Rindrianie's Blog

Review: Pendekar Tongkat Emas

Sejauh ini saya selalu menyukai film-film produksi Mira Lesmana dan Riri Riza. Salah satunya -dan yang sekarang sedang menjadi trending topic– adalah film Pendekar Tongkat Emas (untuk selanjutnya kita sebut saja PTE yah) yang masih tayang di bioskop-bioskop di Indonesia. Belum terbayang filmnya seperti apa? Sila lihat trailernya berikut.

Sudah nonton, Rin? Sudah dwong *pamer*, dan sejujurnya saya kepengen nonton lagi. Awalnya mau ke Metropolitan Mal, tapi hari Minggu kemarin itu dari pagi sudah riweuh ini itu, ada insiden dompet saya ketinggalan di toko buku pula, jadi yasud, nontonnya di Grand Mal ajah yang terdekat dari rumah hihihihi.

PTE

Oke, jadi filmnya gimana? Mari saya ceritakan (semacam) reviewnya temans.

Alkisah, tersebutlah guru Cempaka (Christine Hakim), yang mempunyai empat murid yaitu Biru (Reza Rahardian), Gerhana (Tara Basro), Dara (Eva Celia), dan Angin (Aria Kusumah). Sang Guru sudah merasa ajalnya kian mendekat, maka di sebuah malam beliau bertitah, bahwa tongkat emas beserta jurus pamungkas Tongkat Emas Melingkar Bumi akan segera diwariskan kepada salah satu muridnya. Nah, keputusan Cempaka mewariskan si tongkat emas inilah yang menjadi sumber konflik di sepanjang film.

Nicholas Saputra? Tenaaaang, dia muncul setelah film sudah berlangsung selama…20 menit lah kira-kira. Dia jadi Elang, yang adalah…sila tonton saja sendiri filmnya kalau mau tahu lebih lanjut hihihihi. Di film ini ada juga Slamet Rahardjo, Prisia Nasution, Darius Shinatria, bahkan Landung Simatupang. Pantas sajalah ya sampai menghabiskan 25M, lha wong cast-nya bagus-bagus begitu kan ya :).

Seperti lazimnya cerita di dunia persilatan, PTE penuh dengan balas dendam, pengkhianatan, kebaikan melawan kejahatan, rasa bersalah yang menjelma pengabdian, cinta terpendam diam-diam, dan sebagainya dan seterusnya. Tapi -menurut saya- tidak klise dan dalam proporsi yang manusiawi, dalam arti, si tokoh protagonis bukanlah jagoan yang seperti tak bisa mati misalnya, dan somehow penonton diajak memaklumi ‘kejahatan’ para tokoh antagonis, bahkan si pendekar yang sudah sangat berjasa mengambil kembali si tongkat emas pun tetap harus melaksanakan ‘hukuman’ karena sudah melanggar sumpah.

Salah satu penulis skenarionya ternyata Seno Gumira Ajidarma, penulis favorit sayaaaaaa. Pantas saja di sepanjang film dialog dan narasi bertebaran berbagai kalimat bijak bernada puitis yang penuh filosofi, misalnya saja “Sanggupkah kalian menahan diri untuk tidak menjadi pemenang?” yang masih nempel di kepala saya hingga sekarang. Dan ya, seluruh dialog dan narasi dalam PTE ini menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sodara-sodara! *menjura*.

Selain jalan cerita dan karakter tiap tokoh yang maksimal (Ampun deh itu si Gerhana, tatapan matanya beneran bikin merinding, culas sekaligus licik, literally kepengen nabok hahahaha :P), satu hal lagi yang membuat film ini begitu memukau. Settingnya yang terlampau indah untuk dijelaskan dengan kata-kata. Serius lho, ini bukan lebay! Ternyata Indonesia memiliki Sumba yang begitu memesona. Duh…sepertinya Tuhan menciptakannya sebagai simulasi firdaus deh, savana kekuningan, lembah hijau, pasir putih, air sungai yang jerniiiiiiih banget, ah pokonya mah teramat sangat bagus sekali. Semoga saya bisa menjejakkan kaki di sana suatu saat nanti. Aamiin *mohon di-Amin-kan juga ya teman-teman hehehe*. Sinematografi PTE ini juara banget, menonjolkan keindahan Sumba tanpa mengeksploitasi dan tidak mencuri perhatian penonton terhadap plot film.

Jika saya harus menuliskan satu kekecewaan dari film ini, mungkin adalah penyematan kategori ‘film laga’ yang menempel padanya. Kenapa? Karena porsinya masih terlampau sedikit, mungkin hanya seperempat bagian dari ke seluruhan film. Mengerti sih, para pemainnya -meskipun belajar selama lebih 7 bulan- tidak memiliki kemampuan bela diri sebelumnya, sepertinya kasihan juga kalau harus bertarung di banyak scene yaa. Meskipun pertarungan dalam film ini menurut saya terlihat cukup bagus, tidak pakai tepung soalnya *ups* hahaha, dan tidak ada darah yang muncrat berlebihan dari mulut cuma gara-gara kena tendang :P.

Kekecewaan lain (eh…jadi dua atuh ya :P), adalah jenis bela dirinya. Menurut saya, bela diri dalam film PTE bukan silat asli Indonesia, gerakan-gerakannya lebih kepada gerakan wushu, apalagi dengan senjata andalan tongkat ya, mengingatkan saya akan Master Shifu di Kung Fu Panda hehehe. Mungkin ini terkait erat dengan Xiong Xin Xin sang penata laga yang langsung datang dari China dan merupakan stuntman Jet Li ya :). Rasanya, hanya gerakan-gerakan silat di akhir film dari anak Biru dan Gerhana saja yang asli silat Indonesia, CMIIW.

Tapi secara keseluruhan, saya sangat menyukai film ini. Memang tidak sekolosal film Saur Sepuh atau Tutur Tinular zaman dulu itu ya, tapi saya sungguh mengapresiasi semua individu yang terlibat PTE, kerja keras dan komitennya sangat terlihat, sudah menjadikan film keren ini sangat layak tonton dan membanggakan.

Nah, tunggu apa lagi? Mumpung libur, nonton PTE gih!

0 Comments

  1. dani

    Rencananya nanti malam mau nonton. Semoga kejadian. 😀

    Reply
    1. joeyz14

      Buruan dan, takut keburu abis. Di bioskop deket rumah bagi 2 ama film supernova… ga diminati…heran ya..giliran film setan2 ditonton

      Reply
  2. joeyz14

    Aku dah nonton rin..dan sama pengen nonton lagi rasanya. Twistnya dikasih di awal film ya…bagus ini. Beneran terpuaskan *krna liat Reza dan Nicsap juga seh* hahahaa..

    Evanya juga bagus tapi kurang greget ya.

    Reply
  3. nengwie

    aahh kapan bisa nontonnya..:(

    Reply
  4. yantist

    masih galau antara nonton film ini atau merry riana… heuheu…

    Reply
  5. bemzkyyeye

    Bsk gw mau ntn, smoga msh ada dkt rmh eike hihihi

    Reply
  6. bintangtimur

    Wah, keren nih ada resensinya…jadi kebayang gimana film yang lagi jadi bahan pembicaraan banya orang ini…
    *lumayan Rin, saya nggak bakalan terlalu kuper, tengkyu ya!

    Reply
  7. jampang

    belum 😀

    Reply
  8. nyonyasepatu

    Hua koq bny yg bilang bagus ya, jadi penasaran

    Reply
  9. Lidya

    Nitip pascal alvin ya boleh gak 🙂 mudah-mudahn bisa nonton juga

    Reply
  10. bukanbocahbiasa

    Tuh kaaaan… jadi pengin nonton deh.
    Ya ampun, quote Seno Gumira “Sanggupkah kalian menahan diri untuk tidak menjadi pemenang?” sungguh ther-la-luuuu indahnyaaa ya mak 🙂

    Yang traveling ke Sumba, aku amin-kaaan 🙂

    Reply
  11. belalang cerewet

    Kolosalnya kurang tergarap, dan setuju banget, laganya masih kurang. Plus bela dirinya jadi ga jelas ya Rin. sayang di akhir adegan antara Elang dan Dara kok mirip film Amrik, hehe. Langsung kututup mata anakku 😉

    Panorama top banget!

    Reply
  12. abi_gilang

    Ah Orin nih bisa banget kalo ngomporin buat nonton film. Jadi korban provokasi nih Akang padahal kmrn baru liat “Assalamu’alaikum Beijing”. Mudah2an bisa kesampaian nonton PTE ini 🙂

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: