Rindrianie's Blog

Random Story

Dalam rangka menghindarkan blog ini dari sebuah penyakit bernama lumutan, izinkan saya menuliskan beberapa cerita random yang saat ini terlintas di kepala saya ya.

Cerita random 1

Ada berita mengejutkan saat saya pulang ke rumah Mamah kemarin ini, perihal kematian seorang saudara jauh yang seusia dengan saya, yang disebabkan oleh entah penyakit apa yang tak bisa ‘terdeteksi’ dokter.

Saat kecil dulu, saya lumayan dekat dengannya, kita sebut saja Melati ya. Kadang, kalau liburan sekolah dan saya berlibur ke Bandung, saya pasti akan mampir juga ke rumah Melati, bermain dan belajar dan baca buku bersama, bercerita ini itu di sekolah masing-masing, hingga pamer-pameran siapa yang paling bagus nilai raportnya dan sebagainya dan seterusnya.

Zaman kuliah, Melati terbukti jauh lebih pintar daripada saya karena almarhumah bisa berhasil lulus UMPTN. Sehingga meskipun kami berada di kampus yang sama, saya cuma bisa berpuas diri belajar di Diploma 3. Bahkan Melati bisa menjadi asisten dosen di sana yang tentu saja tak semua orang bisa melakukannya.

Meskipun kapan dan bagaimana kematian itu datang adalah wewenang Sang Pemilik Kehidupan, tetap saja rasa penasaran saya membuat saya sedikit kepo dan bertanya ini itu pada Mamah perihal kematian Melati yang mendadak.

“Mah, jadi Melati sebetulnya sakit apa?”

“Nggak tau, nggak ada namanya.”

“Nggak ke dokter?”

“Ya udah atuh.”

“Trus? Nggak dirawat aja di rumah sakit?”

“Yaa… kan nggak tau sakit apaan. Cuma kayaknya sih karena sakit pikiran.”

“Maksudnya?”

“Kan dia masih belum nikah juga, Teh.”

“Hah? Sakit karena kepikiran belum nikah?”

“Yaa … mungkin nggak secara langsung begitu. Cuma kan Mamahnya Melati agak rewel, ada yang mau ngelamar tapi karena bukan lulusan S1 jadi nggak dibolehin.”

“Oh?”

“Ada lagi yang mau nikahin Melati, tapi bukan pegawai kantoran, jadi nggak dapet restu juga dari Mamahnya.”

“Ya ampun…”

“Jadi gitu meureun, Melati-nya jadi rungsing, terus sakit, terus meninggal..”

Obrolan masih berlanjut panjang sih, saya sempat menanyakan juga apakah jika dulu AM bukan lulusan S1 dan bukan pegawai kantoran Mamah juga akan tidak mengizinkannya menikahi saya? hihihihi abaikan.  Apakah Melati benar-benar meninggal dunia tersebab hal demikian yang kami obrolkan, tak ada yang bisa memastikannya. Tapi intinya, kami sepakat bahwa, tidak perlulah ‘memaksakan kehendak’ atas dalih ‘untuk kebaikanmu sendiri’ yang lazim terjadi antara orang tua dan anak.

Cerita random 2

Reuni. Kata sederhana ini definisinya bisa jadi berbeda bagi setiap orang ya. Bagi saya bagaimana? Sempat menjadi sebuah ajang yang sedikit menakutkan. Saat di grup whatsApp teman-teman SMU dibicarakan perihal reuni angkatan tanggal 11 September kemarin, saya sudah meniatkan diri untuk tidak hadir. Kenapa? Ah, pasti sudah tahulah ya alasan keberatan saya.

Yup, perihal momongan yang hingga detik ini belum juga saya miliki. Pastilah ya, pertanyaan soal ‘sudah berapa buntutnya?’ ini adalah pertanyaan wajib kesekian setelah pertanyaan soal pekerjaan, sekarang tinggal di mana, dan teman-temannya itu di acara reuni. Sudah bisa saya bayangkan, betapa teman-teman saya mungkin akan juga mengajak anak-anak mereka, yang bisa jadi akan saling berteman sesama mereka seperti juga kami para orangtuanya. Bayangan itu berhasil membuat reuni terlihat begitu menakutkan bagi saya iya, lebay pisan emang 😛 hihihihi.

Lantas, apa yang membuat saya berubah pikiran dan akhirnya datang ke acara reuni di sekolah tersebut?

Seorang teman di group chat mengatakan kalimat (kurang lebih) begini beberapa hari sebelum hari H:

“Nanti yg bawa mobil diparkir di mall aja ya, biar yg dateng jalan kaki/ngangkot nggak minder”

Spontan, saya langsung bertanya “Kenapa harus minder segala?”

Maksud saya, toh acara reuni sudah seharusnya bukan ajang pamer siapa yang berhasil punya mobil paling mahal. Mungkin memang sudah ada yang sukses menjadi pejabat atau konglomerat, memiliki perusahaan sendiri atau bahkan punya kapal pesiar. Tapi bukankah semuanya itu hanya titipan belaka? Yang jika Tuhan berkehendak seluruhnya akan diambilNya kembali tanpa bisa kita cegah? Ya udah sih, esensi reuni kan mengenang kegilaan masa lalu saat kami adalah sekumpulan remaja belaka yang tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Dan ya, pertanyaan saya sendiri itulah yang akhirnya mengubah keputusan saya dan akhirnya datang untuk bertemu teman-teman yang sebagian besar saya temui 17 tahun yang lalu! Pertanyaan soal buntut itu memang bertubi-tubi datang, tapi ketika saya menjawabnya dengan kalimat semacam “belum dikasih euy”, sebagai balasannya saya mendapat banyak sekali doa dari si penanya. Alhamdulillah, dan Aamiin ya robbal’alamiin untuk semua doa-doa baik tersebut :).

Terbukti sudah, ketakutan saya tidak beralasan sama sekali. Saya justru sangat senang bisa bertemu teman-teman meski banyak sekali yang tidak bisa datang. Apalagi saat teman-teman mengatakan saya nyaris tidak berubah, wajah saya masih sangat mirip dengan saat SMU dulu, sehingga bisa langsung dikenali. Ehem, awet muda berarti eikeh Cyiiin bhuahahahaha abaikan.

Bonus nih, foto saya bareng pak suami yang didaulat jadi fotografer cabutan di acara reunian kemarin hihihihi.

#Repost @rahmanapriyanto with @repostapp ・・・ Reuni SMA si cinta

A post shared by Rinrin Indrianie (@neng_orin) on

Masih banyak cerita random lain sih, tapi nanti lagi lah ya, biar saya ada bahan ngeblog hihihihi.

Ya sudah begitu dulu manteman, have a great day ;).

8 Comments

  1. kang nur

    Lama ga mampir ke blognya mbak orin

    Reply
  2. ayanapunya

    kalau saya kadang malas ikut reuni karena waktu sekolah dulu nggak terlalu banyak teman. takutnya pas yang lain pada rame saya malah bengong sendirian. heu

    Reply
  3. Kang Nurul Iman

    Memang semangat ya mbak kalau reuni ada orang yang dicintai sama seperti saya juga senang sekali reuni apabila ada orang yang disayangi karena tambah semangat juga untuk datangnya.

    Reply
  4. anneadzkia

    Aku hanya excited datang ke reuni kuliah aja. Reuni SMP SMA rada males, kecuali kalo sama temen2 deket aja.
    Oriiin awet muda? Ehm..rahasianya dooong *ditimpuknovel

    Reply
  5. Arman

    Ikut berduka cita buat melati… Kasian banget kalo bener bener karena stress ya…

    Hehe Iya kalo bilang blm dapet momongan kan enak malah banyak yg doain… Reuni pasti selalu seru ya…

    Reply
  6. denaldd

    Ikut berduka cita ya Orin untuk saudaramu. Sudah ga seharusnya lagi ya namanya pemaksaan atas kepentingan diri sendiri. Sedih baca tentang Melati, kalau memang benar dia meninggal karena tekanan batin. Aku sampai sekarang pun termasuk yg malas datang ke acara Reunian besar gitu. Meskipun dulu punya kerja yg lumayanlah bisa dibanggakan, tapi tetep aja ga terlalu berselera ikutan reuni, karena beberapa kali coba ikutan, isinya jor joran cerita keberhasilan masing2. Bagus sih sebenarnya, jadi tau perkembangan masing2. Tapi ujung2nya jadi pamer2an harta juga.

    Reply
  7. liandamarta.com

    Turut berduka cita ya teh untuk saudaranya teh orin.
    Btw, cerita random nomer 2 itu mulai aku rasakan sekarang hahaha. Suka males ketemu teman lama atau saudara karena males ditanyain momongan. Tapi lama-lama aku jadi mikir, kalo udah jawab pertanyaannya kan biasanya memang banyak yang ngedoain ya. Jadi ya udah, sekarang aku anggap yang nanya itu ya yang mau doain. Semakin banyak ditanya-tanya, semakin banyak yang doain juga berarti hehehe. 🙂

    Reply
  8. adelinatampubolon

    ikut berduka cita yach mbak orin buat temannya.

    kalau mengenai reunian entah kenapa aku orang yang paling semangat ke acara reunian. padahal dari segi status pernikahan dan pekerjaan kayaknya nga ada yang dibanggakan wkwkwkwk.. dan sering sekali aku berangkat ke acara reunian dengan pakaian/jeans belel dan sendal biasa. dan sejauh ini tanggapan teman-teman yach biasa aja sich. mungkin karena dulunya aku merasa kehilangan masa-masa indah di bangku sma dan banyak lupanya. yang ada makin kesini keinginan untuk mengenal mereka jadi semakin tinggi.

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: