Rindrianie's Blog

Sebotol Minyak Kayu Putih

Ini adalah sebuah kisah sebotol minyak kayu putih. Sepele dan remeh mungkin, tapi tetap saja saya tergelitik menuliskannya.

Sebagai orang yang gampang sekali masuk angin, seringkali alergi debu plus kulit sensitif, dan ga tahan bau asap rokok, saya selalu menyiapkan sebotol minyak kayu putih kecil di tas saya, kemana pun saya pergi.

Jadi, saat saya pulang dari kampus jam 10 malam misalnya, saya sudah mengoleskan si minyak kayput ini ke perut supaya terhindar dari masuk angin. Atau, saat tergigit nyamuk dan sebelum rasa gatal itu akhirnya berbekas di kulit saya, sekali lagi si minyak kayput akan beraksi menolong saya.

Nah, seorang sahabat saya di kampus, sering sekali -mostly setiap mulai kuliah jam ke-2 dan selanjutnya (diatas jam 7 malam)- meminjam (meminta mungkin lebih tepat) si minyak kayput itu, untuk beliau oleskan ke kelopak matanya, sehingga beliau bisa menahan kantuk yang pasti melanda ditengah perkuliahan.

Selain anehnya kebiasaan beliau yang sangat ‘ekstrim’ -saya tidak bisa membayangkan bagaimana perihnya kelopak mata berkayput- ini, saya juga merasa sedikit heran dengan kebiasaan ‘meminjam (baca : meminta) kayput beliau. Maksud saya, jika beliau memang akan selalu memerlukan kayput ini, bukankah akan lebih jika beliau menyiapkan si kayput ini dalam tasnya, seperti yang saya lakukan selama ini? Saya bertanya-tanya bagaimana jika saya kebetulan tidak masuk (Apalagi kami memang tidak selalu mengambil yang sama)? Apakah beliau pun akan mencari-cari teman lain yang memiliki kayput untuk dipinjam? Bagaimana kalau tidak ada yang memiliki? Bukankah beliau sendiri yang akan kesulitan?

Bagi saya, hal tersebut sungguh aneh, mungkin saya-nya saja yang terlalu berlebihan dan lebay dot com ya he he he…  Mungkin ada (atau banyak?) orang yang berprinsip “kalau bisa minta (atau pinjam), kenapa harus beli?” Iya kan? hihihihi

Peace ah 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: