Rindrianie's Blog

Perempuanku

Namanya Sekar. Dia adalah perempuanku, sebilah sayap yang memungkinkanku untuk terbang, sesosok Hawa jelmaan tulang rusukku yang hilang, makhluk terindah yang pernah ada. Seandainya saja peristiwa malam itu tak pernah terjadi, dia akan tetap menjadi Sekar-ku seperti seharusnya, tapi bedebah itu telah mengubahnya menjadi manusia yang berbeda.

Sekali lagi, aku menatap siluet Sekar yang seolah ikut menjingga. Sejak aku mengenalnya, senja dan dirinya seperti sepasang kekasih yang ditakdirkan untuk selalu beriringan, indah dan mempesona dalam waktu yang sama. Perlahan, aku mendekatinya, berharap kali ini dia tak lagi menganggapku gila.

“Senja yang indah ya.” ucapku hati-hati, seraya duduk di sisinya. Pasir yang menggelitik telapak kakiku masih terasa hangat, angin sore menghembuskan aroma laut yang pas. Dan di seberang sana, mentari yang sedang berpamitan betul-betul seperti tenggelam ke dasar lautan.

“Iya.” singkat saja dia menjawab, suaranya Β yang tersenyum melegakan hatiku. Perempuanku sedang menikmati senja di depannya dengan gembira. Pertanda baik. Semoga senja ini akan baik-baik saja.

Saat senja seperti ini adalah momen kesukaan kami berdua, aku dan perempuanku akan betah berlama-lama duduk diam hingga malam menggelap sempurna, berdialog dalam sunyi menikmati teater semesta. Jika pun kehidupan berhenti berdetak di detik ini, sepertinya tak mengapa buatku, selama ada perempuan ini di sisiku, maka apapun yang terjadi aku akan menerimanya dengan suka cita.

“Kapan kau akan pulang, Dik?” tanyaku setelah jeda di antara kami berdua, “aku dan anak-anak merindukanmu di rumah.” Perempuan di sisiku mendesah.

Aku bisa tahu kini rahangnya mengeras dan tangannya terkepal menggenggam pasir. Aku bisa tahu dia ingin lari dan bersembunyi entah dimana asalkan bukan di sini bersamaku sekarang. Aku tahu sebentar lagi mungkin saja dia akan kembali meneriakiku gila, seperti kemarin, atau sehari sebelumnya, atau seminggu yang lalu, atau kapanpun setelah peristiwa itu terjadi padanya.

Aku mengerti dia marah, tapi aku juga berharap dia akhirnya tahu, aku tidak akan pernah menyerah. Tidak akan pernah! Aku tetap lelaki yang sama yang dulu memujanya, tetap demikian hingga selamanya saat kami harus terpisahkan alam kasat mata, hingga kemudian kelak kami dipertemukan kembali di surga.

“Kapan kau akan berhenti bertanya?”

“Setelah kau menjawab pertanyaanku.” jawabku sambil menoleh padanya yang tengah mengatupkan bibirnya kuat-kuat, memandang tanpa fokus ke semua arah, “dengan jawaban yang sebetulnya, bukan dengan pertanyaan lain seperti itu.”

“Mas sudah gila,” ucapnya datar, “Aku perempuan kotor, Mas.” Duh…kalimat itu lagi. Kini aku yang harus berupaya mengisi oksigen ke paru-paruku untuk tetap bisa bernafas, menelan ludah dengan susah payah seraya mencoba menata kata dikepala untuk aku ucapkan padanya.

Bohong belaka kalau aku katakan padanya aku mengerti yang dia rasakan, karena faktanya aku tak pernah berada dalam posisi dirinya, bahkan sepertinya tak mungkin untuk sekedar membayangkannya sekalipun. Terseret ke lorong gelap dengan mulut tersumpal, menangis berteriak meronta sia-sia, untuk kemudian dipaksa melayani nafsu binatang dari makhluk bejat yang tak lagi pantas disebut manusia.

Aku mengerti dia terluka, bahkan trauma, tapi kenapa aku tak bisa menjadi penyembuh bagi sakitnya itu? Bagaimana aku bisa meyakinkan Sekar bahwa dia tetaplah perempuan yang sama bagiku, perempuan yang akan selalu aku puja, meski dia -mengutip pernyataannya- perempuan kotor sekalipun.

“Kau tetap istriku, Sekar.” ujarku akhirnya, mencoba menyentuh tangannya, yang segera ditepis cepat perempuanku itu, “aku tetap mencintaimu, seperti dulu.” Perempuanku mulai histeris, kedua tangannya erat memeluk lutut, kepalanya menunduk seolah ingin bersembunyi, detik berikutnya dia berteriak menjerit.

Melihatnya seperti itu selalu membuatku pilu, aku hanya terdiam saat suster berusaha menenangkannya dan kemudian membawanya menjauh, kembali ke rumah terapisnya di ujung sana, meninggalkan aku yang tak punya pilihan lain selain termenung. Apakah aku memang gila seperti yang selalu dikatakannya? Tidak, aku tidak gila, aku hanya mencintainya. Itu saja.

Maka besok aku akan kembali lagi ke sini, mengajaknya pulang, memintanya kembali. Jika saat itu belum berhasil, aku akan mencobanya lagi lusa, kemudian esok harinya lagi, kemudian minggu depan, bulan depan, selamanya jika diperlukan. Karena dia adalah perempuanku.

2013-05-16 12.31.00

Dibuat khusus untukΒ tantangan menulis “Kliping”Β @JiaEffendi

** Tantangan kali ini cukup susah bagi saya, karena saya jarang sekali membaca berita di koran! ups hihihihi. Berita di atas (Kompas, kamis 16 Mei 2013) saya pilih secara random, alasannya sederhana saja : tidak terlalu panjang :P.

0 Comments

  1. LJ

    mencekam..

    tantangan fiksi ini makin beragam ya Rin, jempol buat orin yang tak pernah menyerah dari satu tantangan ke tantangan lain.. keren!
    ___
    iya Mak, tambah susah aja tantangannya he he

    Reply
  2. Pingback: hai,ini dia kontributor tantangan menulis kliping. enggak sebanyak | Jia Effendie

  3. Pingback: kontributor kliping dan… ketemuan yuk di bandung! | Jia Effendie

  4. della

    Gutlak, Rin πŸ™‚
    ___
    he he…tengkyu Del πŸ™‚

    Reply
  5. Social Bookmarking Indonesia

    sekaar tuh, namany aanaknya teh ani berta nenk πŸ˜›

    orin banget nulis kaya gini πŸ˜›
    ___
    Iya Teeeeh, anaknya Teh Ani ya hehe

    Reply
  6. nisamama

    huaaaaa…. sediiih mbak. T^T
    saya selalu suka kata “perempuanku” atau “lelakiku”.
    ___
    he-eh aku jg suka dg perempuanku dan lelakiku itu mba^^

    Reply
  7. Abi Sabila

    Sekar! terus terang, setelah melihat tayangan ftv beberapa waktu lalu, nama ini terus bermain dalam benak saya, mungkinkah adiknya Bila nanti akan kami beri nama Sekar? #nego dulu, padahal istri belum hamil. hihi…

    Makin mantap gaya menulisnya, Teh. Kapan dibukukan?
    ___
    Wah…semoga adiknya Bila segera tercipta ya Bi *apasih* hihihi.
    Aamiin…makasih supportnya Bi^^

    Reply
  8. riga

    sederhana dan indah… πŸ™‚
    ___
    wah…tengkyu bang^^

    Reply
  9. prih

    Orin, keren mencerna tantangan melalui Sekar. Melaju terus Neng. Salam
    ___
    terima kaish ibuuu^^

    Reply
  10. ~Amela~

    eh.. itu cara kerja sepatunya gimana teh?
    #salahfokus
    ___
    di alas sepatunya itu dipasang alat yg bisa menghantarkan listrik gitulah Mel, jd bisa bikin penyerang kesetrum dan ‘lumpuh’ untuk bbrp saat jadi calon korban bisa melarikan diri..

    Reply
  11. myra anastasia

    terkadang butuh org “gila” utk mau memahami org spt Sekar, ya πŸ™‚

    Dalem nih cerpennya πŸ™‚
    ___
    sepertinya begitu ya mba Chi, ga semua orang bisa mengerti..

    Reply
  12. Imelda

    orin emang jago soal fiksi. Salut!

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: