Rindrianie's Blog

Sebuah Pagi di Getreidegasse

Jalanan Getreidegasse masih terbilang sepi, hanya ada beberapa turis Jepang dengan kamera tergantung di leher di dekat sungai Salzach sana. Aku hanya ingin membeli kartu pos bergambar pegunungan Alpen, tidak perlu pergi ke Salzburg segala sebetulnya, itu bisa aku dapat dengan mudah di bandara Flughafen Wien-Schwechat. Tapi aku suka kota tua seperti Salzburg, membayangkan bagaimana Wolfgang Amadeus Mozart menghabiskan masa kecil di kota ini dan memulai kejeniusannya menggubah musik bahkan sejak usia 5 tahun, selalu membuatku takjub.

Tapi, terlepas dari itu semua, mungkin karena aku hanya ingin bersama Aldo, sekali lagi. 

“Jadi? Besok kamu pulang ke Indonesia?”

“Begitulah,” jawabku malas. Tetap berjalan tanpa berminat masuk ke salah satu toko suvenir di kanan kiriku.

“Nggak akan balik lagi?”

Aku hanya mengedikkan bahu. Aku bisa meneruskan kuliah di Jakarta saja, daripada di sini dan makan hati?

“Kamu mau langsung nikah?”

“Ck,” ketusku tidak suka. Perjodohanku dengan seorang lelaki-entah-siapa-namanya yang dititahkan Ayahku sudah sangat membuatku kesal. Aku sungguh tidak berharap hari terakhirku di Wina bersama Aldo juga akan mengesalkan semacam ini.

“Kenapa kamu tidak menolaknya, Sya?” Ada getar tidak suka yang kurasakan pada suara Aldo, membuatku berhenti melangkah.

“Kamu pikir aku menyetujui perjodohan bodoh itu, Al?”

“Kamu bisa bilang kalau kamu sudah punya pacar, Sya.”

“Faktanya aku tidak punya pacar, kan, Al?” tanyaku putus asa. Bagaimana mungkin Aldo tidak bisa memahami aku yang sengaja memilih kuliah di Universität Wien hanya karena dia sudah lebih dulu kuliah di sana?

“Bilang ayahmu kamu sudah punya pacar yang akan segera menikahimu, Sya.”

“Siapa, Al? Siapa??”

“Aku.”

Oh?

***

Note: 250 kata, untuk giveaway Pesta Flash Fiction @NBC_IPB & @novellinaapsari

0 Comments

  1. Okti D.

    awwwww…. trus trus diterima nggak?

    Reply
  2. jampang

    cie…cie… cieeeeee

    Reply
  3. Anindita Hendra

    terima! terima! terima! *heboh sendiri*

    Reply
  4. Arman

    Yah diiyain aja tuh hehe

    Reply
  5. dianryan

    udah terima aja sya…:D

    Reply
  6. vizon

    “Maaf Al, aku tidak bisa menerimamu”

    “Kenapa, Sya”

    “Cowok yang dijodohkan denganku itu, ternyata Angga”

    “Angga, siapa?”

    “Orang yang pernah kutaksir waktu SMA dulu”

    “@&#$^^£€¥”

    Reply
    1. chocoVanilla

      DaZoonn… rusak deh imajinasi romantiskuuuu :mrgreen:

      Reply
  7. Ari Tunsa

    lama nggak kesini mbak orin masih konsisten nulis fiksi ya hehe…

    btw itu jalan ceritanya sudah sedikit bisa ditebak, nggak kayak yg biasanya itu mbak, mengejutkan 😀

    Reply
  8. kettyhusnia

    semakin matang deh Tante Orin ni..ngiriii abis 🙂 ehm, iam u’r FF fans.
    Selalu, ada ciri khas unik di setiap tulisan Nte Orin.

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: