Rindrianie's Blog

Rumah Hijau

Rumah orang tua saya di Majalengka memang bercat hijau, kursi, karpet dan gordennya juga berwarna hijau, Mamah saya sepertinya penyuka warna hijau garis keras hihihihi. Tapi di rumah masa kecil itu juga, banyak sekali pepohonan dan bebungaan, yang membuatnya bertambah hijau, dan bagi saya, ‘rumah hijau’ itu selalu ngangeninΒ :).

Di halaman depan, dulu ada pohon mangga dan pohon rambutan, selain banyak bunga-bunga yang tidak semua saya ketahui namanya. Di halaman belakang dulu ada pohon kelapa, pohon jambu bangkok, pohon jambu air berwarna kehijauan yang manis (di daerah saya kami menyebutnya jambu kaget :D), juga banyak pohon pisang, pepaya, singkong, sirsak, talas, bahkan pohon salak.

Tapi tentu saja tanaman (dan juga bunga) di halaman rumah kami berganti-ganti. Kondisi terakhir saat pulang Lebaran kemarin, di halaman depan cuma tersisa satu pohon mangga, di belakang rumah pun pohon yang cukup besar hanya satu buah pohon mangga dan pohon kelapa saja. Walaupun tetap saja, sebutan ‘rumah hijau’ masih sangat pantas ditempelkan di sana.

Pepohonan dan tanaman di rumah itu selaluΒ ngangenin buat saya. Saat kecil dulu, saya hobi sekali manjat si pohon mangga di depan rumah, iseng manggil-manggil abang penjual makanan tapi kemudian ngumpet di balik ranting dan daun tidak menampakkan diri. Di pohon jambu bangkok di halaman belakang, saya sering membawa buku untuk membaca saat bersantai di dahannya, asyik banget deh ditemani angin sepoi-sepoi, asalkan jangan sampai tertidur karena ngeri lah ya kalau sampai jatuh :P.

Entah SD kelas berapa, saya sering menonton Bapak saya men-stek (maafkan kalau salah istilahnya) pohon mangga atau rambutan atau jambu. Bahkan sesekali saya dipercaya memotong atau membantu menaruh tanah di kantung plastik saat si batang hasil stek sudah cukup umur. Karenanya, saya sempat bercita-cita jadi Insinyur Pertanian, walaupun di kemudian hari keinginan tersebut gugur dengan sendirinya karena ketakutan saya pada cacing hehehe.

Bapak dan Mamah saya memang cukup ‘bertangan dingin’ dalam merawat tanaman, ditambah halaman rumah yang cukup luas, jadilah rumah sederhana itu lebih semarak. Di halaman depan sekarang ada pohon jeruk nipis, yang walaupun kecil, berbuah lebat, hingga tetangga kanan kiri yang membutuhkan tidak perlu ke pasar atau membeli jeruk nipis di tukang sayur. Walaupun tidak terlalu banyak, di halaman belakang juga tumbuh pohon tomat, cabe rawit, kemangi, hingga daun bawang, sangat menyenangkan bukan? πŸ™‚

Di rumah imut kami di Bekasi, tidak ada halaman luas untuk bercocok tanam, selamat tinggal lah ya, tidak mungkin saya memiliki pohon besar seperti mangga atau jambu. Walaupun tentu saja sebenarnya itu tidak bisa dijadikan alasan, karena masih ada ruang-ruang kosong yang bisa saya akali dengan menanam di pot. Maka dalihnya adalah keterbatasan waktu untuk melakukannya (baca : niatnya kurang banyak hihihihi).

Tapi bercermin pada rumah hijau orang tua yang selaluΒ ngangenin itu, suatu saat saya ingin rumah saya pun bisa ‘hijau’ seperti itu. Mudah-mudahan saja, setelah kelak saya tidak ngantor lagi, saya bisa ‘menghijaukan’ rumah ini ya temans, mohon doanya *menjura* he he.

Baiklah, sebagai hidangan penutup, berikut beberapa potret ‘hijau’ yang sempat saya ambil saat pulang Lebaran kemarin. Sila dinikmati πŸ˜‰

This slideshow requires JavaScript.

Postingan ini khusus ditulis untuk Β β€œGive Away Aku dan Pohon” πŸ™‚

0 Comments

  1. mamayara

    Kok aku kebalikan ya Rin… rumah ortuku di tengah kota ( kecil ) jadi halamannya seuprit.. tapi bunganya banyak walau dlm pot…hahhh jadi rindu rumah juga….:(
    ___
    rumahku skrg nih gersang bgt Mam, pgn nanam ini itu tapi blom pernah terlaksana >_<

    Reply
  2. nurlailazahra

    Lah, itu ade Teh Orin yg ketiga?? aku kira Teh Orin waktu masih kurus #ups

    abis mirip beneeeerrr πŸ™‚
    ___
    ahahahaha….iya Sarah, makin gede dia makin mirip aku πŸ˜›

    Reply
  3. Idah Ceris

    Jadi, kalau pingin kelapa muda tinggal ke belakang rumah dong, Teh.
    Cara meniriskan ketupatnya itu unik. .. :mrgreen:
    ___
    Iyaaa…sayang pas kmrn kelapanya pada kering duluan.

    Reply
  4. idang

    Waaaaahhh mangganya bikin ileran πŸ˜€
    ___
    walopun dagingnya masih putih, tapi manis lho Dang πŸ˜€

    Reply
  5. LJ

    dulu kerindangan rumah aur sangat terbantu oleh pohon sawo yang tinggi dan rimbun milik tetangga yang skrg sudah ditebang.. hiks jadi sedih krn kamar emak jadi panas lgsg kena terik matahari.. tp gak boleh marah krn itu pohon punya tetangga, haknya klo pingin ditebang.. πŸ˜›

    suatu saat akan ada rumah hijau ala orin.. rumah hijau tanpa cacing juga.. wkwkkk
    ___
    Nah, dulu justru pohon mangga tetangga yg suka bikin rusuh Mak, suka ngasih hadiah sampah daun qiqiqiqi.
    Aamiin…semoga ya Mak, coz keknya Orin ngga bertangan dingin seperti mamah atau Bapak nih, khawatir mati si tanaman tanpa cacing πŸ˜›

    Reply
  6. titi esti

    Semoga sukseeeeesss….. GAnya
    ___
    Nuhun Teeeeh πŸ™‚

    Reply
  7. Evi

    Indah sekali lukisan katanya tentang rumah hijau, Teh πŸ™‚
    ___
    Terima kasih Tan^^

    Reply
  8. Esti Sulistyawan

    Adik Teh Orin mirip banget sama Teh Orin
    Rumah hijaunya ngangenin ya MBak πŸ™‚
    ___
    hihihi…iya ya Mbak, mirip πŸ˜€

    Reply
  9. Yeye

    Ah klo Orin mudik lg minta bawain mangga nya ah *malak* :p
    ___
    enak bgt lho Ye, lgsg metik dr pohon msh seger *ngabibita*

    Reply
  10. Lyliana Thia

    Rin, dirumah hijau ada hama tikus nggak..?
    Hiks.. Kok di jakarta bnyk ya..

    Teduh mbaca cerita ttg rumah hijau… Pengennya punya rumah seperti itu.. πŸ™‚

    Sukses GAnya yah Rin.. πŸ™‚
    ___
    Tikus ada sih kyknya mbak, namanya jg deket sawah, tapi ga sampe jadi hama. Di musim2 tertentu kadang ada lalay (errr…ini bahasa sunda, semacam kelelawar kecil yg suka makanin buah mangga gitu kalo ga salah)

    Reply
  11. myra anastasia

    ngebayangin rumahnya kayaknya enak bgt. Kl mau ngerujak gak usah beli lg buah2annya hihi
    ___
    Iyaa…hampir tiap hari ngerujak mangga+pepaya muda hohoho

    Reply
  12. Imelda

    Pagar rumahku di Jakarta hijau πŸ˜€ Dan halamannya dirimbuni pohon…dulu seperti hutan karena ada bambu, kamboja, mangga, nangka, pisang…. lama-lama ditebang dan diatur lagi, sehingga tinggal pohon rambutan, jeruk purut dan cabe. Tapi ya itu semua dirawat alm mama. Jadi kangen mama kalau jalan2 di kebun rumahku
    ___
    wah…sama2 rumah hijau nih nechan hehehe

    Reply
  13. Arman

    dulu pas gua masih kecil dan tinggal di surabaya di rumah kakek gua, juga semuanya serba ijo karena kakek gua suka warna ijo. hehe.
    ___
    kakeknya mas Arman penyuka hijau garis keras jg rupanya hihihihi

    Reply
  14. desain rumah minimalis

    namapak senang jika masih ada tanaman hijau didepan rumah jika dah tidak ada mau metik apapun dah ndak ada ane senang sekali dengan rumah masih banyak rerimbunan yang hijau hijau adalah salah satu rumah idaman kami
    ___
    Semoga nanti punya rumah hijau jg ya πŸ™‚

    Reply
  15. hani wahab

    hai salam kenal, satu almamater nih kita, smoga menang give away nya yaaa ^^
    ___
    Terima kasih sudah mampir πŸ™‚

    Reply
  16. Tri Widy Astuti

    kayaknya rumah yang banyak pohon hijaunya emang dambaan banyak orang. Apalagi kalau ada pohon buahnya. Ngiler tuh, ama kupatnya jeng hehe…
    ___
    apalagi pas aku motretnya Bu, msh puasa soalnya waktu itu hahahaha

    Reply
  17. nh18

    Betul Rin … itu namanya “stek”
    proses pengembang biakan flora …
    dan itu tidak semua orang bisa lho … karena itu sulit melakukannya … kelihatannya saja gampang … padahal … mesti teliti

    salam saya Orin
    ___
    Iya Om, seingatku Bapak jg seringkali gagal, batang hasil stek tidak tumbuh setelah ditanam.

    Reply
  18. Abi Sabila

    Penyuka warna hijau garis keras? hihihi…ada-ada saja istilahnya, Teh.
    Liat ketupat, jadi inget lebaran kemarin, ngajarin Sabila bikin kulit ketupat, hasilnya? jangan ditanya. hihihi…
    ___
    Alahamdulillah berkali2 belajar buat kulit ketupat belum berhasil Bi hihihihi

    Reply
  19. prih

    Rumah hijau habitat ‘pohon keluarga’ selalu ngangeni ya Orin.
    Keayuan dan kelembutan wajah mamah mewaris utuh ke Orin
    Orin juga bertangan dingin loh menyemai ide memupuk kata jadi fiksi dan novel. Salam
    ___
    Duh, selalu terharu membaca komen dari Ibu sang peri kebun *ketjup*. Makasih Ibuuu^^

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: