Rindrianie's Blog

[Review] Bidadari yang Mengembara

Baiklah, setelah sekian abad, akhirnya saya menulis (semacam) review buku lagi he he.

Sebetulnya banyak sih ya buku yang menarik bagi saya dan -seharusnya- dituliskan reviewnya, tapi ya begitulah ya, sok sibuk teaaa :P. Tapi mudah-mudahan sih bisa menulis review (yang sedikit serius) untuk novel Origin dan Aroma Karsa. Anggap saja postingan ini sebagai pemanasan *halah.

Seperti yang tertulis di caption postingan IG saya di atas, saya sangat menikmati membaca buku kumcer ini sehingga dengan sengaja saya tidak ingin segera menyelesaikannya. Hari ini persis saya tamat membaca ke-12 cerpen dalam buku tersebut. Kurang lebih satu Minggu hanya untuk buku setebal 160 halaman! hihihihi.

Ih prolognya kepanjangan ya, marilah kita mulai reviewnya.

***

Judul Buku: Bidadari yang Mengembara

Penulis: A.S. Laksana

Penerbit: GagasMedia

Tebal Buku: 160 halaman

No. ISBN: 979-780-699-5

Blurb

Beginilah awalnya….

Seorang perempuan mencari pahlawannya sambil mendendangkan kisah. Barangkali, kau pun pernah mendengar salah satu cerita itu karena dia adalah bidadari yang keluar dari kepala Scheherazade. Dia adalah bidadari yang mengembara merintih dengan iringan musik rebana sambil berkata lantang, “Aku mencarinya sebab akulah sempalan rusuknya dan ia menyebutku bidadari.”

Syahdan, seorang lelaki memetik kisah-kisah itu. Dan, ini adalah cerita yang dirangkainya dari penggalan-penggalan omongan orang tentang Alit….

Mungkin jika hanya membaca blurbnya, tidak seberapa menarik ya, tapi siapa yang tidak mengenal nama A.S. Laksana yang cerpen-cerpennya sering sekali dimuat di Kompas?

ini dia ke-12 cerpen dalam buku ini:

  • Menggambar Ayah
  • Bidadari yang Mengembara
  • Seorang Ibu yang Menunggu atau Sangkuriang
  • Burung di Langit dan Sekaleng Lem
  • Seekor Ular di Dalam Kepala
  • Telepon dari Ibu
  • Buldoser
  • Seto Menjadi Kupu-kupu
  • Bangkai Anjing
  • Rumah Unggas
  • Peristiwa Pagi Hari
  • Cerita tentang Ibu yang Dikerat

Review

Sulit untuk mereview satu per satu cerpen, karena meskipun medianya memang pendek, tapi toh cerita yang dikisahkan sebuah cerpen bisa sangat panjang untuk diungkap, iya kan ya? *mbulet :D. Setidaknya bagi saya, setiap cerpen memiliki keistimewaannya sendiri.

Sebagian besar cerpen berkategori sureal, misalnya saja di cerpen Seekor Ular di Dalam Kepala (karena tidak mungkin seekor ular melingkarkan diri didalam kepala seorang perempuan bernama Lin, bukan?), atau Seto Menjadi Kupu-kupu (rasanya tidak mungkin seorang remaja yang sedang jatuh cinta bermetamorfosis menjadi kupu-kupu di kamarnya).

Tokoh ‘Alit’ muncul di beberapa cerpen, meskipun saya ragu apakah ini Alit yang sama atau sekadar nama belaka (saya jadi ingin membaca ulang keseluruhan cerpen dengan tokoh Alit di dalamnya). Dan saya menyukai cara A.S. Laksana menjadi narator yang seringkali tersembunyi dalam setiap tokoh ‘aku’ dalam beberapa cerpen.

Diksi dalam setiap cerpen, meskipun sederhana saja (tidak berbunga-bunga atau puitis atau apalah apalah), sangat memikat. Bahkan dialog-dialog pendek antar tokoh sangat menarik.

“Kau pernah bertemu dengan orang itu, Bunda?” tanya Alit pada ibunya.

“Ia mati sudah lama,” kata ibunya. “Dulu kakekmu pernah bertemu dengannya, tapi ia pun sudah mati juga.”

“Mantra apa yang diucapkannya?”

“Nanti kutanyakan.”

“Katamu ia sudah mati.”

“Kalau aku mati, aku akan berjumpa dengannya. Aku merasa malam ini aku akan mati, jadi malam ini juga akan kutanyakan padanya tentang mantra-mantra.”

“Kau tidak boleh mati.”

“Aku hanya bilang, aku merasa akan mati.”

“Kau tidak boleh bilang seperti itu. Kalau kau mati betul, aku tak mau bicara lagi denganmu.”

“Baiklah, aku tak akan bilang apa-apa lagi.”

Ibunya tidak bilang apa-apa lagi setelah itu dan ia memang mati malam itu. …

Cerita tentang Ibu yang Dikerat, halaman 140-141

Kalau teman-teman sedang mencari bacaan yang ringan tapi tetap membuatmu berpikir seusai membaca, buku kumcer Bidadari yang Mengembara ini bisa jadi salah satu pilihan. Cukup tipis untuk dibawa-bawa.

Pssst, lagi baca buku apa kah?

 

 

4 Comments

  1. adelinatampubolon

    Beli buku Origin karena postingan dirimu di IG. Entah kenapa semangat baca buku sekarang koq berkurang bangat yach hikkkkkssss….

    Reply
  2. ardanita

    itu beli bukunya dimana kak ?
    jadi pengen beli , soalnya bikin penasaran

    Reply
    1. Orin (Post author)

      kemarin aku beli di Gramedia tapi bagian diskon2 gitu mbak, karena bukunya memang sudah lama, jadi tidak lg dipajang di rak. di tokbuk online mungkin masih ada, met hunting ya 🙂

      Reply
      1. Abu Alifa

        Selain gramedia mungkin ada lapak atau toko rekomendasi untuk beli ga Mba?

        Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: