Rindrianie's Blog

Saat ‘Terjebak’ di Dalam Pesawat

Baiklah, judulnya terlampau lebay mungkin ya hehehehe. Mari saya ceritakan terlebih dulu kenapa judul ‘saat terjebak di dalam pesawat’ semacam demikian yang akhirnya saya pilih untuk postingan super random kali ini.

Beberapa hari terakhir (sudah dua minggu sebetulnya, karena postingan terakhir bertanggal 9 februari!) saya sudah berupaya untuk menuliskan sesuatu, tapi seperti yang sudah diduga, tulisan-tulisan saya berakhir di tempat sampah atau paling banter mengendap di draft. Tak ada yang selesai.

Kemudian saya berkunjung ke ekakurniawan.com, dan secara random membaca postingan yang ini, inti postingan pendek tersebut adalah kesan mas Eka terhadap novel The Anarchist (dari trilogi The Sleepwalkers) karya Hermann Broch. Tidak, saya belum membaca novelnya, dan tidak, saya juga tidak mengenal penulis Austria itu. Tapi yang dibahas di sana sangat menarik (well, setidaknya bagi saya ya he he).

Bagi August Esch, pekerjaan adalah penjara. Juga cinta dan waktu. Bahkan impian tentang kebebasan adalah penjara itu sendiri. Dalam dunia Esch, manusia seperti ditakdirkan dalam hidup yang tragis. Tanpa kebebasan dan tanpa jalan keluar.

Kalimat di atas saya kutip langsung dari postingan tersebut. Kalimat-kalimat pembuka itu membuat saya penasaran ingin membaca novelnya, tentu saja. Penasaran bagaimana si August Esch ini bersikap di sepanjang novel. Tapi kalimat-kalimat tersebut juga membuat saya berpikir hal lain, bahwa mungkin -tanpa saya dari atau tidak- saya sedang terpenjara *tsaaaaah.

Maksud saya begini. Benar saya seorang blogger, karena saya memiliki blog dan menulis ini itu ina inu di blog. Tapi ketika saya merasa ‘harus’ mengupdate blog ini sebulan sekali, misalnya, bukankah itu artinya sudah ‘terpenjara’ dengan menjadi blogger? Kalau pekerjaan mah emang penjara sih ya, terbukti saya males mulu kalo berangkat ngantor, apalagi kalau pagi-pagi hujan kan, yang ada ingin melanjutkan berpetualang ke alam mimpilah daripada berjibaku dengan genangan air dan kemacetan jalan hihihihi *abaikan.

Jadi ya begitulah, diakui atau tidak sepertinya ‘penjara’ itu kadang adalah sesuatu yang kita (atau lebih tepatnya, saya) pilih sendiri.

Di postingan berjudul The Sleepwalkers (2): The Anarchist itu pula, Mas Eka menyebut perihal ‘terkurung di lambung pesawat hingga berjam-jam’ ini, yang kebetulan digunakannya untuk membaca novel Hermann Broch. Dan kemudian yang akhirnya menjadi inspirasi saya untuk menjadikan hal tersebut sebagai judul postingan kali ini. Kenapa? Mari saya ceritakan kisah lain, temans.

Pengalaman saya terkurung di lambung pesawat belumlah terlampau banyak. Bahkan bisa dikatakan sangat sedikit sekali jika dibandingkan para traveler itu yang bolak balik ke sana ke situ ke mana-mana itu. Pengalaman pertama kali terbang pun baru di tahun 2007 (itu pun karena tugas kantor), dan baru sejak menikah di tahun 2010 ada lah ya setahun sekali-dua kali mah ngebolang yang harus pakai pesawat heuheu. Jadi meskipun saya malas menghitungnya, pokoknya mah selama 10 tahun ini paling berapa kali lah ya saya naik pesawat :P.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Saat ‘Terjebak’ di Dalam Pesawat

Berada di lambung pesawat (bagi saya) adalah jenis ‘penjara’ berikutnya. Sesuatu yang saya pilih sendiri tetapi saat menjalaninya ada beberapa hal yang membuat saya merasa ingin tidak berada di sana *absurd. Perjalanan terjauh saya baru dari Cengkareng hingga Hanoi, yang menurut mbah google lamanya sekitar 3 jam 5 menit saja. Etapi kemudian saya ingat kalau saya transit dulu di KL, jadi sepertinya nambah deh ya waktunya hihihihi. Intinya, lama penerbangan belum sampai yang di atas sepuluh jam terapung-apung di angkasa.

Tapi tetap saja, berada di ketinggian sekian puluh ribu meter di atas permukaan laut menimbulkan efek jeri tersendiri. Pastilah ya, selalu terselip pikiran buruk bahwa pesawat akan terjatuh atau apaaaa gitu saat berada di lambung pesawat seperti itu. Dan hal tersebut menuntut saya untuk melakukan sesuatu sebagai distraksi untuk sedikit menghilangkannya. Toh kematian saya memang sudah digariskan bahkan jauh sebelum saya terlahir di semesta, jadi kenapa harus meributkannya saat berada di pesawat segala? :).

Distraksi saya saat ‘terjebak’ di perut pesawat standard aja sih, bahkan hampir sama dengan yang ditulis Mak Eka dalam postingannya, yaitu sebagai berikut:

Tidur

Ini tidak bisa saya lakukan saat penerbangan pertama saya di tahun 2007 itu, Soekarno Hatta – Suvarnabhumi tetap terasa begitu menyiksa meskipun saat itu pesawat yang saya tumpangi adalah jenis boeing entah-berapa yang cukup besar. Tak ada guncangan sama sekali layaknya pesawat-pesawat low budget, tapi ya tetep weh, mata saya tidak bisa terpejam, padahal cukup lama perjalanan.

Tapi pulang dari sana, mungkin karena pengaruh kelelahan (di sana saya mengikuti training berhari-hari, dan malam sebelum pulang diajak shopping keliling pasar hihihihihi) dan jadwal penerbangan paling pagi (berangkat dari hotel jam 5 pagi), di dalam pesawat saya pules bangeeeeet hahahaha.

Jadi begitulah, saya akan dengan senang bercape-cape ria agar supaya bisa tertidur di pesawat :P.

Membaca 

Tidak selalu bisa dilakukan sih, karena kadang pak suami protes kalau saya menyelipkan buku (yaaa…buku saya kadang memang tebal-tebal juga sih ya hihihihi), tapi kalau lulus sensor saya bisa menghabiskan waktu dengan membaca buku saat pesawat sudah stabil.

Jika saya tidak bisa membawa buku saat ngebolang, terpaksa deh ‘cuma’ membaca majalah yang terselip di bangku pesawat dan atau membaca artikel yang memang sebelumnya sudah saya donlot.

Melamun alias Menghayal

Hahahahaha… iya lho, kadang saya hanya akan memasang earphone di telinga, mendengarkan lagu-lagu berganti seraya diam saja memandang ke jendela pesawat, lantas membiarkan pikiran saya berkelana sesukanya. Mencoba mengosongkan kepala saya dari pikiran buruk-pikiran buruk yang kadang melintas, lantas mengisinya dengan imajinasi-imajinasi liar yang berhasil saya temukan di balik awan atau lautan di bawah sana tsaaaah.

Prosesi ini idealnya dilanjutkan dengan menuliskan si hasil hayalan tadi sih ya, tapi belum pernah saya coba sih. Secara ya kalau ngebolang tidak pernah bawa laptop (kecuali ketika ada tugas dari kantor itu), menuliskannya di buku catatan atau notes di ponsel bisa juga sih ya, tapi begitulah, selama ini saya cuma mengendapkannya saja di kepala :D.

 

Mengobrol dengan orang yang baru saya temui adalah sesuatu yang sulit saya lakukan, maka itu jarang sekali bisa dijadikan sebagai pilihan. Ngobrol dengan AM mah bisa kapan saja di mana saja sih ya, jadi jarang juga dilakukan hihihihihi. Kalau kebetulan travelmate saya (baca: Neng Iqoh :P) atau teman yang memang seru diajak berhosip seru, ya bisa ngobrol terus sih sepanjang perjalanan. Tapi tentu ngerumpinya harus agak bisik-bisik lah ya, secara yang lain mungkin lebih memilih tidur dan tidak mau terganggu kan ya :D.

 

Nah, kalau dirimu gimana temans? Apa yang biasanya dilakukan saat ‘terjebak’ di lambung pesawat? ^^

 

 

 

 

 

6 Comments

  1. Lidya

    aku kapan atuh diajak jalan2 bareng

    Reply
  2. adelinatampubolon

    Tidur dipesawat itu rada nanggung. Pas enak2 tidur ada aja yg ganggu. Yach pengumuman lah, pramugaru nawarin makanan dll. Yg paling asyik yach cuma bengong dan menghayal. Kalau pas pesawat nyediain tv paling yach nonton orin. hehehe..

    Reply
  3. monda

    di pesawat paling2 baca majalah airline dan tidur he.. he..

    Reply
  4. Arman

    paling enak ya membaca atau nonton tv kalo tersedia secara gak bisa tidur kalo di pesawat. hehe.

    Reply
  5. Bibi Titi Teliti

    Oriiiin…
    Makanya kayak akikah dong, masuk pesawat teh langsung blek tidur soalnya udah minum antimo duluan supaya gak ongkek bhahahaha…

    Reply
  6. devi

    sampai skrng aku blm pernah naik pesawat, pasti cukup takut ya klo sampai terjebak di pesawat 🙁

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: