Rindrianie's Blog

Sebuah Tepukan di Bahu

Perhatian: postingan ini adalah 100% curcol! 😛

Sepertinya sudah sering saya ceritakan ya, kalau saya super duper sibuk. Pekerjaan rasanya nggak habis-habis, sampai terpikirkan mungkin jika saya bisa membelah diri pun, saya akan tetap sibuk :P. Sehingga ngeblog pun semakin jarang, baca buku hanya bisa saya lakukan sesekali, menulis pun nyaris tidak memberikan hasil yang signifikan.

Tapi, sekadar sibuk rasanya masih tidak apa-apa. Dibandingkan dengan akhir-akhir ini saya merasa hidup saya sedang rusuh. Tidak perlu saya ceritakan detailnya lah ya, selain akan sepanjang jalan kenangan yang tak akan kunjung habis dikisahkan, juga akan membuat saya menangis tersedu-sedu semalaman *halah. Baiklah, itu terlampau lebay memang hihihihi.

Intinya sih, masalah datang bertubi-tubi. Tidak hanya datang pada saya, tapi juga pada AM pak suami. Bisa dibilang, kami berdua sedang berada di titik terendah kehidupan. Iya mengerti, semuanya memang ujian, dan tak ada ujian yang tidak menjanjikan kenaikan kelas, bukan? Tapi saat menjalaninya ya gempor bin rungsing juga sih ya he he.

Kembali pada judul postingan kali ini.

Saya berupaya untuk tangguh, tentu saja. Meskipun katanya perempuan adalah makhluk emosional, so far saya hanya meneteskan air mata saat menyetir pulang karena merasa terharu atas perhatian teman-teman saya. Sedih-marah-kecewa-sakit hati, saya transformasikan pada wajah yang tetap lempeng, terkadang malah masih bisa tersenyum seolah saya baik-baik saja.

Tapi ternyata, sebuah tepukan kecil di bahu saya dari seseorang yang bahkan tidak terlampau mengenal saya (tapi cukup tahu atas masalah-masalah yang sedang saya alami), mampu membuat saya menyegerakan diri ke toilet karena tak tahan ingin menangis hihihihi.

Hal tersebut membuat saya berpikir, sepertinya saya sering lupa untuk ‘menepuk bahu’ saya sendiri, memberi dukungan tanpa kata bahwa saya selalu menghargai apa pun yang saya putuskan, bahwa saya sudah melakukan semua yang saya bisa, dan bahwa eventually semuanya akan baik-baik saja. Demikianlah saya memaknai sebuah tepukan di bahu, karena hal sepele itu rupanya bisa berdampak menakjubkan, buktinya, bisa menjadi energi bagi saya untuk menuliskan postingan ini. Yeaayy!

So, apakah dirimu sudah menghadiahi sebuah tepukan di bahu bagi dirimu sendiri, temans? 🙂

3 Comments

  1. Monda

    sini kutepuk bahumu Rin, yang kuat dan tegar ya, semoga semuanya cepat beres

    Reply
    1. Orin (Post author)

      BunMoooon, terima kasih banyak ya *terharu *pelukBunMon

      Reply
  2. rinasetyawati

    Iya rin, benar kadang kita lupa menepuk bahu kita sendiri yaa

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: