Rindrianie's Blog

Sebuah Senyuman

Kejadiannya kemarin, saat saya membeli sayur pada seorang Ibu yang berwajah (maaf) kecut.

Di dekat rumah kontrakan saya, memang ada pasar yang beroperasi sore hingga malam hari. Sehingga saya bisa belanja sepulang ngantor. Sebetulnya mungkin kurang pas jika disebut ‘pasar’ ya, karena Β hanya merupakanΒ deretan para pedagang di pinggir jalan raya yang dilalui banyak kendaraan (saya pikir ini pasar ilegal, karena jalanan di depan pasar itu rusak berat tanpa pernah diperbaiki :P). Intinya, saya harus memilih tempat untuk belanja, harus tempat yang memungkinkan si Kupi terparkir dengan nyaman tanpa mengganggu arus lalu lintas.

Sore itu, pasar lumayan ramai. Sulit bagi saya untuk berhenti di tukang sayur langganan saya karena sudah tidak ada tempat untuk si Kupi parkir di depannya. Akhirnya saya pun ‘terpaksa’ belanja sayur di Ibu berwajah kurang ramah ini. Jenis sayuran yang si Ibu jual sebetulnya lumayan lengkap, tidak hanya kangkung-bayam-sawi-daun singkong saja, tetapi ada bayam merah-brokoli hijau-pokcoy dan sayuran hijau ‘tidak biasa’ lainnya, yang jarang saya temui di pasar itu. Tapi saya memang tidak suka bertransaksi disana karena ketidakramahan si Ibu. Seperti sore itu.

Saat menunggu uang kembalian, ada seorang pembeli lain menghampiri.

Mas calon pembeli : Bu, sawi ijo sekilo berapa?

Ibu : enem rebu tanpa senyum, dan jutek abis

Mas calon pembeli : empat ribu ya?

Ibu : dimana ada sawi sekilo empat rebu? aseli ngebentak, dan semakin jutek

Si mas langsung ngeloyor pergi kesal. Saya yang menyaksikan ikutan bete. Dan langsung kabur juga.

Jika rezeki harus dijemput, kenapa Ibu penjual sayur itu tidak menjemputnya dengan ramah ya? Jika berjualan itu sangat kompetitif, bagaimana Ibu penjual sayur itu akan memenangkan persaingan dengan sikap yang demikian?

Saya paham rezeki sudah ada yang mengatur, seburuk apapun kita bersikap, karena Beliau Yang Maha Pemurah akan memelihara setiap hambaNYA. Yang belum bisa saya mengerti adalah, kenapa sulit sekali bagi Ibu penjual sayur untuk memberikan sebuah senyuman? Karena saya -dan pasti si mas calon pembeli yang kesal itu- akan enggan sekali untuk kembali berbelanja padanya.

Tapi, setidaknya sore itu saya belajar sesuatu. Untuk tidak lupa tersenyum. Terutama saat menjemput rezeki. Walaupun apapun.

Please smile, Pals πŸ˜‰

0 Comments

  1. putri

    Ibu nya lagi ‘dapet’ kli, makanya jutek . hehehe. btw , salam kenal.^^

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Wah…mungkin jg ya Put. Tapi PMSnya permanen hahahaha. Salam kenal jg, tengkyu udah mampir πŸ˜‰

      Reply
  2. monda

    Ada kakek penjual alat rumah tangga keliling. Begitu juga nggak bisa ditawar. Kalau nggak jadi beli dia ngomel2. Akibatnya ibu2 nggak mau belanja sama dia lagi.

    Reply
    1. Irranida Hussi

      Memang ternyata susah sekali ya mendapatkan orang yang memiliki mental memberikan pelayanan yang terbaik untuk mendapatkan banyak pelanggan.

      Di pikiran ibu itu mungkin, tanpa senyum atau keramahan dagangannya tetap aja kok ada yang beli. Hehe.

      Pengalaman pribadi dengan sopir bajaj yang mangkal dekat rumah, sejak dia maki-maki aku cuma karena salah paham, sampai sekarang aku ga mau naik bajajnya dia. Dia pikir hanya ada satu bajaj kali ya di dunia. πŸ˜€

      Reply
      1. Orin (Post author)

        Iya Mba Ir, aku jg ga akan belanja lg disana *sigh*

        Reply
    2. Orin (Post author)

      Iya Bun, pdhl namanya nawar mah wajar ya, ngeselin banget penjual yg judes gituh >_<

      Reply
  3. Gaphe

    mungkin ibu itu lagi ada masalah kali, bisa jadi emang dia lagi menghadapi hari yang nggak enak. makanya dia bersikap seperti itu. hemm.. entahlah, kalau memang dia merasa melayani customernya jadi prioritas, kayaknya dia nggak akan bersikap seperti itu deh.

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Deu…mas Gaphe positif thinking banget *sadis mode : ON*
      Coz tiap hari dia mah jutek mulu mas, mungkin udah judes bawaan kali ya hihihihi…

      Reply
  4. hilsya

    cerita ini membuat daku ingin memberi senyum lebih sering lagiii… πŸ™‚

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Smiiilllleeeee πŸ˜‰

      Reply
  5. Masbro

    Selamat pagiiii… (ngomong selamat paginya sambil senyum lho, hehe)

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Selamat sore Masbroooo *senyum juga lho :)*

      Reply
  6. joe

    padahal amalan yang paling mudah dilakukan adalah tersenyum kepada sesama

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Betul mas Joe, gratis pula *halah…emak2 banget suka yg gratisan hehe*

      Reply
  7. Asop

    Benar, senyum itu membahagiakan orang lain. πŸ™‚
    *sekalipun senyum itu palsu*

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Apalagi kalo asli mas Asop, pasti lebih membahagiakan hehehe

      Reply
  8. nia/mama ina

    bener, aku juga paling malas klo belanja sm pedagang yg jutek abis, mahal, gak bisa ditawar……mrk gak sadar yach….karena sikapnya yg jutek itu bikin dagangannya ngga laku….

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Iya mba Nia, pdhl yg rugi dia sendiri ya πŸ™
      Mudah2an si Ibu cepet ‘sadar’ kalo senyum it penting πŸ˜€

      Reply
  9. joko santoso

    senyum juga termasuk ibadah… yang paling gampang, lagi

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Betul mas, kita jangan ikut2an si Ibu pelit senyum ya πŸ˜‰
      Terima kasih sudah berkunjung..

      Reply
  10. Ridha Alsadi

    keep smile till the end, hehe
    meskipun menyebalkan, sikap ibu itu bisa menambah ilmu kita untuk selalu tersenyum apalagi saat menjemput rezeki.
    nice share πŸ™‚

    salam hangat, bangauputih ^_^

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Sepakat mba Ridha, selalu tersenyuuuummm… πŸ˜‰

      Reply
  11. bundamahes

    Brokoli hijau??? ❓ emang ada brokoli yang ga hijau ya?!
    Berarti 11 12 donk sama penjual tongseng di deket kantor saya! 😑

    *sssssstttt.. kerja dimana???

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Adaaa… ada yg putih jg keknya Bun, itu namanya brokoli jg kan yak? *ga yakin :P*
      Kantor di daerah Cakung mba, negeri antah berantah hihihihi

      Reply
  12. Lidya

    sebelum komen saya senyum dulu ah πŸ™‚
    btw kalau saya belanja pasti pilih yang penjualnya ramah,lebih nyaman

    Reply
    1. Orin (Post author)

      *senyuuuummm*
      Iya Mba Lid, emang kalo terpaksa aj belanja ke si ibu ituh, dan ga mau lg ah, malesin πŸ˜›

      Reply
  13. shaleh

    sebelum koment mau senyum dulu ah πŸ™‚
    Mungkin si Ibunya lagi bosan aja tuch, dr td ga ada pembeli yang memberi senyum padanya, xixixi
    TabiK

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Mungkin jg si Ibu lupa caranya tersenyum mas hihihi…
      Salaam, terima kasih sudah berkunjung ya πŸ˜‰

      Reply
      1. shaleh

        sama-sama *_*

        Reply
  14. Fahrie Sadah

    Salam buat si kupi ..^^

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Salam balik katanya mas he he

      Reply
  15. Mechta

    semoga akan ada kejadian yg membuat si ibu segera sadar bahwa seulas senyum sama sekali tak mahal dan insyaallah akan memudahkannya dalam menjemput rezeki ya…

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Amiiiiin… Semoga ya Ta πŸ™‚

      Reply
  16. Prima

    kalau seandainya ibu tadi bilang: iya, 4 ribu, tapi batangnya aja ya??? sambil nyengir kuda, pasti pembeli ngakak… *ah itu sih kamu aja prim yang jadi penjualnya! πŸ˜›

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Nah, mendingan kyk gitu Prim, lebih seneng dibikin ngakak lah drpd dijutekin mah πŸ˜›

      Reply
  17. danyfarid5

    Senyummu hancurkan duniaku, kiranya cuma itu saja yang saya tahu. Selebihnya cari di http://danyfarid5.wordpress.com (pasti anda tidak akan menemukan tulisan selebihnya, pasti itu!!)

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Hehehe…fansnya Afgan toh πŸ™‚ Tengkyu sudah mampir mas Dany

      Reply
  18. giewahyudi

    Sekarang senyuman memang mahal harganya lho..

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Di tempat saya senyum masih gratis lho mas Gie, si ibunya-nya aj jutek πŸ™

      Reply
  19. Nova

    mbak, ibu jutek itu emang bikin pembeli jutek. aku sering nemu yang begitu, asli, bikin eneg banget:(
    *hatsaaaahhh!!! curhat

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Iyaaa… toss dulu Nov…

      Reply
  20. menone

    emang nbener bgt q juga sebel klo beli apa2 penjualnya jutek kayak gt……

    salam persahabatan selalu dr MENONE

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Salam persahabatan jugaa… Terima kasih sudah mampir Menone πŸ˜‰

      Reply
  21. achoey el haris

    senyum adalah sedekah yang murah
    saya tersenyum untukmu πŸ™‚

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Sepakat kang.. *tersenyum manis*

      Reply
  22. Mabruri Sirampog

    Assalamu’alaikum….
    karena senyuum itu ibadah, maka saya pun menyapa ibu dengan senyuman…
    salam kenal sebelumnya dari Brebes..

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Wa’alaikumussalam…
      Salam kenal mas Mabruri πŸ™‚
      Terima kasih sudah berkunjung yaa…

      Reply
  23. Lyliana Tia

    pengingat yg bagus… hehe.. to do not forget to smileeee…. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€
    Apapun profesi kita.. ya kan… πŸ˜€

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Iyaaa…. toss dulu ah mba πŸ˜‰

      Reply
  24. Susan Noerina

    Hihihi, ibu2 itu lagi PMS kali Say?? πŸ™‚

    Yup, tersenymlah selagi senyum kaga bayar dan kaga dilarang. Pan sekalian beribadah. Yul kaga?? πŸ™‚

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Sepakaaatttt πŸ˜‰

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: