Rindrianie's Blog

Pribadi yang ‘ditunggu’

Sahabat, pengalaman menunggu saya beberapa waktu yang lalu ini, entah kenapa kembali menyeruak dalam benak saya, saat saya menunggu dengan harap-harap cemas seorang pembeli yang tertarik pada sendal yang saya jual dalam acara ngelapak di TMII kemarin. Izinkan saya menceritakannya kembali.

Bersama seorang teman, saya membuat janji untuk pergi ke suatu tempat. Waktu dan tempat untuk bertemu sudah ditentukan dan disepakati sehari sebelumnya. Pada hari H, kami pun saling mengkonfirmasi mengenai pertemuan itu, tidak ada yang berubah dan tetap pada rencana semula.

Setelah memperkirakan waktu menuju tempat bertemu, saya putuskan untuk berangkat dari rumah 1 jam sebelumnya. Setelah naik angkot hingga sepertiga perjalanan (saat itu saya belum memiliki motor), niat awal saya untuk naik kopaja dibatalkan karena setelah menunggu 10 menit, Kopaja yang saya tunggu tidak juga datang. Akhirnya saya naik busway dengan harapan saya bisa datang tepat waktu, daripada tetap menunggu Kopaja yang mungkin akan membuat saya datang terlambat.

5 menit sebelum waktu yang disepakati, saya tiba di tempat janjian. Segera saya mengabari teman saya itu bahwa saya telah berada di Restoran tempat kami janjian. Yang hanya dijawab dengan kata “Oke….”. Lantas saya pun menunggu.

Salah satu kebiasaan saya, adalah selalu membawa buku kemanapun saya pergi. Pada hari itu saya membawa sebuah Novel berbahasa inggris yang belum juga bisa saya selesaikan karena malas untuk ‘berpikir’. Setelah memesan makanan untuk sarapan, saya pun menunggu sambil sarapan dan membaca novel. Sarapan sudah saya habiskan, dan beberapa halaman novel sudah berhasil dibaca, tetapi teman saya belum datang. Sudah 15 menit berlalu dari waktu yang kami sepakati. Tak ada sms dari dia, maka saya pun meneruskan membaca.

Cerita dalam novel bertambah seru, tanpa terasa saya berhasil membaca halaman demi halaman hingga 2 chapter selesai. Takjub dengan banyaknya halaman yang bisa saya baca, segera saya cek jam di handphone, dan ternyata saya membaca selama hampir 1 jam ! Dan yang lebih menakjubkan, teman saya masih juga belum datang, dan tak ada sedikit kabar pun darinya.

Merasa senang telah berhasil membaca novel berbahasa Inggris -yang sangat sulit bagi saya- hingga 2 chapter sekaligus, terkontaminasi rasa kesal saya karena keterlambatan teman saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengsms, menanyakan dimana dia sekarang, dan apakah dia masih berniat pergi ke tempat tujuan kami itu, dengan kalimat yang sedikit bernada marah. Terkejut saya saat mendapat balasan sms darinya, tak ada kalimat permintaan maaf dan atau penyesalannya karena telah membuat saya menunggu, atau menjelaskan alasan apa yang menyebabkan dia terlambat, bahkan dia menyuruh saya pulang jika memang tidak mau menunggu. Padahal saya sudah menunggunya selama lebih dari 1 jam.

Saya sungguh kecewa terhadap teman saya ini. Walaupun tak begitu lama (sekitar 10 menit setelah sms), akhirnya dia datang dan kami tetap pergi bersama ke tempat tujuan kami, dan saya bisa bersikap ‘normal’ tanpa melanjutkan kekesalan saya padanya dalam perjalanan kami setelahnya, tetap saja saya membuat catatan khusus di memori saya mengenai keterlambatan dan sikapnya terhadap hal itu. Dan mengingatkan diri saya sendiri untuk tidak pernah melakukan hal yang sama pada orang lain.

Saya pikir, aktifitas menunggu tidak pernah menyenangkan. Itulah mengapa kita sering dinasehati untuk busy while waiting, agar kita bisa ‘menikmati’ saat-saat menunggu, tanpa harus kehilangan waktu karena tidak tahu apa yang kita tunggu.

Lantas bagaimana jika justru ‘peran’ kita dalam aktifitas menunggu itu adalah sebagai objek? Tentunya Sahabat yang saya ceritakan diatas bukanlah contoh yang tepat. Dan detik selanjutnya saya memikirkan apa jawaban saya untuk pertanyaan-pertanyaan berikut :

Sudahkah saya menjadi pribadi yang ‘ditunggu’ oleh orang tua, atasan, sahabat atau lingkungan di sekitar saya?

Apakah saya adalah pribadi yang ‘pantas’ untuk dinantikan dengan penuh harap?

Cukup bernilaikah hidup saya untuk kehidupan mereka yang tulus menyayangi saya?

Ternyata, pertanyaan-pertanyaan itu belum mampu saya jawab cepat sekarang. Sungguh saya berdoa, bahwa suatu saat saya bisa menjawab ‘YA’ dengan cepat, dan perjalanan menuju pribadi yang pantas ‘ditunggu’ itu akan saya mulai sekarang juga.

Lebih jauh lagi, semoga kita semua menjadi hamba kecintaan Beliau yang ‘ditunggu’ di pintu-pintu surgaNYA kelak. Amin…

*Photo note :

Ibu penjual bunga yang saya temui dalam perjalanan menuju tangga nirwana-Bromo.

0 Comments

  1. alex

    pertamax…

    waktu di Jepang pernah ada teman orang Jepang yang membungkuk dalam2 berkali-kali ke aku minta maaf karena telah membuatku menunggu padahal cuma 5 menit.. dan usianya jauh diatasku, katanya “saya telah merugikan kamu..saya harus traktir kamu nanti minum teh..”

    pertanyaannya sekarang…
    bagaimana caranya bersikap normal saat teman itu datang?..

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Makasih comment-nya Gan (halah :P)

      Hmm… 5 menit satu cangkir teh? hampir 1 jam berarti 12 cangkir teh dunk ya?
      Ga normal2 bgt sebetulnya Pak, tapi karena waktu itu kita mau shopping, jd Orin bisa normal beneran coz seneng bs shopping hihihihi…

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: