Rindrianie's Blog

Tentang Buku yang Layak Baca

Seorang teman yang sudah menamatkan membaca novel duet saya #Pulang berkomentar kurang lebih begini “bacaan lo apa, Rin?”. Pertanyaan tersebut tidak terlalu mengejutkan tentu saja, karena toh sebagian besar pekerjaan menulis sesungguhnya memang, adalah membaca. Jadi mungkin, maksud terselubung pertanyaan sang teman tersebut adalah apa yang saya baca sehingga saya akhirnya menulis semacam demikian (entah itu bagus atau tidak ya heuheu), tapi setidaknya novel #pulang -menurut pendapat teman saya itu- adalah jenis buku yang layak baca. Huwaaah! terharu.

Tapi sebelum saya lanjutkan, sok atuh yang belum order novel #pulang silakan lho ya, saya tunggu sampai kapan pun pokonya mah hihihihi. Infonya bisa dibaca di link ini, atau kalau mau japri saya juga boleeeeeh ;).

Oke, mari kita lanjutkan tentang buku yang layak baca ya. Saya tidak memasukkan #Pulang ke dalam kategori buku yang layak baca tentu saja, karena saya tidak bisa berperan sebagai penulis dan pembaca sekaligus, seperti hakim dan terdakwa yang tidak mungkin duduk di kursi yang sama *apasih. Ah sudahlah, mengertilah ya maksud saya apa :P.

Buku yang Saya Baca

Tentang buku apa saja yang saya baca ini sebetulnya sedikit sulit dianalisa, karena jawabannya super random, saya hampir baca buku apa ajaaaa hihihihihi. Oh iya, definisi ‘buku’ dalam postingan ini adalah buku fiksi ya, novel atau kumpulan cerpen/puisi. Saya seringkali memilih buku hanya karena penasaran dengan judulnya, Kukila misalnya, yang membawa saya berkenalan dengan M. Aan Mansyur. Atau bahkan yang lebih konyol, karena suka dengan desain kavernya, seperti saat saya membaca novel Remember When-nya Winna Efendi misalnya.

Biasanya, saat saya suka karya seorang penulis, saya akan membaca karya-karyanya yang lain. M. Aan Mansyur dan Winna Efendi termasuk di antaranya, meski tidak semua karya mereka saya koleksi. Atau contoh yang paling dekat, saya baru saja menamatkan Novel “Burung-burung Manyar” karya Y.B. Mangunwijaya beberapa hari yang lalu, saya suka novel itu, dan sudah order di tokbuk online untuk novelnya yang lain.

 

Menikmati #Burung-burungManyar ditemani sepiring cakwe 😁

A post shared by Rinrin Indrianie (@neng_orin) on

Lantas apakah jika saya tidak (atau kurang menyukai) karya penulis tertentu, saya akan mem-black list nama penulis tersebut? Jawabannya adalah Ya dan Tidak *halah. Saya tidak bisa menyebutkan nama sih ya, tapi memang ada beberapa penulis yang -entah bagaimana- memang tidak bisa memenuhi selera saya, jadi keingintahuan saya terhadap karya-karya mereka pun nyaris tidak ada setelah mencoba membaca salah satu karya dan tidak menyukainya. Ada juga yang saya coba baca berkali-kali karena rekomendasi teman atau review-review penuh bintang dari sebuah karya dan atau penulis tertentu, tapi biasanya sih ya gitu deh … kalau sudah masalah selera yang susah kan ya :D.

Saya juga sering mencari tahu bacaan-bacaan dari penulis yang saya kagumi. Kalau si penulis punya blog, saya akan intipin blognya untuk mencari tahu dia membaca buku apa, atau yang paling mudah, stalking di medsos deh hihihihi. Buat saya, buku yang mereka baca (dan mereka menyukainya) adalah rekomendasi bagus untuk juga saya baca, meskipun belum tentu saya juga suka ya he he. Tapi setidaknya, saya bisa ‘menyamakan diri’ dengan beliau-beliau panutan saya itu.

Saya pernah mengikuti workshop yang pembicaranya adalah Leila S. Chudori dan Iwan Setiawan. Seorang audience bertanya hal yang sama pada mbak Leila, buku-buku apa saja yang mbak Leila baca. Dan saat Mbak Leila menjawab si A si B si C (yang saya ingat cuma Fyodor Dostoevsky :P), Mas Iwan berseru dengan riang “ya ampuuun, seneng banget bacaanku sama dengan mbak Leila!” hihihihi. Padahal ya, novel 9 Summers 10 Autumns mungkin jauh lebih terkenal (karena dibuat juga filmnya) daripada novel Pulang milik Leila. S. Chudori, tapi Mbak Leila adalah penulis senior yang memang sudah mumpuni, dan mas Iwan (yang sudah jadi penulis terkenal sekalipun) gembira banget lho punya bacaan yang sama dengan mbak Leila :D.

Jadi saya sedang berjuang mencari novel Moby Dick karya Herman Melville karena itu adalah salah satu bacaan favorit Eka Kurniawan *sigh.

Tidak Ada Buku yang Jelek

Yang ada adalah buku yang membosankan untuk dibaca hingga tuntas ups hahahahaha.

Saya ingat betul nasihat bijak seorang Eka Kurniawan, bahwa misi suci seorang penulis adalah memaksa pembaca untuk membaca tulisan kita dari huruf pertama hingga titik di halaman terakhir. Kalau misi suci tersebut tidak tercapai, kelar hidup lo! ya berarti … begitulah ya *mbulet qiqiqiqi.

Tapi ungkapan “tidak ada buku yang jelek” itu benar kok, teman-teman. Setidaknya bagi saya yang ingin sekali menjadi seorang penulis, saya bisa belajar banyak dari buku-buku tersebut bagaimana untuk tidak melakukan hal yang sama semacam demikian (baca: terlampau tidak menarik untuk dibaca atau membosankan teramat sangat).

Meskipun kadang saya ini ngeyelan, sudah tahu novel itu bukan selera saya, baca beberapa halaman pun sudah terasa membosankan, tapi teteeeup weh dibaca sampai habis hihihihi. Biasanya memerlukan waktu yang lama tentu saja (karena tersalip buku-buku lain yang jauh lebih menarik), tapi jarang sekali saya tidak menuntaskan sebuah buku.

Jadi, Buku yang Layak Baca Itu yang Bagaimana?

Yang bermanfaat, yang memiliki hikmah setelah membacanya, yang membawa kebaikan. Errrr… entah ya, jawaban saya tidak seperti itu hihihihi. Buat saya, buku yang menarik itu adalah buku-buku yang ditulis dengan baik, memiliki cerita (dalam hal ini plot) yang membuat saya penasaran untuk terus mengikuti hingga tamat, lengkap dengan karakter-karakter kuat yang ‘hidup’ di sepanjang cerita, dikisahkan dengan kata-kalimat-ungkapan sederhana yang lezat untuk dinikmati.

Well, meskipun tetap balik lagi ke masalah selera itu tadi sih. Toh seseorang yang menyukai karya-karya Stephen King misalnya, mungkin tidak berselera membaca J.K. Rowling. Ya gimanalah penyuka bakso disuruh makan pempek ya nggak? Sekali dua kali mungkin tidak apa-apa, tapi pastilah akan kembali ke selera asal kan ya? *kok jadi kayak iklan apaaa gitu ya hahahaha.

Ya sudah begitu saja racauan hari ini. Kalau menurutmu buku yang layak baca itu yang gimana kah, temans?

3 Comments

  1. Arman

    emang biasanya kalo kita suka sama satu buku jadi pengen baca buku2 lain dari penulis yang sama ya. tapi sayangnya ada penulis2 yang buku nya isinya sama semua. yah walaupun emang setiap penulis pasti punya ciri khas, tapi kalo sampe bener2 terlalu sama ya jadi bosen.

    kejadian sama ika natasha. gua baca critical eleven suka. tapi setelah baca2 buku2 dia lainnya, lha kok semuanya sama isinya. sampe bosen. hahaha.

    Reply
    1. Orin (Post author)

      Ika natasha aku pertama kali baca yg Antologi Rasa itu, mas, suka. trus baca berikutnya apaaa gitu lupa dan ga suka, jd ga pernah baca lg *ups* hhihihi

      Reply
  2. infoana

    rasa ini rasa itu, ingin ini ingin itu, setidaknya waktu kosong sempatilah untuh baca buku… okelah kalau begitu…

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: