Rindrianie's Blog

Reading Challenge : The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared

Iya, temans, judul novelnya memang sepanjang itu! Kalau dibahasa-Indonesiakan akan lebih panjang: Lelaki berusia 100 tahun yang memanjat keluar jendela dan menghilang. Eh, sebelas dua belaslah ya panjangnya hihihi abaikan.

Tapi justru karena itulah -menurut saya- novel ini sangat menarik. Saking menariknya, saya merasa harus ‘mengabadikan’ kesan saya terhadap Allan Emmanuel Karlsson dalam novel kolaborasi saya Yesterday in Bandung itu. Nah, jadi ketahuan deh ya saya menulis tokoh siapa di sana hihihihi.

DSC_0012

Baiklah, karena ini reading challenge (yang pertama yang saya ikuti di MFF hihihihi peace), mari langsung saja kita jawab pertanyaan dari Jeng Vanda berikut:

Kesan yang kamu harapkan saat ingin membaca buku

Saya lupa siapa yang pertama kali merekomendasikan novel ini. Kalau tidak salah, seorang teman sempat bilang filmnya bagus. Saya bukan orang yang senang membandingkan buku dengan filmnya sih (karena medianya pun beda, yes, nggak usahlah diperbandingkan segala :P), tapi di pikiran saya sebuah film yang dibuat berdasarkan suatu buku, pasti bukunya bagus! Dan ya, tentu saja, saya memang tertarik dengan judulnya yang sepanjang jalan kenangan itu.

Saya tidak berharap muluk-muluk sih, karena saya belum pernah membaca karya Jonas Jonasson sebelumnya, jadi ekspektasi saya biasa saja. Meskipun membaca blurb di belakang buku, sebelum membaca saya memang sudah excited duluan, gimanalah pula itu aki-aki kabur dari Rumah Lansia segala kan ya?

Allan Karllson hanya punya waktu satu jam sebelum pesta ulang tahunnya yang keseratus dimulai. Wali Kota akan hadir. Pers akan meliput. Seluruh penghuni Rumah Lansia juga ikut merayakannya. Namun ternyata, justru yang berulang-tahunlah yang tidak berniat datang ke pesta itu.

Melompat lewat jendela kamarnya, Allan memutuskan untuk kabur. Dimulailah sebuah perjalanan luar biasa yang penuh dengan kegilaan. Siapa sangka, petualangannya itu menjadi pintu yang akan mengungkap kehidupan Allan sebelumnya. Sebuah kehidupan di mana -tanpa terduga- Allan memainkan peran kunci di balik berbagai peristiwa penting pada abad kedua puluh. Membantu menciptakan bom atom, berteman dengan Presiden Amerika dan tiran Rusia, bahkan membuat pemimpin komunis Tiongkok berutang budi padanya! Siapa, sih, Allan sebenarnya?

Tuh, blurb-nya saja sudah begitu, gimana nggak bikin penasaran kan?

Kesan yang kamu dapat setelah membaca buku itu

Sukaaaaaa. Kalau boleh sih saya kepengen  jatuh cinta sama si Allan Karlsson mulai absurd hihihihi. Novel ini seperti ‘pembelokkan sejarah’ sih, maksudnya, si penulis memasukkan si tokoh ke dalam peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah dunia yang sudah kita ketahui bersama, misalnya: bom atom yang meledakkan Hiroshima-Nagasaki. Dalam novel ini, si kakek (yang tentunya pada saat itu masih muda) inilah yang konon menciptakannya heuheu.

Jadi, selain menghibur, membaca novel ini juga seperti sedang membaca ensiklopedia dengan banyak informasi dan ilmu, walaupun yaaa tidak bisa sepenuhnya dipercaya lah ya, nama pun fiksi :P.

Intisari dari buku itu apa aja, sih. No spoiler, yaa…

Petualangan gila seorang Allan Karlsson di 100 tahun hidupnya. Mungkin jika dirangkum ke dalam satu kalimat, begitulah intisari novel ini :D.

Tokoh-tokoh yang ditonjolkan dari buku tersebut. Siapa saja, dan menurut kamu, karakter mereka bagaimana

Banyaaaak, saking banyaknya tidak mungkin saya sebutkan satu per satu halah. Julius Jonsson menjadi tokoh penting karena menjadi semacam partner in crime Allan sejak awal cerita. Ada juga Inspektur Kepala Aronsson yang mencari-cari Allan untuk dikembalikan ke rumah lansia. Dan tentu saja Per-Gunnar Gerdin alias Si Bos, pemimpin geng yang berkepentingan pada koper berisi banyak uang yang telah dengan ceroboh ‘dititipkan’ salah satu anak buahnya pada Allan.

Karakter Allan sendiri sangatlah menggemaskan, semacam bikin kita kepengen jitak gitulah hahahaha. Santai, konyol, tapi ya persisten dan berani. Karakter tokoh lain beragam, persis lah dengan manusia-manusia yang sering kita ketemui di keseharian apasih.

Maksud saya nih, ini bukan novel cecintaan yang berkutat pada 2-3 tokoh utama di hampir keseluruhan cerita. Tokoh sampiran sekecil apa pun, memiliki peran penting dalam kehidupan Allan di novel ini.

Bagaimana alur ceritanya? Maju, mundur, atau maju mundur?

Maju mundur. Berawal dari hari Senin, 2 Mei 2005, yaitu perginya Allan dari rumah lansia, terus maju hingga dia bertemu orang-orang yang akan menjadi teman seperjalanan, tapi di antara itu diselipi flashback ke tahun-tahun saat Allan muda.

Kamu greget nggak sama endingnya? Apa sesuai dengan harapanmu?

Selayaknya sebuah novel perjalanan (dan bahkan bisa dibilang novel biografi Allan Karlsson), ya memang begitulah ending novel ini seharusnya. Bagi saya sih sangat memuaskan, walaupun bikin gemes karena bawa-bawa Presiden Yudhoyono segala lho hahahaha. Edun pisan!

Apa manfaat yang kamu peroleh setelah membaca buku tersebut?

Bahwa melakukan keputusan yang sudah kita ambil memang tidak selalu mudah. Allan Karlsson mengajari saya (dengan semua kegilaan-kenekatan-kejahilan-keberaniannya), untuk tidak terlalu lama mempertimbangkan sesuatu. Hajar bleh aja dulu, toh satu-satunya ‘kesalahan’ dari sebuah keputusan adalah ketika keputusan itu belum diputuskan, iya kan? *absurd *abaikan!

Kalau kamu ditakdirkan ketemu langsung sama penulisnya, apa yang ingin kamu sampaikan padanya, berkaitan dengan bukunya yang telah kamu baca

Di dua halaman terakhir novel ini, dituliskan ‘Wawancara dengan penulis’, dan hampir semua pertanyaannya sangat mewakili yang ingin saya tanyakan pada Jonas Jonasson sang penulis.

Yang belum ditanyakan adalah berapa lama penulis menuliskan kisah si Allan Karlsson itu, mungkin kalau saya bertemu dengan Jonas Jonasson, itulah yang akan saya tanyakan :).

Dan, tentu saja, saya mau berterima kasih, karena telah menciptakan karakter si tua Allan yang benar-benar sialan itu hahahaha. Jonas Jonasson ini jurnalis, by the way, jadi ya memang tidak heran sih ya kalau banyak kisah dalam novel ini terasa begitu akurat.

Berapa ratingmu untuk bukunya?

4.5! Pengen ngasih 5 bintang sih, tapi karena yang saya baca adalah yang sudah diterjemahkan, kayaknya nggak afdol hehehehe. Maksud saya, walau bagaimana pun, sebuah karya yang dinikmati dalam bahasa aslinya pasti akan jauh lebih menyenangkan 🙂 (tapi ya nggak mungkin juga sih saya baca yang berbahasa Swedia, even in my dream. LOL). Yang jelas, novel ini menjadi salah satu novel favorit saya.

Gih, pada baca, cuma 508 halaman kok :D. Dijamin nggak nyesel hehehehe.

9 Comments

  1. Sary Melati | @saryahd

    Aku udah bacaaa hahahaha. Emang edun ini aki-aki hahaha. Dulu penasaran beli bukunya karena judulnya yang panjang. Ternyata emang ceritanya juga panjang yaa..

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Iyaaaa, panjang beud, tapi seru ya MakTe 😀

      Reply
  2. bebe'

    Aku nyoba baca pake bahasa aslinya.. Pusing Rin ??. Malah belum nyoba baca yang versi Indonesia. Coba cari filmnya aja Rin kalau mau menikmati pakai bahasa Swedia. ?

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Waduh, ad terjemahannya ga Be filmnya? Hahahaha *ngumpet*

      Reply
  3. Bang Ical

    Asik itu novelnya, beberapa pekan lalu sudah kubaca 😀

    Reply
  4. adelinatampubolon

    perihal baca membaca kayaknya aku harus belajar dari kalian ini. mulai masukin judul ke daftar buku belanjaan, hehehehe..

    Reply
  5. akhmad muhaimin azzet

    Saya termasuk orang yang suka dengan novel perjalanan. Selalu menemukan pengalaman sekaligus semangat hidup yang baru 🙂

    Reply
  6. efi

    Sejak baca kopeannya (deuh kopean) di novel Yessterday in Bandung udah penasaran sama novel ini. Suka deh sama novel model gini. Pinjem dong Oyin bukunya hhihi tapi kejauhan ya kita. Ya udah, masuk wishlist aja kalo gitu 😀

    Reply
  7. Anne Adzkia

    Yes, aku masukin whistlist *menatap buku2 di rak banyak yg belum dibaca*

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: