Rindrianie's Blog

Perihal Bersyukur

Well, saat ini saya ingin sekali ‘nyampah’, dan sepertinya wadah yang tepat adalah untuk membuangnya di sini. Ha ha. Maafkanlah temans.

Sebetulnya bukan nyampah yang sumpah serapah dipenuhi amarah semacam itu sih, cuma sebatas mengeluarkan unek-unek saja. Sudah bercerita ke beberapa sahabat dekat, tapi kok rasanya belum terlalu plong. Seperti ada yang mengganjal, masih ada yang belum dikeluarkan. Jadi mari kita catatkan di sini saja :D.

Baiklah, ini memang masalah yang cukup sensitif bagi saya. Tentang anak, keturunan, momongan, apa pun lah sebutannya ya. FYI bagi teman-teman yang belum tahu, saya dan Pak suami menikah September 2010, dan hingga postingan ini dituliskan, belum ada malaikat kecil-malaikat kecil itu dititipkan Tuhan untuk meramaikan rumah kami. Ikhtiar dan usahanya apa saja yang sudah kami lakukan? Ah, sudahlah ya, saya pikir saya tidak perlu menjelaskannya di sini segala heuheu.

Sabar dan ikhlas adalah pilihan paling masuk akal. Sementara ‘jalan ninja’ yang seringkali dipakai saat harus menghadapi orang-orang sekitar yang kadang tidak begitu sibuk dengan hidupnya sendiri sampai merasa harus mencampuri hidup orang lain, adalah dengan bersikap cuek dan ndableg :P. Karena ya mau bagaimana lagi, perkara yang satu ini bukan lagi wewenang kita sebagai hamba toh?

Saya biasanya sih biasa saja kalau di dalam sebuah grup besar yang menjadi topik pembicaraan adalah soal anak. Tumbuh kembangnya-lah, sikap anak-anak yang bikin stres-lah, soal kurikulum sekolah yang jauh lebih sulit daripada zaman kita dulu-lah, apa pun. Kadang saya ikut nimbrung, bertanya ini itu yang sekiranya menarik minat saya, meskipun memang lebih sering diam menyimak saja.

Nah, topik itu menjadi sedikit mengesalkan saat anak dijadikan sebagai semacam achievement, dengan membangga-banggakan (baca: pamer) bahwa anak pertama lahir di sekian bulan setelah menikah dan sebagainya dan seterusnya. Bab sabar dan ikhlas saya langsung ambyar mendengarnya hahahaha. Mesti remedial deh ini mah :D.

Saya selalu mengingatkan pada diri saya sendiri, bahwa setiap keluarga, setiap pasangan, setiap individu, pasti punya ujiannya masing-masing. Jadi ya santuy sajalah. Tapi saya juga manusia biasa, yang kadang sedang tidak merasa baik-baik saja, jadi nggak apa-apa kan ya kalau sedikit terluka? *tsaaah.

Nah, kembali ke judul postingan, saya hanya ingin menyuruh si Orin yang sedang terluka itu untuk tetap bersyukur. Bersyukur dan bersyukur dan bersyukur. Mensyukuri semua hal yang ada, sekaligus mensyukuri segala sesuatu yang todak (atau belum?) ada. Bukankah tidak ada yang terjadi tanpa izin Sang Maha Penggenggam Kehidupan?

Alhamdulillah.

Mari mensyukuri hidup dan kehidupan, temans.

Leave a Reply

%d bloggers like this: