Rindrianie's Blog

Room

Catatan: Bukan review film, hanya ‘sesuatu’ yang saya dapatkan setelah menonton film ini.

Postingan telat edisi berikutnya. Bahwa setelah setahun lebih, saya baru nonton film Room di TV beberapa malam yang lalu hihihi. Saking bagusnya, saya ulang nonton lagi siang tadi, hingga akhirnya saya merasa harus menuliskan sesuatu di sini. Kalau teman-teman pemerhati Oscar, tentunya sudah tahu kalau Brie Larson, sang tokoh utama di film ini, memenangkan The Best Actress.

Barangkali ada yang belum tahu, tonton deh trailernya.

Kisah ini tentang seorang gadis bernama Joy Newsome yang diculik (dan kemudian disekap) oleh Old Nick selama 7 tahun. Joy dan Jack tinggal di gudang sempit dengan pintu yang hanya bisa dibuka oleh kunci kombinasi. Siapa Jack? Yup, seperti sudah bisa diduga, Jack adalah anak dari si penculik yang telah memaksa Joy memuaskan nafsunya setiap beberapa hari si Old Nick ini datang.

Awal film didominasi oleh bagaimana Jack dan Ma (Joy) menghabiskan waktu di room. Bagaimana kemudian Ma mencoba menjelaskan pada Jack, bahwa dunia yang sebenarnya ada di luar sana, dan Jack akan membantu Ma untuk bisa kembali pada kehidupan yang sebenarnya.

Scene yang sangat sulit dilupakan adalah saat Jack pura-pura mati, terbungkus karpet dan berada di belakang pick up merah Old Nick, saat akhirnya dia membebaskan diri, lantas terpana melihat langit yang maha luas, bukan hanya sebentuk kotak kecil yang biasa dia lihat di gudang tempatnya berada selama 5 tahun kehidupannya. Si karpet yang membungkusnya seperti menjelma second womb  bagi Jack, dan membuatnya ‘terlahir kembali’ di dunia yang seharusnya.

Singkat cerita, Jack dan Ma bisa kembali ke rumah orang tua Ma. Meskipun ternyata orang tua Joy sudah bercerai, hanya Mama-nya Joy yang tinggal di sana bersama pasangan barunya Leo. Jack yang untuk pertama kalinya mengenal dunia nyata, sedikit demi sedikit bisa terbiasa. Tapi trauma Joy yang rupanya sulit hilang.

Berita kembalinya gadis yang telah hilang selama 7 tahun tentu saja menarik perhatian media. Joy dan keluarga akhirnya bersedia diwawancarai oleh sebuah TV, rekaman dilakukan di rumah Joy. Pertanyaan sang pembawa acara pada Joy, kenapa dia tidak menyerahkan Jack ke rumah sakit atau dinas sosial agar Jack bisa hidup normal seperti anak-anak lainnya, telah membuat Joy terpuruk. Dia merasa tidak menjadi ibu yang baik untuk Jack, lantas mencoba bunuh diri.

Ma : “I am not a good Ma, Jack.”

Jack : “But you are Ma.”

Akhirnya Joy memang kembali ke rumah bersama Jack setelah beberapa saat harus memulihkan diri di rumah sakit. Dan di sinilah pelajaran yang saya ambil.

Saat masih di room, Joy sering sekali menatap atap kaca yang cuma seuprit itu dan menangis diam-diam. Tapi dia selalu tegar, tidak berhenti berharap untuk bisa keluar, dia punya TUJUAN. Tapi saat harapannya itu akhirnya bisa benar-benar mewujud, Joy mungkin kecewa karena harapannya selama ini tidaklah sesuai bayangannya semula. Misalnya saja, orangtuanya bercerai, Ayahnya tak bisa menerima Jack karena mengingatkannya pada si penculik, atau pertanyaan dalam talk show yang membuatnya berpikir bahwa mungkin dia bukan ibu yang baik.

Entah ya, menonton film ini jujur saja membuat saya berpikir ulang tentang apa pun yang sedang saya harapkan saat ini. Di setiap harapan itu, kini saya menyertainya dengan banyak sekali ‘what if’ dan ‘bagaimana jika’ (eh, sama aja ya itu mah hahahaha :P). Saya tidak ingin seperti Joy yang sempat nekat ingin mengakhiri hidup semacam demikian ketika ternyata harapan saya itu kelak mewujud tapi ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Mengertilah ya maksudnya #apasih.

Duh, ini kenapa postingan di hari minggu serius begini sih, Rin? Ah sudahlah ya, daripada tambah ngelantur mari kita sudahi saja. Tapi bagi yang belum nonton, tonton deh, film ini bagus. Serius!

8 Comments

  1. anneadzkia

    Aku juga baru nonton kemarin dan amazed dgn cerita film ini. Keidean ya bikin novelnya. Keren.

    Reply
    1. Orin (Post author)

      iya mbak, selalu takjub sm novel yg bisa jd inspirasi film, mupeeeeng hihihihi

      Reply
  2. Arman

    kasian juga ya malah jadi stress setelah keluar ya…
    kayaknya bagus ya filmnya tapi depressing juga ya hehe

    Reply
    1. Orin (Post author)

      hihihihi…iya jg sih mas, agak2 bikin depressing 😀

      Reply
  3. Desi

    Duuh..aku ngebayangin Joy cuma di suatu ruangan selama 7 tahun itu kok ya jd merinding maak..
    Pengen sih nonton filmnya..tapi rada takut juga mau nonton..#plinplan 😀

    Reply
    1. Orin (Post author)

      ga nakutin kok Maaaak, bikin mewek sih iya #eh qiqiqiqi

      Reply
  4. zata ligouw

    eh, aku pun belum pernah nonton film ini mba Orin, jadi pengen nonton juga ahhh..

    Reply
    1. Orin (Post author)

      ayo ditonton mbak, baguuus filmnya 🙂

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: