Rindrianie's Blog

Seperti Kisah Cinta yang Lain

“Ning, jadi gimana keputusanmu? Sudah dipikirkan toh?”

Naning tidak segera menjawab, dia hanya menatap Jojo beberapa detik, lantas tertunduk. Dia tahu maksud pertanyaan Jojo, dan dia juga tahu bagaimana dia harus menjawab. Tapi….

“Kamu masih inget nikahan Mbak Ayu nggak sih, Jo?”

“Hah? Apa?” Jojo mengernyit. Bukannya menjawab pertanyaannya, Naning malah mempertanyakan sesuatu yang lain sama sekali. “Kenapa memangnya, Ning?”

“Masih inget kamu?”

“Masih, nggak mungkin banget kayaknya bisa dilupain. Iya kan?”

“Iya juga ya, nggak mungkin banget bisa dilupain.” Kemudian Naning hening, seperti berpikir sendiri. Membuat Jojo ikut diam, tidak mengerti kenapa pertanyaannya diabaikan Naning.

“Aku tuh kepengen kalau kita nikah ya kayak kawinannya Mbak Ayu gitu lho, Jo.” Naning berkata seraya terpejam. Tapi Jojo tahu, di kepala kekasihnya itu tergambar jelas megahnya pernikahan Mbak Ayu. Di desa kecil mereka yang terlampau sederhana, pernikahan mbak Ayu bertahun-tahun lalu serupa pesta yang maha pesta. Tak pernah terbayangkan, belum tertandingi hingga kini.

Saat itu, rumah Mbak Ayu dikelilingi tenda-tenda yang bisa menampung tamu dari kota. Sebuah janur kuning melengkung megah terlihat dari kejauhan. Lengkap dengan panggung kecil tempat seorang artis jelita menyanyi diiringi organ tunggal. Makanan berlimpah ruah, banyak di antaranya belum pernah Jojo dan Naning cicipi seumur hidup. Bahkan ada kue pengantin tiga susun yang menjulang indah, berkrim putih dengan bunga mawar merah muda, ditancapi boneka kecil pasangan pengantin di puncaknya.

Sang pengantin benar-benar serupa ratu dan raja sehari. Kebaya mbak Ayu panjang hingga nyaris menyentuh tumit, brokatnya halus dihiasi payet mutiara berkilau indah. Kainnya batik tulis asli, dijahit tangan dihiasi sulaman benang emas di bawahnya. Sanggulnya jangan ditanya, kuncup melati berderet rapi menghiasi rambut, membuat wajah mbak Ayu yang didandani bertambah ayu berkali-kali lipat.

Naning saat itu masih bocah ingusan. Tapi dia sudah tahu, kelak dia akan menikah, seperti mbak Ayu yang duduk tersenyum di pelaminan berhias bunga-bunga itu, dengan Jojo di sampingnya.

“Serius kamu, Ning? Kayak nikahan mbak Ayu?”

“Iya, Jo, seriuslah.”

“Ya ketinggian dong, Ning,” ujar Jojo lembut. Dia tidak ingin menghancurkan mimpi Naning, tapi karyawan biasa sepertinya tak mungkin membiayai pesta pernikahan semacam itu. Sama saja seperti mencoba menumbangkan sebatang pohon jati dengan sebuah garpu, mustahil!

Walaupun tentu saja Jojo pun sebenarnya memiliki mimpi yang persis sama. Pernikahan mbak Ayu saat mereka bocah itu memang bagai film yang sulit dipercayai bahwa hal itu benar-benar terjadi. Jojo ingat betul, bapak dan emaknya girang bisa ikut berjoget saat si artis akhirnya menyanyikan lagu dangdut kesukaan mereka. Jojo tidak akan bisa lupa saat Mbak Ayu pergi dengan sebuah mobil sedan mengkilap bersama suaminya setelah kemeriahan itu usai.

Dalam hati kecilnya, Jojo kecil berjanji pada sendiri, kelak saat dirinya menjadi lelaki dewasa, dia akan menikahi Naning dengan pesta seperti itu, mengajak Naning pergi dari kampungnya dengan mobil seperti itu.

“Iyalah, Mbak Ayu kan nikah sama anak Pak Camat, Jo.”

“Terus suaminya itu udah jadi pengusaha sukses gitulah, Ning.”

“Iya, Jo. Mbak Ayu juga kan cantik, kulitnya putih, jadi walaupun nggak sekolah tinggi kayak orang kota, tetep aja disukai anaknya Pak Camat ya.”

“Kamu juga kan cantik, Ning.”

“Halah, gombal kamu, Jo!”

“Lho beneran, Ning.”

“Kalau aku cantik beneran ya mestinya ditaksir anak Pak Camat juga kayak mbak Ayu toh?” jawab Naning sambil tertawa. “Nggak apa-apa ya Jo, sekali-kali ngayal.” Kali ini Naning mengedipkan mata. Jojo hanya mengangguk dan kemudian tersenyum.

Sebagai lelaki, harga dirinya seperti sedang dicubit-cubit, perih. Dia tahu betul, Naning hanya becanda, guyon, kekasihnya itu tidak bermaksud membanding-bandingkan dirinya dengan suami Mbak Ayu. Seperti Rasus dan Srintil dalam kisah Ronggeng Dukuh Paruk, Jojo dan Naning sudah merasa berjodoh sejak mereka masih boleh mandi bersama di sungai.

Seperti kisah cinta yang lain, cerita mereka juga memiliki masalahnya sendiri. Tapi Jojo percaya, uang tidak akan pernah menjadi masalah mereka.

“Kira-kira habis berapa juta itu ya, Jo?”

Tapi rupanya pembicaraan kembali pada pernikahan Mbak Ayu yang legendaris itu, dan –kebetulan—melibatkan uang. Jojo hanya bisa tersenyum masam. Rupanya uang memang selalu bisa menjadi biang masalah.

Dia hanya bisa pulang sebulan sekali dari kota tempatnya bekerja, harus naik kereta berjam-jam, berganti angkutan tiga kali lantas menumpang ojek untuk bisa pulang ke kampung. Biasanya dia ke rumah Naning dulu bahkan sebelum pulang ke rumahnya sendiri. Dan baru dua puluh menit dia duduk di beranda rumah Naning, pernikahan mbak Ayu yang mendominasi.

Apakah itu artinya Naning menolak pinangannya?

“Kamu kan tahu sendiri gajiku berapa, Ning,” ujar Jojo akhirnya. Seberapa pun besarnya usaha Jojo membahagiakan hidup Naning kelak saat menjadi istrinya, dia tahu tidak mungkin bisa menyamai kehidupan Mbak Ayu dan suaminya.

Naning diam, tangannya memainkan-mainkan tutup kaleng biskuit oleh-oleh Jojo beberapa waktu lalu, kaleng itu kini hanya berisi keripik singkong buatannya sendiri.
“Meskipun mengontrak rumah petak bersama teman, tetap saja mahal. Belum buat makan sehari-hari, belum buat ngirim ke Ibu untuk sekolah adik-adik.”

“Iya, Jo, ngerti. Di kota semua serba mahal ya.” Tangan Naning kini memegang sehelai kerudung berwarna hijau yang masih terbungkus plastik, ada sulaman cantik di tepi-tepinya, belum pernah Naning melihat kerudung semcam itu di pasar di kampungnya ini. Hingga dia bahkan tidak berani membukanya, hanya meletakkannya di pangkuan, seraya bertanya-tanya sendiri berapa gerangan harga kerudung secantik itu?

“Tapi aku sudah bisa nyicil motor, Ning. Tiga tahun lagi selesai. Habis itu mudah-mudahan gajiku bisa buat nyicil rumah, meskipun kecil.”
Naning kembali diam, hanya menatap blus hijau di pangkuannya.

“Kalau kamu jadi istriku nanti, kamu kan bisa ikut jualan apalah gitu, gorengan atau jajanan buat tetangga-tetangga.”

“Gitu ya, Jo?”

“Kamu mau kerja jadi jongos di kantor kayak aku? Ya boleh saja, nanti aku carikan.”

“Coba dulu kita bisa kuliah ya, Jo.”

“Lho? Ya nggak usah disesali begitu, disyukuri saja masih bisa sekolah toh?” Jojo mulai merasa tidak mengenali Naning lagi. Gadis itu biasanya selalu optimis, menyambut kepulangannya dengan ceria, dan gembira saat keduanya berbincang tentang masa depan. Jojo ingat betul, kalau bukan karena Naning, dia mungkin tidak akan pernah berani hijrah ke kota, memilih menjadi petani di sawah yang tak seberapa banyak seperti bapaknya.

Naning yang menyemangatinya mencoba mencari kerja di kota. Jadi apa saja asal halal. Bahwa ada kehidupan lain yang lebih baik daripada di kampungnya yang terlanjur begitu-begitu saja dari tahun ke tahun. Naning yang membuat Jojo bertahan di kerasnya kehidupan ibu kota. Dan demi Naning juga Jojo menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan mereka kelak.

Tapi kenapa Naning seperti ini sekarang?

“Uang kan bisa dicari, Ning, rezeki sudah ada yang ngatur, gitu katamu dulu kan?”

Naning hanya tersenyum tipis.

“Kalau kamu nggak suka berdagang, di kota kamu bisa jadi guru ngaji kayak di sini, Ning, bisa dapet uang juga dari situ, suka banyak yang nyari guru ngaji privat.”

“Oh? Begitu. Tapi ya paling berapa, Jo. Nggak bisa buat nambahin nyicil rumah toh?”
Rahang Jojo mengeras, dia mulai kesal, kesabarannya semakin menipis. Mungkin ini saatnya dia pamit, pulang ke rumahnya sendiri, mandi dan tidur, untuk kemudian berbincang lagi dengan Naning besok sebelum dia berangkat ke kota lagi.

“Jadi maumu apa, Ning?” tanya Jojo akhirnya, sedikit berbisik, saat didengarnya Bapak Naning yang tadi masih tidur siang terbatuk dari dalam rumah. Dia berencana akan meminta Naning pada kedua orang tuanya di kepulangan berikutnya, tapi bagaimana rencana itu bisa dilakukan jika sepertinya cinta Naning tak lagi seperti dulu?

“Ning?”

“Aku ya masih cinta sama kamu, Jo.”

“Tapi?”

“Sampai kapan pun aku tuh pengennya kalau nikah ya sama kamu.”

“Tapi?”

“Aku juga nggak pernah kepikiran punya suami selain kamu.”

“Tapi?”

“Nggak, aku nggak serius waktu bilang pengen pernikahan kita kayak kawinannya Mbak Ayu, aku ngerti keadaanmu kok.”

“Tapi??!!” Jojo sampai menyeret kursinya mendekati Naning, tak sabar lagi menunggu kalimat ‘tapi’ dari Naning yang entah kenapa tak juga diucapkannya.

Naning menghela napas sebelum menjawab, isaknya sudah mulai terdengar, “Tapi minggu kemarin Bapak sakit, Jo, sampai muntah darah. Aku pinjam sana sini, nggak cukup juga buat berobat ke rumah sakit di kecamatan. Jadi terpaksa meminjam uang ke Pak Lurah walaupun malu. Masih kurang juga. Jadi Pak Lurah minta tolong anaknya, si Mas Arif yang jadi juragan ikan lele itu lho, Jo. Ndilalah katanya si Mas Arif itu dari dulu ternyata naksir sama aku. Jadi Bapak minta aku untuk …”

Jojo langsung berdiri. Naning terlanjur menangis.

Dan seperti kisah cinta yang lain, keduanya tak bisa bersama meskipun –katanya—saling cinta.

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

18 Comments

  1. Arman

    Cinta kalah sama uang ya rin

    Reply
  2. nanangrusmana

    aghhh…..mba Aku hanyut membaca keseluruhan detail cerita di atas….luar biasa gaya penulisannya, saya yakin bisa dapat untuk lomba ini. Bagus beneran. dari segi alur ceritera dan tema yang diangkat dalam segi sosial sudah cukup bisa membuat sangat menarik cerita di atas. Tentang begitu kuatnya dominasi kapitalis dalam membuat perubahan sebuah kesederhanaan menjadi sebuah hal yang kompleks dan rumit dalam menapaki kehidupan. Yah itulah realitanya memang demikian di kehidupan kini. Memilih Hidup dengan Cinta atau Memilih Hidup dengan Realita untuk mendapatkan cinta. Salam..

    Reply
  3. ndu.t.yke

    Bagus bgt mbak….

    Reply
  4. echaimutenan

    akuu…pilih cinta :”)
    auooooo

    Reply
  5. evrinasp

    lah karena uang akhirnya tak jadi memilih cinta *tragisss*

    Reply
  6. Intan N. Kamala Sari (@Inokari_)

    Kaaaakkk, ganti endingnya dong. Aku bapeeeerrr :'(

    Reply
  7. titiesti

    good luck Orin…

    Reply
  8. Annisa Steviani

    atulah sedih T_____T
    tapi ini typo atuh “Kebaya mbak Ayu panjang hingga nyaris menyentuh tumis, … ” TUMIITTTT 😀

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Hahahaha,ya ampuuun, pdhl udh bolak balik baca ngecek typo,aya weeeh nya 😛

      Reply
  9. jampang

    semoga menang, teh

    Reply
  10. Desi

    oalaahhhhh….. maaakkk aku jd ikutan gemes bacanya ama Naning…kasian ama Jojo ..hiks..
    bagus maak ceritanya ;))

    Reply
  11. della

    Udah curiga deh waktu dia pegang-pegang kerudung itu..
    Malang amat sih kalian.. T^T

    Reply
  12. mulyaheart

    Bagus banget ceritanya mbak 🙂 semoga menang ya

    Reply
  13. gerhanacoklat

    money talks yaa
    bagaimana pun naning lebih realistis rin hahhahaa :p

    Reply
  14. dianryan

    cinta dikalahkan oleh uang 🙁 sedih

    Reply
  15. andripoernawan

    Uang buat sebagian yang lain sudah menjadi tuhan… hiks..

    Reply
  16. liannyhendrawati

    Demi Bapak, cinta dikalahkan uang

    Reply
  17. rynari

    Keren Orin, mengaduk emosi membawa ke tepian realitas hidup. Sukses Neng Orin

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: