Selalu.”

“Oh? Ada alasan khusus?”

“Seseorang pernah memberitahuku, bahwa warna jingga pada senja adalah cara matahari mengucapkan selamat malam pada kita. Dan sejak itu aku memaknai senja dengan cara yang berbeda.”

Kau tertegun mendengarnya, kalimat seindah itu belum pernah kaudengar sebelumnya. Kau sudah lama menjadi pemuja senja, tapi kesimpulan sederhana seperti yang baru dikatakan lelaki itu tak pernah sekali pun melintas di benakmu. Lelaki itu benar, bahkan detik ini pun, kau memaknai senja di hadapanmu itu dengan cara yang berbeda.

“Kalimat yang indah,” katamu akhirnya. Lelaki di sebelahmu hanya mengangguk. Matamu diam-diam mengamati siluet wajahnya yang terlihat seperti pahatan patung Yunani yang sempurna dari tempatmu duduk. Lelaki yang rupawan.

Detik berikutnya kau dan dia asyik menatap ke arah senja yang jingganya kian meredup, menonton sang matahari yang perlahan namun pasti seperti bersembunyi di cakrawala, lantas berbisik dalam hati mengucapkan selamat datang pada malam.

“Kekasihmu sepertinya tidak datang,” katamu memecah sunyi. Senja yang menghubungkanmu dengan lelaki itu lenyap sudah. Kau harus bersiap kehilangan teman bercakap.

“Ya, kekasihku sepertinya tidak datang.”

“Kau akan tetap menunggunya?” tanyamu, sedikit cemas. Untungnya lelaki itu menggelengkan kepala.

“Tidak,” jawabnya pendek, namun dia tidak beranjak, tetap duduk di kursi di sebelahmu.

Kau tersenyum, memandang horizon yang kini telah pekat seluruhnya. Sepotong senja yang digantikan malam beserta seorang lelaki rupawan rasanya tetap sempurna.

“Izinkan aku menemanimu,” ujarmu seraya menggeser kursimu mendekati lelaki itu.

***

Note: 459 kata, untuk Monday Flash Fiction Prompt #78: Menikmati Senja

0 Comments

  1. aulia

    Bagus euy. Serene and soothing. Aku mbacanya sambil ngedengerin Falling In Love At A Coffee Shop, makin nyess. :D. Twistnya juga halus banget.

    Reply
    1. Orin (Post author)

      wahhh…aku jadi penasaran sm lagunya heuheu. Terima kasih ya 🙂

      Reply
      1. Febriyan Lukito

        Ah saya suka lagu itu. Kebetulan banget sbnrnya pas foto ini denger lagu itu. *jgn bilang2 yak*

        Reply
  2. @brus

    Oww … warna jingga pada senja ya ? …
    Hmm … disebut juga warna ‘lembayung … benar gak sih sebutan itu tEh ORin ..? 😛

    Reply
  3. oh andrian

    kerennnnn bnget,seakan2 aku yg ada di cerita hahaha
    salam kenal mbak 🙂

    Reply
  4. ara

    Masih nggak terbiasa ya baca pake POV yang seperti ini.

    Reply
  5. GloryGrant

    Wah cerpennya keren mbak. 🙂

    Reply
  6. kamisuamiistri

    Manis sekali Mbak Orin ceritanya. Indah dan saling menemukan bahagia. 🙂

    Reply
    1. kamisuamiistri

      Oiya. Mohon maaf, salam kenal. Nama saya Aini. Email untuk blog saya memang tidak pakai nama.

      Reply
  7. jampang

    suka dengan kata-katanya, teh

    Reply
  8. Arman

    jadi maksudnya gay gitu ya?

    Reply
  9. Lianny Hendrawati

    wah ada maksud hihihi 😀

    Reply
  10. Lidya

    asyik jadi ada temannya ya

    Reply
  11. Febriyan Lukito

    Mbak Orin…. Sukakkk.
    Kata2 arti senjanya bikin nyess

    Reply
  12. Ummu El Nurien

    aku kurang paham, alur ceritanya, Mbak.. #PerlubelajarsamaMbak nih.

    baru tau kalau warna jingga pada senja adalah cara matahari mengucapkan selamat malam 🙂

    Reply
  13. Attar Arya

    Meski tanpa twist yang cetar, cerita Orin tetap terbaca menarik. 🙂

    Reply
  14. damarojat

    saya mbacanya gay ini. betul nggak?

    Reply
  15. Tri Widy Astuti

    saya juga seneng banget melihat senja.. indah dan romantis

    Reply
  16. prih

    Oriin, apa khabar? Pemuja semburat senja beraksi nih.
    Selalu kagum dengan karya Orin, akhir yang sulit ditebak. Salam

    Reply
  17. Beby

    Kerasa banget gusarnya menunggu itu 😀

    Reply
  18. ilmazaim

    Ini ceritanya gay ya rin? :))

    Oriin mampir2 yaa ke blog baru il.. http://www.ilmazaim.blogspot.com 😀

    Reply
  19. ichasyahfa

    Halo, Mbak Orin. Aku tau blognya Mbak dari post-nya Mbak Nurul. Duh aku jd pengen baca semua fiksi2 Mbak. Aku jg suka nulis fiksi Mbak, aku baru post 2 di blog *gadak yg nanya* ? Aku mau belajar dari Mbak Orin ah..

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: