Rindrianie's Blog

Suara yang tersenyum

Minggu ini -dan pasti minggu depan juga- adalah minggu yang teramat sangat super sibuk. Memang biasa terjadi di akhir tahun begini. Ini juga yang menyebabkan saya tetap harus bekerja saat jam istirahat tanpa bisa ber-blogging ria seperti biasanya. Tapi tak mengapa, kantor saya akan meliburkan karyawan-karyawannya mulai tanggal 24 Desember hingga 2 Januari 2011 nanti. Horreyyy…

Oke, lanjut ya.

Dalam pekerjaan saya, intensitas berinteraksi (lewat telepon, email atau bertemu langsung) dengan orang-orang di luar kantor cukup tinggi. Saya mengenal (maupun dikenalkan) dengan banyak orang untuk project tertentu, bolak balik bertelepon/email ria dengan orang-orang tersebut, sampai sebuah project selesai. Lantas ada project baru, yang mengharuskan saya berkenalan dengan orang-orang baru, bekerja sama dengan mereka hingga project selesai, demikian seterusnya.

Yang ingin saya ceritakan, adalah saat saya menelepon kembali seseorang beberapa hari yang lalu, kita sebut saja Pak Jhony (bukan nama sebenarnya). Entah dalam project tahun kapan, kami pernah sering berkomunikasi mengenai project tersebut. Dan saat project selesai, berhenti pula lah komunikasi kami. Dan sejujurnya, saya sudah tidak ingat lagi bagaimana bentuk rupa Pak Jhony. Saya tidak bisa mengingat apakah Pak Jhony adalah sesosok Bapak-bapak gendut berkumis lebat, atau justru seorang mas-mas jangkung berambut cepak. Sedikit sadis ya hihihi… tapi begitulah. Maafkan saya ya Pak…

Tapi tentu saja nomor telepon beliau masih tercatat di buku telepon kami, dan Pak bos memberitahu saya bahwa untuk project terbaru kali ini, Pak Jhony mungkin bisa membantu kami. Sehingga, saya menyusun strategi untuk menelepon beliau. Saya menyiapkan diri untuk menelepon  seramah mungkin, menjelaskan maksud saya dengan singkat dan jelas, mengingat-ingat harus begini dan tidak begitu bla..bla…bla… Targetnya adalah, apa yang ingin saya tanyakan pada Pak Jhony dalam prosesi bertelepon ini tercapai. Titik.

Saya : Hallo.. Dengan Pak Jhony?

Pak Jhony : Betul Mba.

Saya : Maaf mengganggu ya Pak. Saya Orin, HRS. Udah lama sekali sih, mungkin Bapak sudah lupa saya. Kalau tidak salah ingat, dulu saya…”

Pak Jhony : Iya saya tau dari tadi ini Mba Orin. Saya hafal suara Mba yang tersenyum itu.

Saya : …

Pembicaraan berikutnya lancar jaya tanpa hambatan apapun. Target saya tercapai. Saya sangat terbantu. Pekerjaan saya selesai.

Tapi komentar beliau tadi itu lho, yang masih terngiang hingga sekarang. Kalimat “Suara yang tersenyum” itu, somehow menyenangkan hati saya. Seperti sebuah pengakuan terhadap eksistensi saya. Ya..ya… mulai lebay rasanya. heheh.

Dengan demikian, saya berasumsi bahwa :

  • suara saya lumayan merdu (halah….:P).

  • tidak ada komentar “buset deh, si mba-nya jutek banget” setelah bertelepon dengan saya.

  • saya telah berhasil membuat impresi orang-orang yang saya telepon, untuk selalu mengingat saya.

Well, it’s a good thing, I guess 🙂

Satu hal yang menjadi catatan penting bagi saya, yaitu untuk tetap tersenyum saat bertelepon, karena ternyata, walaupun lawan bicara saya tersebut tidak melihat gerak bibir saya yang membentuk sebuah senyuman, tetapi beliau-beliau itu tetap bisa terasa dengan melihatnya lewat suara saya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: