Rindrianie's Blog

[Semacam] Review : Everlasting – Cinta Tak Akan Pernah Lupa

EVERLASTING DEPAN

Judul Novel : Everlasting – Cinta tak akan pernah lupa

Penulis: Ayu Gabriel

Penerbit: Stiletto Book

Tebal Buku: 323 Halaman

No ISBN: 978-602-7572-25-6

Blurb

Kayla, 22 tahun, jatuh cinta kepada Aidan. Setiap kali Aidan yang punya bokong seksi itu lewat di depannya, Kayla langsung belingsatan. Namun, Kayla tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan perasaannya karena Aidan adalah bos di kantornya -usinya lebih tua 11 tahun. Ia hanya bisa mengamati dari jauh secara diam-diam sambil mencatat semua hal tentang Aidan di sebuah buku rahasia.

Dengan bantuan Pira, sahabat baiknya, Kayla mulai berusaha mendapatkan cinta Aidan. Kayla pun mengubah dirinya menjadi seperti perempuan impian Aidan : mengubah potongan rambutnya, menato tubuhnya, sampai mengubah selera musiknya.

Ketika Kayla sedang berusaha merebut hati bosnya itu, Dylan, cinta pertama Kayla, tiba-tiba muncul. Kayla sebenarnya sudah lupa siapa Dylan karena dia pernah bersumpah untuk tidak mengingatnya lagi semenjak Dylan dan keluarganya pindah dari Jakarta, 10 tahun lalu. Keinginannya terkabul. Ia tidak ingat sama sekali tentang Dylan atau cinta mereka. Dylan pun memutuskan untuk mendapatkan kembali cinta Kayla yang ia yakini masih bersemayam di hati gadis itu kalau saja ia bisa mengingatnya.

Review

Membaca blurb yang demikian, entah bagaimana saya sudah antipati duluan dengan si tokoh utama Kayla. Bukannya apa-apa, saya paling tidak suka seseorang yang tidak menjadi dirinya sendiri hanya karena dia sedang jatuh cinta semacam itu. Tapi si Kayla ini baru 22 tahun sih ya, dan inipun novel, jadi ya terserah yang nulis lah ya karakter si tokoh mau seperti apa qiqiqiqi.

???????????????????????????????

Terbagi dalam dua puluh dua bab (tidak termasuk prolog dan epilog), novel ini terbilang cukup tebal, apalagi font hurufnya lumayan kecil. Di halaman-halaman awal, saya sudah menemukan keunikan novel ini, karena Kayla membuat daftar ‘hal-hal yang bisa membuatnya bahagia’ seperti terlihat dalam foto di atas. Hal-hal sederhana semacam diskon, mendapat taksi kosong di Jum’at malam, atau sekadar melihat Aidan -bos sekaligus gebetannya- tertawa.

Keunikan lainnya ada dalam karakter Kayla, yang tidak seperti kebanyakan gadis pada umumnya, dia mengumpat dengan kalimat “saus kacang” setiap ada sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Lucu saja sih, membuat saya sedikit berpikir apa gerangan yang dilakukan si saus kacang pada Kayla sehingga bisa-bisanya dijadikan frasa mengumpat *abaikan*.

Konflik dalam novel ini seolah ada dua, yaitu upaya Kayla yang mencoba merebut perhatian Aidan, dan bagaimana Dylan -si cinta pertama Kayla yang terlupakan- mencoba merebut kembali cinta Kayla. Semacam cinta segitiga jenis baru gitu sih ya hihihi. Tapi seru kok, dengan diksi yang tidak biasa dan berbagai dialog cenderung kocak, novel ini tidak membosankan meskipun tebal.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memanjakan mataku lagi. ia memakai kemeja hijau muda dan terlihat begitu tampan. Aku mendesah diam-diam. Ia menggiurkan seperti es teh lemon di tengah hari yang panas di bulan puasa. (hal 28)
 
Dylan tersenyum lembut. Itu senyum yang sangat berbahaya -jenis yang bisa membuat perempuan rela melakukan apa saja demi melihatnya lagi. (hal 239)

 

Dan yang paling saya suka adalah, penulis secara implisit memasukkan pesan moral tanpa menggurui pada pembaca. Misalnya saja perkataan Dylan pada Kayla berikut, yang secara tidak langsung mengingatkan kembali pada pembaca bahwa sudah seharusnya cinta itu memang tidak bersyarat.

“Jadi, laki-laki itu baru bisa menyukai kamu kalau kamu punya tato, begitu?” ejeknya. “Dia nggak bisa menyukai kamu apa adanya?” (hal 153)

Atau, kalimat Pira berikut, bahwa seorang pencinta -yang terlanjur terbutakan cinta- seringkali tidak menyadari bahwa mereka tidak betul-betul mencintai seseorang, katakanlah, mereka cuma merasa ‘terpikat’ :).

“You don’t love him, you just love the idea of loving him” (hal 215)

Jika ada sesuatu yang ‘mengganggu’ dalam novel ini, adalah tentang hilangnya ingatan Kayla atas Dylan. Meskipun saya yakin Mbak Ayu Gabriel sudah melakukan riset tersendiri untuk hal ini, sebagai orang awam saya kurang bisa menerima bahwa seseorang bisa melupakan masa lalunya begitu saja. Satu folder yang berisi Dylan (bahkan keluarganya) seolah ter-delete dan tidak ada lagi di ingatan Kayla. Padahal, bukankah kejadian yang traumatis itu justru susah dilupakan? Kecuali Kayla memang menjalani hypnotherapy atau apalah ya, tapi seingat saya hal ini tidak dijelaskan dalam novel. Kayla hanya tidak ingin mengingat kejadian saat Dylan pergi sepuluh tahun lalu, dan voila, dia pun melupakan semuanya. Bagi saya, hal ini terlampau ajaib.

Tapi ganjalan di atas tidak membuat saya tidak bisa menikmati novel ini secara keseluruhan. Karakter tiap tokoh sangat kuat, bahkan untuk karakter Jessica sebagai ‘pemain figuran’ seksi yang menjadi rival Kayla dalam mencari perhatian Aidan, misalnya. Saya bahkan sangat menyukai karakter Pira, sahabat Kayla yang selalu jujur mengatakan ketidaksetujuannya demi kebaikan Kayla.

Ya sudah, demikianlah [semacam] review ini, Everlasting cocok sebagai bacaan ringan di penghujung hari menemani secangkir teh hangat, bisa membuat Anda tergelak, gemes, sebel, gregetan, dan kemudian tersenyum puas atas endingnya yang menyenangkan :).

PS : Pssstt, mbak Ayu, spesial request nih, novel selanjutnya kisah Pira sama Pras ya hihihihi.

0 Comments

  1. dey

    Pinjem novel punya Orin aja ya, boleh ? hihihi

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Boleeeeeh…sini Bu, ke Bekasi hihihihi

      Reply
  2. RedCarra

    Ini kenapa musti dikasih dalam kurung semacam itu sik, judulnya 😈

    Reply
    1. Orin (Post author)

      yaabis, ini kan reviewnya abal-abal mbakyu qiqiqiqi

      Reply
  3. bukanbocahbiasa

    Pras? Hmm, Pras itu siapa mbak? Apanya Kayla? Lalu, Jessica sama siapa? *kepo*

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Pras itu pacarnya Pira, Pira sahabatnya Kayla, Kayla itu ‘musuh’nya Jessica hahahaha

      Reply
  4. vizon

    [semacam] jempol untuk [semacam] review-nya Orin yang keren bingit.. 😀

    Jadi, novel ini cocoknya dibaca pas minum teh sore ya? Kalau di [semacam] ruang tunggu gitu, cocok gak? 🙂

    Reply
  5. titi esti

    waduh.. jadi pengen baca niiih.. penasaran sama jalan cerita secara utuh antara mereka bertiga (kayla-aidan-dylan)

    Reply
  6. Lidya

    semoga mbak ay baca request orin ya 🙂 aku pinjem atuh bukunya hehehe

    Reply
  7. A. A. Muizz

    A Cup of Tea aja nggak kubaca sambil minum teh, apalagi kalau baca novel ini? Hehehe. Jadi penasran pengin baca. 😀

    Reply
  8. Attar Arya

    reviu-nya asik.. 🙂

    Reply
  9. Pingback: Reviewer of The Month | Rindrianie's Blog

  10. danirachmat

    oooo.. gini ya Rin. Nyontek resepnya yaaa. HIhihihi..

    Reply
  11. Ririe Khayan

    jadi…saya pun ikutan belajar cara membuat review-nya ya mbak.

    Reply
  12. Miss Fenny

    Nyesel baca review ini, jadi “racun” pengen beli bukunya *gigit dompet

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: