Rindrianie's Blog

Still Alice

Rupanya September adalah bulan Alzheimer sedunia ya, temans, saya baru tahu nih. Sejak menonton Grey’s Anatomy saya memang lumayan tertarik dengan Alzheimer ini, ditambah kisah cinta yang manis dari film The Notebook, apalagi waktu itu cerpen saya sempat jadi juara harapan gitu kan ya di lomba menulis bertema Alzheimer *tsaah*.

Maka saat beberapa hari yang lalu ada launching novel Still Alice yang bercerita tentang penderita Alzheimer, saya pun menyengajakan diri hadir. Bertempat di Gramedia Matraman, peluncuran buku ini dilengkapi juga oleh talkshow bersama DY. Suharya (direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia), dan dr. Yuda Turana Kepala Pustikes Unika Atma Jaya). Dan saya pun banyak belajar.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Mbak DY merupakan caregiver bagi Ibunya yang menderita Alzheimer selama kurang lebih 20 tahun ini. Tapi baru beberapa tahun belakang saja, mbak DY dan keluarga tahu kalau ‘penyakit’ yang diderita Ibu adalah Alzheimer, sehingga dengan pemahaman yang cukup, bisa melakukan perawatan-perawatan yang memang diperlukan bagi penderita Alzheimer.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Saya juga sempat bertanya pada Pak dokter Yuda, kenapa risiko perempuan lebih tinggi untuk terkena demensia Alzheimer dibandingkan lelaki. Penjelasan beliau adalah karena saat mencapai usia menopause, hormon estrogen pada perempuan secara drastis tidak lagi diproduksi, hal ini yang menjadi pemicu Alzheimer terjadi, terlebih pada mereka yang memang memiliki gen Alzheimer.

Bagi teman-teman yang ingin lebih tahu tentang Alzheimer, sila kunjungi http://www.alzheimerindonesia.org/ yaa. Banyak informasi tentang Alzheimer di sana. Misalnya saja (yang menjawab rasa penasaran saya selama ini) Alzheimer ini pertama kali dijelaskan oleh seorang ahli saraf Jerman Alois Alzheimer.

Balik lagi ke novel Still Alice, bagi saya novel ini merupakan sarana belajar yang asyik untuk berkenalan lebih jauh dengan Alzheimer. Novel yang ditulis Lisa Genova ini sudah difilmkan, dibintangi Julianne Moore yang meraih Academy Award for Best Actress. Karena saya belum nonton filmnya, mari saya ceritakan sedikit tentang novelnya.

Alice Howland adalah seorang profesor piskologi di Harvard yang merupakan ahli linguistik yang mumpuni. ‘Keanehan’ dalam hidup Alice berawal sejak September 2003, saat Alice mengunjungi putri bungsunya Lydia di Los Angeles dan menginformasikan jadwal penerbangan yang salah.

Alice juga memiliki rasa cemburu dan emosi yang tidak terkendali terhadap suaminya, John, sesuatu yang belum pernah dialami Alice. Tapi Alice menganggap gejala-gejala itu mengacu pada menopause karena usianya yang 50 tahun, maka dia tidak bisa percaya begitu saja saat dokter syaraf memvonisnya terkena serangan dini Alzheimer.

Tapi setelah serangkaian tes neuropsikologi, MRI, bahkan sumsum tulang belakang, seluruh hasilnya membuat dr. Davis yakin, bahwa yang sedang dialami Alice bukan sekadar gejala menopause atau depresi karena pekerjaan, melainkan serangan dini Alzheimer yang progressif. Berita buruk itu diterima Alice pada Januari 2004 (halaman 68-90). 

Penyakit itu betul-betul mengerikan. Alice tersesat di rumahnya sendiri hingga kencing di celana karena tak dapat menemukan di mana toilet. Dia tak bisa lagi mengajar di kelas padahal dia sudah menjadi dosen selama 25 tahun untuk mata kuliah tersebut. Alice juga lupa resep puding yang sudah dibuatnya sejak kecil. Meletakkan novel yang sedang dibacanya ke dalam microwave. Bahkan saat menonton pertunjukan drama, Alice tidak tahu bahwa Catherine di dalam cerita adalah Lydia anaknya (halaman 175-176).

Alice Howland ingin melakukan sesuatu. Dia membuat kelompok dukungan untuk orang-orang yang mengidap Alzheimer seperti dirinya, orang-orang yang akan mengerti dengan baik bagaimana rasanya hidup di dunia asing yang tak lagi dikenali, tapi masih memeliki energi dan fisik yang cukup bugar karena mereka memang belum terlalu tua. Hal ini membuat Alice, pada Maret 2005, berbicara di depan hadirin Konferensi Peduli Demensia.

Dan salah satu bagian dari pidatonya itu berhasil membuat saya mewek dan menghabiskan banyak sekali tisu *halah*.

“Hari-hari kemarin saya sudah menghilang dan hari-hari esok saya tidak pasti, jadi untuk apa saya hidup? Saya hidup untuk setiap harinya. Saya menikmati setiap waktu yang berlalu. Tak lama lagi di masa depan, saya akan lupa bahwa saya berdiri di hadapan Anda dan menyampaikan pidato ini. Tapi, hanya karena saya akan melupakannya kelak, tidak berarti bahwa saya tidak menikmati setiap detiknya hari ini. Saya akan melupakan hari ini, tapi tidak berarti bahwa hari ini tidak berarti.” (halaman 259)

Endingnya? Baca sendiri aja atuhlah ya hihihihi. Saya ingin sekali menonton filmnya, sudah terbayang itu gimana Julianne Moore a.k.a Alice Howland berkisah. Semoga filmnya segera muncul di Fox Premium atau HBO berdoa khusyuk :D.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Ada kah yang sudah baca (atau nonton) Still Alice?

0 Comments

  1. prih

    Oot saja Orin, ada novel mbak Mira W bertajuk sentuhan indah itu bernama cinta, gramedia 2007 berkisah tentang Alzheimer. Sang tokoh pengusaha muda dan bagaimana keluarga berjuang bersama memenangkan ujian ini, recommended lah. Salam hangat

    Reply
    1. Orin (Post author)

      ibuuuuu terima kasih rekomendasinya ya, nanti Orin cari ah

      Reply
  2. ndu.t.yke

    Aku udah nonton Still Alice 🙂

    Reply
    1. Orin (Post author)

      hiks aku belom 🙁

      Reply
  3. Evi

    Ihserem banget, Teh. Mau baca-baca artikel pencegahannya ah…

    Reply
  4. Arman

    Alzheimer itu serem banget ya. Gw nonton Still Alice. Apalagi si Alice kan blm tua tua amat…

    Reply
  5. joeyz14

    Aki pas baca postingan IG mu juga jd penasarn rin. Mau banet ntn Julianne Moore mah… cari dvdnya ahhh

    Reply
  6. adeanit4

    kayaknya aku bakalan suka film ini.. ikut berdoa semoga segera diputar di HBO ah… *pingin nyari novelnya juga

    Reply
  7. Nurul Wachdiyyah

    pengen nonton filmnya. kalo gak salah julian moore dapet nominasi oscar di film ini deh, apa dapet piala oscarnya yak 😀

    Reply
  8. bemzkyyeye

    Gw udah ntn Still Alice 🙂

    Reply
  9. Gustyanita Pratiwi

    jadi pengen bebacaan kayak gini ni, buat pengantar tidur

    Reply
  10. DIJA

    Tante, ada yang bilang kalo orang yang terbiasa baca quran, niscaya resiko terkena penyakit alzeimer ini sangat sangat kecil.

    Reply
  11. Pingback: Still Alice

Leave a Reply

%d bloggers like this: