Rindrianie's Blog

Seragam

Saya baru saja membaca artikel berjudul “Dress for Comfort or Dress for Success” dari seorang Rene Suhardono sang Carier Coach. Kali ini tulisan mengenai bagaimana cara berpakaian seseorang seringkali ‘berbenturan’ antara kenyamanan si pemakainya, dengan kesuksesan yang mungkin diraih. Contoh mudahnya saja, beliau ‘kehilangan’ seorang calon klien, hanya karena datang dengan berjeans ria dan kemeja santai, dan bukannya berdasi+jas layaknya konsultan-konsultan pada umumnya.

Hmm…. ternyata masyarakat kita masih saja “menilai buku dari jilidnya” ya (halah… :P). Tapi lantas saya berpikir, apakah ketika saya memakai blazer (bener ga sih nulisnya? gapede), penilaian orang lain terhadap saya akan berbeda daripada saat saya memakai seragam kantor ini, ya?

Yup, saya (masih) memakai seragam saat bekerja, persis zaman sekolah dulu. Mulai Pak GM hingga mba OG, memakai seragam dengan warna, bentuk dan bahan yang sama. Entah duduk manis meramu data di belakang laptop, atau presentasi di hadapan para ‘petinggi’, hingga mengepel lantai lobby, bahkan sekedar mengantarkan bos-bos Jepang kesana kemari di belakang kemudi, semuaย  orang memakai seragam yang sama.

Mirip foto kelas di album kenangan zaman SMA ya hihihihihi

Betul, kami memakai seragam sebagai pakaian luar saja. Itu artinya semua orang bebas-bebas saja memilih berjenis pakaian sebelum si seragam itu, termasuk jeans dan kaos oblong. Tentu saja tetap berstandar ‘sopan’ ya, bebas tapi bertanggung jawab, serius tapi santai ga malu-maluin hehehe.

Terlepas dari filosofi ataupun konsep dari hampir semua perusahaan Jepang yang (rasanya) pastiย  memberlakukan pakaian seragam seperti ini, saya melihat fenomena seragam ini sebagai sebuah bungkus a.k.a jilid alias cover yang tidak bisa dinilai sembarangan.

Ketika seorang pimpinan teratas memakai pakaian yang kurang lebih sama dengan staf biasa, bukankah pembeda dari mereka berdua hanyalah kinerja, kontribusi, fungsi dan perannya si individu tersebut terhadap perusahaan? Yang tentu saja selanjutnya akan berimbas terhadap perbedaan salary, rumah tinggal, welfare maupun kendaraan pribadi. (Lho? kok malah curcol? hahahaha….)

Maksud saya, mungkin tidak perlu lagi menilai potensi dan kapabilitas seseorang hanya melalui pakaian yang dikenakannya. Kita sepakat Bob Sadino yang selalu bercelana pendek itu adalah orang sukses, bukan? Jadi kalau begitu, mungkin sebetulnya tidak ada korelasi yang terlalu signifikan antara pakaian resmi nan formal dengan sebuah kesuksesan.

Setidaknya bagi saya -dan mungkin teman-teman kantor saya yang lain-, seragam yang harus saya pakai setiap hari di kantor ini, adalah sebuah ‘apresiasi’ perusahaan terhadap potensi dan kapabilitas yang ada di dalam diri saya, sehingga saya dinilai bukan dari cara berpakaian ataupun penampilan luar saya, tetapi dari apa yang bisa saya berikan untuk perusahaan. Semoga ๐Ÿ™‚

my cubicle mates ๐Ÿ˜€

PS : mengetahui phrase “dont judge the book from its cover” versi bahasa latin dalam artikel Rene ini. Fronti Nulla Fides ๐Ÿ™‚


0 Comments

  1. Irranida Hussi

    Sejak berseragam jadi tidak perlu memikirkan pakai baju apa hari ini. ๐Ÿ˜€

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Yup, betul sekali mba. Menyenangkan ya ๐Ÿ˜€

      Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: