Rindrianie's Blog

Perihal Membaca Murakami

Yang saya maksud adalah Haruki Murakami, penulis asal Jepang. Ada yang sudah baca?

Saya mungkin termasuk sangat terlambat menjadi ‘fans’nya Murakami. Walaupun saat melanjutkan kuliah dulu (sekitar tahun 2010-2011) saya ingat pernah membedah salah satu cerpennya (dalam bahasa Jepang) untuk tugas kuliah. Mungkin karena trauma itu kali ya, jadi saya jiper duluan baca Murakami hihihihi.

Tapi kemudian di tahun 2014 saya membaca 1Q84, atas saran seorang teman. Dan suka! Kemudian saya baca Norwegian Wood, novel ini sangat terkenal (diterbitkan tahun 1987, dan bahkan sudah difilmkan) tapi ya saya baru tergerak membacanya setelah membaca 1Q84 tadi heuheu. Dan saya juga menyukainya. Maka saya resmi menyukai Murakami untuk kemudian membaca satu per satu novelnya yang lain yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, karena kalau pake bahasa aslinya saya mabok duluan lah ya ha ha.

Terakhir yang saya baca adalah Tsukuru Takizaki, sementara novel Dengarlah Nyanyian Angin yang masih sedang saya baca, sepertinya ketinggalan di rumah Majalengka. Sejauh ini favorit saya adalah novel berjudul Kafka on The Shore. Ingin sekali membaca semua novel, cerpen dan essay-nya, tapi sayang hanya beberapa saja yang sudah diterjemahkan, mau beli yang bahasa Inggris kok ya sayang uangnya mihil pisan hihihihi.

Dari sedikit yang sudah saya baca tersebut, bisa disimpulkan bahwa karya (fiksi) Murakami hampir selalu bercerita tentang kesendirian, kesepian, absurd, bahkan random, sureal. Salah satu ulasan proses kreatif Murakami saat menulis bisa dibaca di Fiksi Lotus, dari tulisan itu sedikit banyak bisa dimengerti kenapa karya Murakami bisa berkategori ajaib ha ha *abaikan.

Saya ingat, ada seorang teman yang meminjam Murakami saya, lupa yang mana, dan saat mengembalikan  si novel komentarnya adalah “Ini novel apaan ya maksudnya? nggak ada ujung pangkalnya gitu” :D. Tapi tentu saja, membaca memang masalah selera, serupa dengan tak ada yang salah dari seseorang yang lebih suka mie ayam daripada bakso, teman saya tadi mungkin selera bacanya bukan Murakami, seperti saya yang tak bisa menikmati karya Tere Liye. Case closed.

Saya memang tipe membaca setia. Saat saya sangat menyukai sebuah novel, bisa dipastikan saya akan mencari karya lain dari penulis yang sama, dan membaca hampir keseluruhan bukunya. So far yang seperti ini berlaku untuk Dewi lestari, Paulo Coelho, Mitch Albom, Eka Kurniawan, Agus Noor, Andrea Hirata, dan sekarang Murakami san ini. Pada satu titik memang jadi terbaca pola menulisnya, dan bisa menimbulkan rasa bosan. Biasanya saya jeda dulu dengan membaca karya penulis lain, tapi tetap kembali pada mereka. Tapi saat ini saya masih belum bosan sama Murakami sih heuheu.

Akhir pekan ini saya sudah berencana menikmati esai Murakami yang berjudul ‘What I Talk About When I Talk About Running‘, dari judulnya saja sudah menarik, bukan? Penasaran saya, karena konon menulis pun bagi Murakami adalah proses lari marathon yang butuh stamina dan fokus sempurna. Jangan-jangan setelah baca saya jadi kepengen ikutan jadi runner nih ya :P. Semoga nantinya bisa saya review di sini ya, nggak janji sih tapi hihihi.

Ya sudah segitu dulu. Lagi baca apa nih, manteman? Met berwiken ria yaa.

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: