Rindrianie's Blog

Sebuah permintaan

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat meng-sms, dan seperti biasa dan selalu, percakapan lewat sms dengan beliau selalu sambung menyambung saling berbalas hingga salah satu ‘menyerah’ kecapean bersms ria. Sahabat saya ini baru saja menikah pertengahan desember lalu. Dan curhatannya dalam sms-sms yang panjang itu kali ini, adalah sebuah permintaan dari orang tua dan mertua pada dirinya untuk kehadiran seorang cucu.

Sahabat saya ini bercerita, ritual setiap akhir minggu-nya pasca menikah adalah berkunjung ke rumah orang tua (dan mertua)nya. Itu menjawab keheranan saya atas ‘menghilang’nya beliau selama ini, karena biasanya kami seringkali bertemu untuk sekedar makan-makan sambil cerita, nonton film di bioskop, atau nyalon bersama. Rupanya kebiasaan kami tersebut akan sulit sekali dilakukan dengan ‘kewajiban’ barunya tersebut.

Dan saat kunjungan inilah, sang orang tua maupun mertuanya sibuk menanyakan “sudah ngisi belum?”, “sudah telat datang bulan, belum?”, bahkan dalam salah satu smsnya, beliau bercerita menerima berbagai macam obat-madu-habatusaudah-minyak zaitun-bubuk fatimah-ramuan china dan semacamnya dari para orang tua itu, tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk membuat sahabat saya ini segera hamil. Di akhir sms beliau mengatakan “gw sampe nangis Rin, gw juga pengen cepet hamil kok, tapi kan ga bisa gw putusin sendiri kapan gw bisa hamil?”

Duh, sedih sekali mengetahuinya. Saya sangat mengerti kesedihan sahabat saya itu, karena walaupun belum ‘seekstrim’ itu, saya pun menerima pertanyaan dan harapan yang sama dari para orang tua kami. Untungnya kami tinggal di kota yang berbeda, sehingga tekanan seperti itu lebih kecil prosentasenya.

Teringat sebuah iklan layanan masyarakat tentang KB. Sang ibu bertanya “kapan nikah?” pada anak dan calon menantunya yang sedang berpacaran, lantas “kapan punya anak?” saat mereka telah menikah, kemudian dilanjutkan dengan “kapan punya adik?” yang kali ini bisa dijawab pasangan itu dengan “kami ikut KB, Ma”. hehehe…kok jd iklan seeeh 😛

Saya hanya sedikit gemas dengan pertanyaan-pertanyaan tak berujung yang tak memiliki akhir semacam itu. Apakah tidak pernah terpikirkan hal tersebut bisa saja menyinggung, menyiksa, dan bahkan menyakiti hati si penerima pertanyaan? Tidak pernahkah terpikirkan bagaimana jika mereka-lah yang berada dalam posisi si penerima pertanyaan? Ah, kok saya jadi ikut-ikutan mengajukan pertanyan tak berujung tanpa akhir ya?

Sebagai seorang anak yang baik, yang ingin berbakti pada orang tua, yang ingin membahagiakan beliau berdua, yang akan melakukan apa saja sebagai tanda cinta pada mereka, pasti dan akan selalu berusaha untuk memenuhi permintaan orang tua. Dan saya yakin sahabat saya itu pun melakukan hal yang sama. Tetapi karena itu pula lah beliau bersedih hati, karena belum bisa memenuhi sebuah permintaan untuk segera hamil dan melahirkan seorang cucu di tengah-tengah mereka.

Seandainya saja, permintaan itu seperti berikut :

“Duh, Ibu pengen deh liburan ke Bali.” –> si anak akan menabung, cari tiket + hotel yang agak murah, arrange ini-itu, apply cuti ke kantor, dan permintaan sang Ibu terkabul.

“Nak, Papa minta stick golf baru boleh?” –> si anak (lagi-lagi) akan menabung, lembur sampai malam, mengurangi jajan di Starbuck, mencari penghasilan tambahan, dan permintaan sang papa terkabul.

“Tau ga Teh, si Ibu anu tuh baru beli cincin berlian, bagus deh.” (ya…ya…pernyataan yang menyiratkan permintaan) –> si anak akan lebih mati-matian lagi untuk membelikan Mama tercinta sebuah cincin berlian. Jika aktualnya hanya sebuah cincin emas biasa, yaa…nasib si anak mungkin memang baru segitu ya (halah… :P).

Maksud saya, permintaan-permintaan yang bisa diupayakan sendiri oleh si anak akan lebih mudah bisa direalisasikan. Mungkin sulit, mungkin perlu waktu yang lama, mungkin tidak bisa tepat sesuai keinginan, tapi bisa diupayakan. Lain halnya jika permintaan-permintaan tersebut sudah diluar ‘kekuasaan’ para anak untuk merealisasikannya, karena ada pihak lain yang dilibatkan, atau lebih jauh lagi karena memang hanya Tuhan yang sanggup mengabulkannya.

Seperti permintaan berikut :

“Sayang, kamu kok belum pacar siiih? Mami jodohin sama anaknya Tante Lin mau?” –> “Di pasar baru stock pacar habis Mam. Kalo ga salah anaknya Tante Lin homo deh. Apa aku boleh jd lesbi aja biar punya pacar?” jawab si anak desperate.

“Neng, kamu kok ga seputih si Ayu tetangga sebelah rumah ya? Facial gih, atau apaa gituh.” –>” Mamaaaah, Ayu itu kan orang chinese, ya pasti lebih putih atuuuuh.” si anak nangis guling-guling.

“Nduk, kok belom hamil juga toh? Simbok pengen gendong cucu.” –> “Baru juga nikah 2 minggu Simbooookk, belom bisa hamiiiiil.” si anak jedotin jidat ke tembok.

Hahaha…tambah lama tambah ngaco.

Eniwey, betapa sebuah permintaan dari orang tua terkadang memberatkan dan membebani kita ya.. Tapi tak mengapa, toh masih ada Beliau Yang Maha Kaya yang bisa dimintai segala sesuatu, bukan?

“Ya Rabb, izinkan saya mengabulkan permintaan orang tua saya dengan ridlo-Mu… Amin ya robbal’alamin.” –> Doa si anak lirih..

Leave a Reply

%d bloggers like this: