Rindrianie's Blog

Prompt #15 : Leo

Teruntuk Diana,

Sebelumnya, maafkanlah kelancanganku. Karena memanggil namamu tanpa ada kata ‘suster’ di depannya. Karena menulis surat (cinta) ini untukmu. Karena telah (dengan begitu kurang ajar) mencintaimu dengan sangat.

Aku tahu aku adalah pendosa, Diana. Aku melakukan semua yang ingin aku lakukan, dulu. Seolah kehidupan ada dalam genggamanku, seolah tak ada Tuhan yang sanggup menghukumku. Dan sudah terlalu terlambat bagiku untuk sekedar menyesal, karena hidupku terlanjur habis. Walaupun tentu saja, kehadiranmu, keberadaanmu, membuatku bisa sedikit tersenyum di penghujung hariku.

Maka izinkan aku berterima kasih, Diana. Karena telah sudi menemaniku menjalani ART, karena telah merayuku meminum berkapsul-kapsul ARV. Aku mengerti kau ‘sekadar’ menjalankan kewajibanmu sebagai perawatku, tapi biarkanlah aku menganggapnya sebagai ungkapan rasa cinta seorang perempuan yang mencinta lelakinya. Semoga kau tidak keberatan ya, Diana, karena aku tidak memiliki perempuan seperti itu dalam kehidupanku.

Tentu saja, saat kau membaca suratku ini, aku telah membusuk berkali-kali di neraka. Doakan aku kelak bisa juga menemuimu di surga ya, Diana. Semoga saat itu dosaku telah lunas terbayar. Semoga saat itu, sekali lagi, aku bisa melihat senyum manismu yang tulus.

-Leo, ODHA yang menjadi pemujamu-

Aku lipat kembali surat itu hati-hati, memasukkannya ke dalam amplop seperti semula, lantas menyelipkannya dalam agenda yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Aku termenung di depan sebuah kamar. Kamar yang dulu didiami Leo, walaupun kini telah berganti penghuni, entah berapa kali. Tapi semua tentangnya tak pernah terhapus, jejak lelaki itu menancap terlalu kuat tak bisa hilang di benakku.

“Diana, baru baca surat Leo lagi?” Sahabatku Mira menyapa. Aku hanya mengangguk lemah. Lantas dia membelai punggungku perlahan. “Relakanlah, Di. Ada Seno yang menunggumu di kamar itu sekarang, dia membutuhkanmu, seperti Leo dulu.” Lagi-lagi aku hanya mengangguk setuju.

Mira tak pernah tahu, Seno, atau siapapun penghuni kamar itu, bukanlah Leo. Bukan lelaki yang pernah aku jatuhi cinta dalam diam bertahun lalu. Ah Leo, seandainya saja aku tahu saat itu kau pun mencintaiku..

Note : 311 kata. Ditulis untuk MFF.

Note2 : Penjelasan tentang ART (Anti Retroviral Therapy) dan ARV silakan baca di sini.

0 Comments

  1. Helda

    Huwaaa, mewek beneran ini
    ___
    *sodorin tissu* 🙂

    Reply
  2. partnerinvain

    unconditional love
    ___
    🙂 🙂

    Reply
  3. Adi Nugroho

    Ah andai tahu.. 😀
    Ah lama nggak mampir ke rumah mbak Orin..

    Salam.
    ___
    hai Di, kemana aja? ada blog baru nih sepertinya 🙂

    Reply
  4. LJ

    jempol..!
    ___
    makacih eMaaak *ketjup*

    Reply
  5. Ayu Citranigtias

    Waaa… saling jatuh cinta tapi gak berani mengungkapkan.. sakit banget rasanya iniii.. #berasacurcol 🙂
    ___
    ayo Yuuu, bilang aj kalo cintaaa, ntar nyesel lho 😛

    Reply
  6. noe

    Wah endingnya ternyata kasih tak sampai 😉
    ___
    iya, kasih tak sampai episod ke sekian hihihi

    Reply
  7. kakaakin

    Permisi, suster Akin datang… 😀
    Etapi seingatku aku belum pernah merawat pasien HIV positif…
    ___
    hai susteeeerrr 😉

    Reply
  8. uwienbudi

    Seneng banget sama kasih tak sampai mbak.

    #yang baca nyesekkk (*tarik nafas)
    ___
    ups hihihi..maabh yaa 😉

    Reply
  9. nurlailazahra

    Aih, menyentuh. greget mbacanya. Judulnya simple 😀
    ___
    sekarang ini, kalo pusing nyari judul aku kasih judul nama tokohnya aja Sarah qiqiqiqi

    Reply
  10. yeye

    Orinnnn, eta meuni sedih pisannn 🙁
    ___
    perlu tissu teu? hihihihi

    Reply
  11. sri sugiarti

    keren mak orin 🙂
    ___
    Tengkyu mba^^

    Reply
  12. rinibee

    Aahh.. Nyesek.. 🙁
    ___
    selamat nyesek mba #eh?

    Reply
  13. Lyliana Thia

    udahlah Diana.. ikhlas.. ikhlas.. hihihi…
    ___
    iya nih mba, blom bisa move on dia *halah* hihihi

    Reply
  14. Lidya

    baru mau tanya kapsul ARV hehehe . kalau ART aku taunya beda singkatan rin

    Reply
  15. junioranger

    Cinta jangan kau pergiii
    ___
    wah…fans Sheila Madjid he he

    Reply
  16. fatwaningrum

    mbacanya mbikin ati nyesek, nyuebelin deh mbak orin :P. suka 🙂
    ___
    hahaha…tengkyu lho mba 😛

    Reply
  17. Miss Rochma

    perempuan gitu itu ya mbak? sepertinya memang tercipta untuk tidak mengungkapkan cinta. *komen yang ikutan geje*
    ___
    iyaaa…pdhl mah nyesel kan ujung2nya? hihihihi

    Reply
  18. Rini Uzegan

    Ih, suratnya romantis bgt seh… 😀
    ___
    romantis yah? hihihihi

    Reply
  19. liannyhendrawati

    Eh beneran yg dibilang mbak Na. Kita sehati ternyata, tapi punya Orin ini ceritanya jauh lebih keren .. 🙂
    ___
    *cipika cipiki dulu sm solmet*

    Reply
  20. carra

    awwwwwwwwwwwww 😥
    ___
    *sodorin tissue*

    Reply
  21. Evi Sri Rezeki (@EviSriRezeki)

    Suka deh sama suratnya :”)
    ___
    makasiiiih^^

    Reply
  22. ronal

    Kasih tak sampai 🙁

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: