Rindrianie's Blog

Respect yourself!

Tulisan berikut saya tulis 23 Juni setahun lalu.

Lantas, saat seorang sahabat curhat pada saya beberapa waktu yang lalu , yang intinya adalah beliau menyadari bahwa ternyata yang menjadi kendala keberhasilan hidup beliau adalah karena kurangnya beliau menghormati diri-nya sendiri, saya pun teringat dengan tulisan ini.

Berikutnya saya katakan pada sahabat saya ini, bahwa beliau bukanlah satu-satunya yang merasa demikian. Setidaknya, setahun yang lalu pun saya mengalami hal yang kurang lebih sama, yaitu kurang (atau tidak?) menghormati diri sendiri.

Berikut tulisan tersebut,

Semoga tulisan saya ini menjumpai Sahabat yang sedang memuliakan kehidupan.

Sahabat yang berbahagia, bukankah perintah Beliau Yang Mulia pada kita adalah untuk membaca?  Tentunya tidak hanya membaca kitab suci, berpuluh buku, berlembar surat kabar, atau sejuta kata, tetapi juga ‘membaca’ ayat-ayat Beliau -yang menunggu kita temukan- dalam keseharian hidup kita. Dan apakah kita sudah mengikhlaskan diri untuk mencarinya?

Dan membaca nasihat indah dari seorang Pak Mario Teguh berikut,

Berlakulah kepada diri sendiri

seperti Anda berlaku kepada seseorang yang sangat terhormat.

Karena,

Cara Anda memperlakukan diri Anda, adalah pemberitahuan kepada orang lain

mengenai bagaimana mereka harus memperlakukan Anda.

membawa saya pada keinginan untuk mencoba ‘membaca’ makna di dalamnya.

Lantas, sebuah cuplikan peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu perlahan namun pasti bersedia singgah di benak saya.

Peristiwa itu adalah ‘curhat’ saya terhadap atasan saat evaluasi di kantor kami berlangsung. Entah apa yang beliau tanyakan pada saya saat itu, yang saya ingat adalah saya katakan pada beliau bahwa saya merasa begitu tidak penting. Saya katakan padanya bahwa pekerjaan-pekerjaan yang merupakan tanggung jawab saya adalah sesuatu yang biasa dan bisa orang lain lakukan dengan mudah. Sehingga hal tersebut membuat saya merasa, kehadiran saya tidak lah berpengaruh banyak terhadap kelangsungan hidup perusahaan kami ini, keberadaan maupun ketidakhadiran saya disana tidaklah akan berdampak apapun.

Reaksi dan respon atasan saya ini-lah yang telah ‘membangunkan’ saya dari mimpi buruk yang saya ciptakan sendiri tersebut.. Beliau berkata “how could you not respect yourself like that?”, yang diucapkannya perlahan namun tegas. “Bukankah seorang penyapu jalanan pun berhak menggerakkan sapu lidinya bak pelukis agung menyapukan kuasnya ke atas kanvas?” lanjutnya lagi, yang semakin membuat saya terdiam membenarkan.

Sahabat yang budiman dimanapun Anda berada,

Teguran atasan saya yang tergenapkan dengan nasehat Pak Mario Teguh diatas, telah membantu proses ‘membaca’ saya. Bahwa seringkali -sadar ataupun tidak- saya telah kurang menghormati diri saya sendiri. Lantas apakah masih pantas jika saya mengeluhkan kehidupan yang tidak bersikap ramah pada saya, dengan sikap saya yang masih seperti demikian pada diri saya sendiri? Bagaimana mungkin saya berharap diperlakukan sebagai ’emas’ jika saya tidak mampu menghargai ‘kemilau’ yang saya miliki?

Keberhasilan berpihak kepada yang berupaya,

Upaya yang baik adalah pengubah nasib,

Keajaiban berpihak kepada yang berani,

Semoga proses ‘membaca’ saya yang sederhana ini, merupakan upaya baik yang akan menuntun saya pada keberhasilan untuk mengubah nasib.

Semoga saya akan selalu berani untuk berkata pada diri saya sendiri “respect yourself !” dengan tegas sehingga keajaiban akan berpihak pada saya.

Semoga, tulisan sederhana saya ini bisa menjadi teman Sahabat semua dalam perjalanan kita di jalan-jalan kebaikanNYA.

***

Saya katakan pada sahabat saya itu (kepada saya sendiri juga sebetulnya he he), terkadang kita memang merasa diri kita ini kecil dibandingkan orang lain, si A jauh lebih pintar dari kita, si B lebih cantik dari kita, si C lebih beruntung dari kita, dan pernyataan sejenis yang intinya adalah menjadikan diri sendiri sebagai korban, sebagai yang kurang beruntung, sebagai inferior yang selalu di’bawah’ orang lain. Tetapi, bukankah setiap dari diri kita adalah individu spesial yang unik?

Sehingga, tidak perlu lagi ‘perbandingan-perbandingan’ seperti : saya lebih begini daripada si anu, atau si anu lebih begitu daripada saya. Karena saya -dan sahabat semua- adalah pribadi yang sangat patut dihormati tanpa label apapun, pantas dihormati sebagai individu tanpa atribut apapun, dan sangat layak dihormati sebagai ‘aku’ yang terhormat tanpa embel-embel apapun. Dan yang terpenting, kitalah yang harus terlebih dulu menghormati diri kita sendiri itu.

Foto di atas itu, sempat membuat saya ‘malu hati’. Saya menjumpainya saat berkunjung ke Kawah Putih-Ciwidey. Sang Bapak yang bertubuh (maaf) cebol, berjalan dengan -walau sedikit kesulitan- semangat menenteng kecapi yang panjangnya hampir sama dengan badan beliau, menuju ‘panggung pertunjukkan’nya itu. Dengan penghormatan yang tinggi pada dirinya sendiri -bahwa beliau adalah individu kesayangan Beliau Yang Maha Pengasih- beliau memetik kecapi yang dibawanya itu dengan penuh hikmat seorang seniman kecapi sejati. What a wonderful life!

0 Comments

  1. Mujahidah

    Makaciih mba Orin *.*
    Pokoknya GREAT lah, hehehe. Mantapp deh tulisannya ^_*
    Menghormati diri sendiri, krn dengan begitu sesungguhnya kita menghormati Tuhan yang menciptakan kita.
    Mulai saat ini siti akan menghormati diri siti sendiri ^^
    Ditunggu tulisan terbarunya mba Orin 😀

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Sama-sama ya Siti *.* Senang sekali tulisan orin bermanfaat untuk Siti. Keep rockin’ girl !! he he

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: